Pemprov Lampung Sosialisasi 800 Ribu Peluang Kerja ke Jepang

2026-02-12T18:33:05.000Z

Penulis:Eva Pardiana

1002545538.jpg
Pemerintah Provinsi Lampung menyosialisasikan peluang kerja sektor konstruksi di Jepang kepada siswa SMA/SMK se-Provinsi Lampung di SMAN 2 Bandar Lampung, Kamis (12/2/2026).

BANDAR LAMPUNG – Pemerintah Provinsi Lampung menyosialisasikan peluang kerja sektor konstruksi di Jepang kepada siswa SMA/SMK se-Provinsi Lampung di SMAN 2 Bandar Lampung, Kamis (12/2/2026).

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan Jepang membuka peluang besar bagi tenaga kerja asing, termasuk dari Indonesia. Ia menyebut terdapat sekitar 800 ribu lapangan pekerjaan terbuka setiap tahun di berbagai bidang di Jepang.

Menurutnya, berdasarkan penilaian mitra Jepang, tenaga kerja Indonesia dinilai paling sesuai dari sisi budaya, karakter, kemampuan beradaptasi, dan komunikasi.

“Budaya dan karakter yang paling cocok untuk bekerja dan beradaptasi di Jepang adalah tenaga kerja dari Indonesia,” ujar Mirza.

Ia menyampaikan, banyak pekerja migran Indonesia yang sukses setelah kembali dari Jepang. Selain memperoleh penghasilan, mereka juga membawa pengalaman, penguasaan teknologi, dan wawasan yang dapat menjadi investasi jangka panjang untuk membangun daerah.

“Enam sampai tujuh tahun bekerja, mereka pulang dan bisa membuka usaha di Indonesia,” katanya.

Pemprov Lampung menargetkan pengiriman lulusan SMA/SMK melalui program terstruktur. Saat ini sekitar 8.500 siswa di Lampung tercatat berminat bekerja dan belajar di Jepang.

“Yang kita kirim adalah generasi terbaik dari Provinsi Lampung,” tegasnya.

Gubernur juga berpesan agar para siswa menjaga nama baik daerah dan bangsa dengan menunjukkan karakter positif seperti ramah, disiplin, dan semangat kerja. Pemprov, lanjutnya, akan memonitor dan mendampingi para peserta selama bekerja di Jepang.

Director General of the Cabinet Secretariat Minister of Land, Infrastructure, Transport and Tourism (MLIT) Jepang, Hirashima Masafumi, menyampaikan sektor konstruksi Jepang menghadapi tantangan penuaan tenaga kerja. Saat ini sekitar 5.000 pekerja konstruksi asal Indonesia telah bekerja di Jepang.

Ia menjelaskan, pemerintah Jepang menargetkan penerimaan sekitar 80.000 tenaga kerja asing hingga Maret 2029 melalui skema Specified Skilled Worker (SSW). Sektor konstruksi disebut sebagai salah satu bidang dengan gaji tertinggi bagi pekerja berketerampilan khusus.

Pemerintah Jepang juga menerapkan standar kuota, sistem pengupahan bulanan, pengembangan karier, serta peningkatan lingkungan kerja melalui otomatisasi dan digitalisasi i-Construction 2.0.

“Kami akan terus mempertahankan lingkungan kerja yang aman dan nyaman bagi pekerja asing,” ujar Hirashima.

Perwakilan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), Apri Danar Prabowo, menyatakan kerja sama ketenagakerjaan Indonesia–Jepang semakin kuat melalui skema government to government. Berdasarkan survei, Jepang menjadi negara tujuan utama masyarakat Indonesia untuk bekerja di luar negeri, disusul Jerman.

Apri menegaskan dua fokus utama pemerintah, yakni optimalisasi pelindungan pekerja migran dan peningkatan kompetensi. Ia mengapresiasi program kelas migran Pemprov Lampung yang dinilai dapat direplikasi di daerah lain.

Menurutnya, kesiapan bekerja di Jepang tidak hanya mencakup kemampuan bahasa, tetapi juga kompetensi teknis, sertifikasi, soft skill, disiplin, pemahaman budaya kerja, serta kepatuhan terhadap standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Melalui sinergi Pemprov Lampung, Pemerintah Jepang, dan KP2MI, program ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan pasar kerja Jepang sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia Lampung. (*)