Gandeng Muhammadiyah, BSI Perkuat Inklusi dan Penetrasi Keuangan Syariah

2022-08-15T17:12:54.000Z

Penulis:Yunike Purnama

Editor:Yunike Purnama

Ilustrasi layanan BSI.
Ilustrasi layanan BSI.

JAKARTA - Guna meningkatkan inklusifitas dan penetrasi keuangan syariah di Indonesia, Bank Syariah Indonesia (BSI) menggandeng PP Muhammadiyah untuk bekerja sama.

Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengatakan, kerja sama tersebut sekaligus untuk membantu pelaku UMKM yang ada di bawah naungan PP Muhammadiyah agar bisa naik kelas (up scale) dan menumbuhkan minat masyarakat yang ingin menjadi wirausaha.

"Kami selalu terbuka untuk bekerjasama dalam upaya meningkatkan literasi dan inklusifitas dengan Muhammadiyah sebagai mitra strategis," katanya dalam keterangan resmi dikutip Senin, 15 Agustus 2022.

Hery menjelaskan, organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah yang berdiri sejak tahun 1912 merupakan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia yang memiliki berbagai jenis usaha, mulai dari masjid, sekolah, universitas, hingga rumah sakit, yang bermanfaat bagi masyarakat.

Pihaknya percaya, bahwa sinergi dengan organisasi Islam terbesar di Indonesia yakni Persyarikatan Muhammadiyah dapat mengakselerasi literasi keuangan.

"Kami berharap sinergi dengan PP Muhammadiyah ini akan terus berlanjut sehingga peran BSI dapat memberikan manfaat seluas-luasnya bagi kebangkitan umat melalui optimalisasi implementasi ekonomi keumatan yakni ekonomi syariah," jelas Hery.

Adapun beberapa poin kerja sama antara BSI dan PP Muhammadiyah, yakni pelayanan cash management mencakup solusi pengelolaan likuiditas (liquidity solution) dan solusi penerimaan/tagihan (receivable solution).

Selain itu solusi pembayaran/pengeluaran (payable solution), solusi digitalisasi transaksi termasuk layanan virtual account yang memudahkan, dan layanan Ziswaf.

Pemanfaatan produk-produk dana dan pemanfaatan produk-produk pembiayaan yang berdasarkan prinsip syariah dari BSI dalam rangka pengembangan usaha PP Muhammadiyah maupun dalam rangka mendukung kelancaran pengembangan Amal Usaha Muhammadiyah.

"BSI dan Muhammadiyah juga berkolaborasi untuk pengembangan kemandirian ummah diantaranya Pengembangan Komunitas Usaha Mikro Kecil dan Menengah melalui kerjasama pelatihan, workshop pengembangan ekonomi berbasis syariah, pengembangan masjid dan kegiatan sosial lainnya," ujar Hery.

Lebih lanjut, berdasarkan data, BSI menorehkan capaian positif pada triwulan I/2022 dengan membukukan laba bersih mencapai Rp987,68 miliar atau naik 33,18 persen secara year on year (YoY). Dari sisi penyaluran pembiayaan sebesar Rp177,51 triliun atau tumbuh 11,59 persen secara year on year.

Sementara itu, untuk perolehan dana pihak ketiga mencapai Rp238,53 triliun tumbuh sekitar 16,07 persen secara year on year. Dari sisi asset, pertumbuhan aset sebesar 15,73 persen secara year on year menjadi Rp271,29 triliun.

Beberapa capaian ini menjadi semangat BSI untuk mengembangkan ekspansi bisnis selain di Indonesia, saat ini BSI tengah mendorong penetrasi di Timur Tengah, khususnya Dubai.

BSI juga menyalurkan pembiayaan untuk segmen UMKM mencapai Rp40,8 triliun nasional dengan kualitas pembiayaan yang sangat baik. Nilai tersebut sekitar 23,05 persen dari total portofolio pembiayaan BSI.

Sementara itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengungkapkan, bila kerja sama antara PP Muhammadiyah dan BSI bisa membuat roda perekonomian umat berjalan lebih progresif.

Setidaknya ada dua hal yang menjadi perhatian Haidar, pertama adalah bagaimana Muhammadiyah dan BSI bisa meningkatkan dan mempercepat kekuatan ekonomi umat. Muhammadiyah memiliki Amal Usaha yang bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi dan lainnya. Amal Usaha kita punya karakter tapi berbasis amal, artinya keuntungan dimanfaatkan untuk kepentingan pemberdayaan dan kemajuan masyarakat.

"Ke depan harus ada langkah yang lebih progresif, usaha makin produktif dan memberi manfaat bagi umat dan bangsa. Kerja sama ini diharapkan makin memperkuat kita untuk menjadi kekuatan umat, progresif dan inti kebangkitan ekonomi umat Islam. Maka kerja sama ini merupakan instumen untuk mempercepat dan memasifkan gerakan itu. Sehigga ke depan Muhammadiyah bisa menjadi kekuatan umat," tutur Haidar.

Kedua, lanjut Haidar, BSI harus bisa memanfaatkan potensi besar umat Islam untuk bisa meningkatkan kesejahteraan umat. Menurutnya, saat ini umat Islam di Indonesia masih menjadi konsumen dan belum menjadi pelaku kegiatan ekonomi.

"Kita harus bisa mengangkat dari saudara menjadi saudagar," pungkas Haidar. (*)