Keterbukaan Perusahaan Indonesia Terhadap ESG Masih Dibawah 50 Persen

2023-08-10T06:07:36.000Z

Penulis:Yunike Purnama

Editor:Redaksi

Environmental, Social and Governance (ESG) menjadi suatu konsep yang memprioritaskan pembangunan, investasi, dan bisnis yang berkelanjutan
Environmental, Social and Governance (ESG) menjadi suatu konsep yang memprioritaskan pembangunan, investasi, dan bisnis yang berkelanjutan

JAKARTA - Environmental, Social and Governance (ESG) menjadi suatu konsep yang memprioritaskan pembangunan, investasi, dan bisnis yang berkelanjutan. Hal itu dengan memperhatikan tiga faktor utama yaitu lingkungan, aspek sosial, dan tata kelola. 

Dalam semua bentuk aktivitas dan pengambilan keputusan, penting untuk sepenuhnya menerapkan prinsip pelestarian lingkungan, tanggung jawab sosial, dan tata kelola yang efektif.

Guru Besar di IPMI International Business School Roy Sembel menyatakan penerapan prinsip ESG dapat memberikan dampak positif pada kinerja bisnis dan keberlanjutan perusahaan.

Bukti dari penelitian Oxford menunjukkan bahwa implementasi ESG dapat meningkatkan kinerja bisnis perusahaan hingga 88% dan menyebabkan harga saham emiten perusahaan meningkat sebesar 80%.

Selain itu, Roy mengutip hasil riset dari Nasdaq yang menunjukkan program ESG akan membuka akses ke modal yang signifikan bagi perusahaan. “Penerapan ESG juga memiliki dampak positif pada citra merek perusahaan,” ujar Roy dikutip dari laman Kementerian Keuangan, Senin 7 Agustus 2023.

Ketua Komite Nasional Kebijakan Governansi (KNKG) Mas Achmad Daniri menyatakan tingkat keterbukaan ESG di Indonesia saat ini diperkirakan masih kurang dari 50%. “Dibandingkan dengan negara-negara lain, tingkat penerapan ESG di Indonesia masih rendah,” ujarnya saat dihubungi TrenAsia.com belum lama ini. 

Pada tahun 2019, Indonesia berada di peringkat ke-36 dunia dalam hal ESG, di bawah negara-negara seperti Filipina, Singapura, Malaysia, dan India. Oxford Business Group (OBG) dan PwC Indonesia belum lama ini menerbitkan sebuah laporan pengawasan mengenai ESG. 

Laporan itu mengevaluasi potensi penerapan ESG pada tingkat ekonomi nasional, organisasi, dan investor. Laporan ESG memberikan analisis mendalam tentang prioritas pertumbuhan jangka panjang Indonesia, serta menilai sejauh mana keselarasannya dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG’s). 

Selain itu, laporan ini juga menguraikan tantangan dan peluang yang ada dalam format yang mudah diakses dan dinavigasi. Menurut Achmad, penting untuk diingat bahwa ESG menawarkan peluang dan risiko seiring perubahan preferensi konsumen. “Hal ini menciptakan peluang paling menonjol untuk nilai tambah,” ujarnya.

Seiring dengan meningkatnya permintaan penerapan ESG, Achmad mengatakan bisnis di Indonesia memiliki kesempatan untuk menciptakan pendapatan baru dari kredit karbon.(*)