IHSG Dibuka Anjlok Nyaris 3 Persen, Ini Penyebabnya

2022-05-09T10:00:55.000Z

Penulis:Yunike Purnama

Editor:Yunike Purnama

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah mengawali perdagangan Senin, 9 Mei 2022.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah mengawali perdagangan Senin, 9 Mei 2022.

 

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah mengawali perdagangan di pagi ini, Senin, 9 Mei 2022. IHSG dibuka melemah turun 83,811 poin (1,16 persen) ke 7.145,103.

Laju IHSG terus merosot. Pada pukul 09:05 WIB, IHSG bahkan merah turun 210,134 poin (2,91 persen) ke 7.018,780. Indeks LQ45 juga merah, kehilangan 33,240 poin (3,05 persen) ke level 1.052.

Hasil riset PT Panin Sekuritas menunjukkan IHSG melemah disebabkan kekhawatiran terkait tren meningkatnya inflasi, antisipasi perlambatan ekonomi, serta melemahnya harga komoditas seperti minyak mentah sawit (crude palm oil/CPO).

“Rilis laporan keuangan menunjukkan perlambatan juga menjadi katalis negatif. Harga CPO turun 5,14 persen setelah media India The Financial Express menilai Indonesia tidak memiliki cukup tangki untuk menampung hasil produksi,” tertulis dalam risetnya, Senin, 9 Mei 2022.

Adanya lockdown di China berdampak pada permintaan CPO karena China merupakan importir terbesar CPO kedua dunia setelah India.

Sementara itu, hasil analisis Indo Premier Sekuritas menunjukkan inflasi diperkirakan akan mengalami kenaikan karena faktor seasonal Idul FItri. Tekanan juga terjadi karena melemahnya rupiah pasca larangan ekspor CPO akhir bulan lalu.

“Naiknya ekspor karena lonjakan harga komoditas, peningkatan aktivitas masyarakat yang membuat peningkatan demand dan konsumsi, menjadi faktor pendorong utama,” ungkapnya.

Di sisi lain, pengamat pasar modal dari MNC Asset Management Edwin Sebayang mengatakan sentimen negatif juga datang dari naiknya yield obligasi AS merespons naiknya suku bunga AS (FFR) sebesar 50 bps seperti tenor 10 tahun naik 11,18 persen ke level 31.42 persen, serta turunnya harga beberapa komoditas seperti CPO turun 6,02 persen dan Nikel 8,61 persen.

Indeks di Wall Street didorong tekanan jual, lanjut Edwin, seperti DJIA turun 1,21 persen, Indeks Nasdaq turun lebih dalam sekitar 2,74 persen, dan EIDO turun 0,72 persen.(*)