Pengusaha UMKM Pilih Jualan di Sosial Media Ketimbang di Platform E-commerce
Yunike Purnama - Sabtu, 15 Februari 2020 17:14
Salah satu UMKM menjual produk khas Lampung (sumber: Vera Afrianti / Kabarsiger.com)Kabarsiger.com, Jakarta - Keinginan pemerintah agar pelaku usaha yang berjualan di sosial media berpindah ke platform e-commerce rasanya sulit terwujud. Sebab, pelaku UMKM merasa lebih mudah berjualan melalui sosial media ketimbang bekerja sama dengan situs belanja online kenamaan.
Kepala UKM Center Universitas Indonesia, Zakir Sjakur Machmud mengatakan, penjualan melalui sosial media juga lebih efektif bagi para pelaku UMKM. Sebab produk UMKM harus bersaing dengan barang impor yang harganya lebih murah jika dijual melalui situs belanja online.
Hal ini merujuk beberapa studi yang pernah dibacanya. Meski pasar pelaku UMKM lebih kecil, tetapi penjualannya lebih efektif.
"Walaupun skala kecil, lebih efektif jualan di sosmed dibandingkan e-commerce," kata Zakir di Jakarta, Jumat (14/2).
Dalam pandangan Zakir, konsumen biasanya membeli produk melalui sosial media karena akun online shopping memiliki banyak pengikut (followers). Selain itu, pelaku UMKM juga bisa berkreasi dengan desain atau tampilan produk.
Cara ini juga dipilih karena pelaku UMKM tidak terikat aturan yang ditetapkan oleh e-commerce. Sehingga mereka lebih leluasa dalam berjualan.
Manajer Pelatihan UKM Center Universitas Indonesia, Fahnia Chairawaty menambahkan, pelaku UMKM yang berjualan melalui media sosial merasa lebih dekat dengan para calon konsumennya. Sementara jika berjualan di e-commerce, mereka merasa berjarak dengan konsumen.
"Ini sifatnya tidak subtitusi tapi komplementer," kata Fahnia.
Lahirnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 80 Tahun 2019 tenatang Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE) juga membuat pengusaha UMKM ketar-ketir. Ini menambah keengganan mereka pindah ke e-commerce.
Berlakunya PP tersebut membuat pelaku usaha takut dikenakan pajak yang nantinya berakibat berkurangnya pendapatan.
Meski begitu beberapa dari mereka juga tidak alergi e-commerce. Bahkan memanfaatkan e-commerce sebagai trik agar lebih dipercaya konsumen. Mereka kerap mencantumkan tautan (link) toko yang dimiliki di akun sosial media. "Jadi ini juga cara menambah kepercayaan pelanggan," kata Fahnia. (*)

