BI: Industri Syariah dan Halal Tetap Resilien Selama Pandemi Covid-19

2022-03-15T10:26:28.000Z

Penulis:Yunike Purnama

Editor:Yunike Purnama

Perkembangan industri syariah atau halal sangat berkontribusi kepada performa ekonomi Indonesia secara keseluruhan.
Perkembangan industri syariah atau halal sangat berkontribusi kepada performa ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

JAKARTA – Industri nasional di sepanjang tahun 2021 terus mengalami tantangan dengan pandemi Covid-19 dengan berbagai variannya. Meskipun demikian, Bank Indonesia (BI) mengungkapkan industri syariah dan halal masih tetap kuat dan bertumbuh selama masa pandemi. 

Juda Agung selaku Deputi Gubernur BI mengungkapkan, perkembangan industri syariah atau halal sangat berkontribusi kepada performa ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Hal ini juga sejalan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat dan aktivitas bisnis nasional.

“Tahun lalu, pertumbuhan sektor halal terbesar, seperti makanan halal, pakaian muslim, dan wisata muslim mencapai 2,1%. Hal ini sejalan dengan kontribusi ekonomi syariah kepada GDP nasional,” jelas Juda secara virtual pada Senin, 14 Maret 2022.

Ia menjelaskan, Bank Indonesia, Pemerintah, dan Regulator lain terus bersinergi dalam pengembangan industri halal Indonesia. Tujuannya agar setiap pemangku kepentingan memiliki semangat yang sama dalam meningkatkan industri syariah dan halal nasional.

Lebih jauh, Juda mengungkapkan saat ini Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) terus berupaya dalam meningkatkan sektor ekonomi halal. Salah satunya adalah melalui Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia (MEKSI) 2019-2024.

Adapun rencana ini memfokuskan penguatan industri halal pada 4 hal, yaitu memperkuat pada sektor potensial dan kompetitif, memperkuat sektor keuangan syariah, serta memperkuat UMKM sebagai lokomotif utama dari rantai pasok halal, memperkuat ekonomi digital, terutama melalui e-commerce, marketplace, dan fintek untuk mendorong dan mempercepat pencapaian strategi lain. (*)