Yuk, Kenali Dulu Produknya Sebelum Berinvestasi

Yunike Purnama - Sabtu, 05 Desember 2020 17:00
Yuk, Kenali Dulu Produknya Sebelum BerinvestasiIlustrasi. (sumber: Pixabay)

Kabarsiger.com - Investasi merupakan bagian dalam perencanaan masa depan yang berkualitas. Sayangnya, banyak yang belum mengetahui jenis dan proses investasi sehingga enggan memulainya.

Tren investasi di Indonesia semakin berkembang seiring dengan kemajuan teknologi digital. Masyarakat seolah dimanjakan dengan berbagai kemudahan untuk menyimpan sebagian kekayaannya dalam bentuk investasi.

Investasi adalah cara untuk mengembangkan aset atau melipatgandakan kekayaan. Jika uang yang dihasilkan hanya dari pendapatan, misalnya dari bisnis atau gaji hanya disimpan, nilai uang akan tergerus inflasi.

"Apabila seseorang memilih untuk menabung saja tanpa harta yang dikumpulkan hampir pasti akan terkena inflasi. Sementara dengan investasi, dan berbagai instrumen yang bisa dipilih, kita bisa menaikkan return-nya di atas nilai inflasi,"jelas pengamat ekonomi Tauhid Ahmad.

Saat ini, ada berbagai macam model instrumen investasi yang bisa dipilih oleh para calon investor. Antara lain saham, emas, obligasi, properti, deposito, dan reksadana. Tentunya, model investasi ini memiliki jangka waktu, tingkat risiko, dan modal pengembalian atau return on investment (ROI) yang beragam.

Bagi Anda yang lebih menyukai investasi jangka panjang, emas atau logam mulia (LM), obligasi, properti dan reksadana tentu bisa dijadikan pilihan. Menurut Tauhid, pilihan investasi ini memiliki tingkat risiko rendah sampai sedang.

Investasi properti misalnya, memang bisa memberikan pendapatan yang besar. Tapi, bukan berarti kita bisa menginvestasikan seluruh dana ke instrumen ini. Sebab, nilai properti akan mengikuti inflasi, sehingga selalu ada risiko kerugian yang dialami, meskipun harga properti cenderung mengalami kenaikan setiap tahunnya.

"Properti merupakan tipe investasi jangka panjang, sehingga tidak dapat menuai keuntungan dalam waktu cepat. Sebaiknya jika ingin berinvestasi ini harus ada dana khusus, jangan mengganggu dana pendidikan anak atau dana darurat," tegasnya.

Bila Anda ingin mendapatkan keuntungan rutin per bulan atau per tahun dari investasi properti, maka properti itu bisa disewakan. Rumah kontrakan atau indekos bisa jadi model investasi yang cocok.

Dia mengingatkan, sebaiknya memilih lokasi yang strategis untuk mendapatkan properti. Tujuannya agar tidak kesulitan dalam mencari konsumen. Misalnya, bila ingin membuka kamar-kamar indekos, maka pilihlah lokasi yang dekat dengan kampus atau perkantoran.

Bila ingin menuai untung besar dari investasi properti, maka lebih baik membeli rumah atau properti di daerah yang sedang berkembang. "Harga propertinya masih murah, jadi saat 10 tahun ke depan bisa untung besar," tutur Tauhid.

Sedangkan bagi yang lebih menyukai investasi jangka pendek, bisa memilih saham, tabungan, deposito, forex trading, dan saham. ini dianggap pilihan yang tepat untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek, namun tingkat urgensinya tinggi.

"Karena jangka waktunya pendek, maka efek compounding tidak begitu terlihat signifikan dan secara nyata rentan terhadap inflasi karena valuasinya bisa saja tidak mampu menyaingi tingkat inflasi tahunan," jelasnya.

Sementara itu, dengan banyaknya pilihan investasi masih banyak para investor pemula yang merasa terjebak dengan pilihan investasinya.

Menurut perencana keuangan Ahmad Gozali, kesalahan yang paling umum terjadi pada investor pemula, mereka keliru dalam memilih produk, masuk di dalamnya, dan bingung dengan pilihannya.

"Harus ada tujuan terlebih dahulu saat memilih produk investasi," katanya.

Jika pilihan investasi Anda adalah properti ataupun emas, membuat financial planning (perencanaan keuangan) yang tegas dan jelas pada awal akan sangat membantu.

Terlebih, investasi emas bersifat likuid, Anda bisa menyimpan dan mencairkannya kapan saja. Kemudahan inilah yang bisa mengacaukan investasi jika Anda tidak disiplin menggunakan dana yang diinvestasikan.

"Investasi tergantung tujuannya, jika tujuan dengan emas sebagai cadangan biaya pendidikan anak selama 18 tahun ke depan, untuk mendapatkan target besar, ya jangan dicairkan hingga 18 tahun mendatang," jelasnya.

Yang jelas, dibutuhkan kedisiplinan agar lebih bijak menggunakan dana investasi. Kembali lagi dengan tujuan awalnya dan perencanaan keuangan, karena ini akan menentukan keberhasilan investasi tersebut. Jika rencana keuangan sudah ditetapkan jelas, akan lebih mudah untuk menentukan pilihan produk investasi.

Ahmad mengatakan, belum semua orang memahami bahwa investasi sesungguhnya tidak bertujuan menumpuk-numpuk harta. Prinsipnya sama dengan menabung. Hanya, melalui investasi, kita mengharapkan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi.

"Tujuaannya agar nilai aset yang dimiliki terus naik dan tidak tergerus inflasi di masa depan," ungkapnya.

Keputusan tersebut juga perlu diiringi dengan strategi dan perencanaan tepat guna agar mencapai tujuan keuangan yang diinginkan. (*)

Bagikan
Yunike Purnama

Yunike Purnama

Lihat semua artikel

RELATED NEWS