Inflasi Lampung Agustus 2026 Capai 0,23 Persen, Beras dan Ayam Jadi Pemicu
Yunike Purnama - Kamis, 03 September 2026 07:50
(sumber: null)BANDAR LAMPUNG — Harga sejumlah kebutuhan masyarakat kembali mengalami kenaikan pada Agustus 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Lampung mengalami inflasi sebesar 0,23 persen secara bulanan (mtm), setelah pada bulan sebelumnya justru mengalami deflasi 0,49 persen.
Kepala KPw Bank Indonesia Lampung Bimo Epyanto mengatakan, “Secara tahunan, inflasi Lampung mencapai 3,53 persen (yoy). Angka ini berada di atas inflasi nasional yang tercatat sebesar 3,19 persen,” ujarnya dalam keterangan resmi Kamis (3/9).
Meski demikian, BI menilai perkembangan inflasi daerah masih terkendali dan diprakirakan tetap berada dalam sasaran inflasi nasional 2,5 persen ± 1 persen hingga akhir 2026.
Kenaikan inflasi pada Agustus terutama berasal dari kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau. Sejumlah komoditas pangan menjadi penyumbang utama, yakni beras dengan andil inflasi 0,09 persen, daging ayam ras 0,05 persen, kacang panjang 0,05 persen, dan jagung manis 0,04 persen secara mtm.
- Rakor Optimalisasi PAD Sumut, Jasa Raharja Dorong Penguatan Sinergi
- Panduan Memilih Sistem Manajemen Parkir yang Tepat
- Bupati Egi Usung Transformasi Lampung Selatan di Final PPD Nasional 2026
Harga Beras Naik, Panen Gadu Belum Optimal
Kenaikan harga beras menjadi salah satu perhatian utama. Kondisi tersebut sejalan dengan meningkatnya harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat penggilingan.
BI Lampung menyebut kenaikan harga GKP berkaitan dengan belum optimalnya panen gadu yang dipengaruhi masuknya musim kemarau. Kondisi tersebut juga diperburuk oleh gangguan hama pada musim tanam kedua.
Sementara itu, harga daging ayam ras meningkat akibat kenaikan permintaan. Salah satu faktor pendorongnya adalah periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Maulid Nabi Muhammad, ditambah berlanjutnya pemenuhan kebutuhan program strategis pemerintah setelah periode libur sekolah.
Kenaikan permintaan juga terjadi pada komoditas kacang panjang dan jagung manis, termasuk untuk memenuhi kebutuhan program strategis pemerintah.
Biaya Sekolah Ikut Dorong Inflasi
Tekanan inflasi Agustus tidak hanya datang dari pangan. Kelompok Pendidikan turut memberikan andil cukup besar, yakni 0,10 persen secara mtm.
Salah satu komoditas yang paling berpengaruh adalah pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan andil inflasi 0,04 persen.
“Kenaikan tersebut terutama dipicu penyesuaian biaya pendaftaran, uang pangkal, dan SPP pada sekolah swasta," ujar Bimo.
Kondisi ini juga membuat inflasi tahunan Lampung meningkat signifikan, selain dipengaruhi normalisasi base effect setelah kebijakan penghapusan uang komite sekolah yang mulai berlaku pada Agustus 2025.
Bawang Merah hingga Tiket Pesawat Justru Menahan Inflasi
Di tengah kenaikan sejumlah harga, beberapa komoditas justru mengalami penurunan dan menahan laju inflasi Lampung.
Harga bawang merah memberikan andil deflasi terbesar, yakni -0,16 persen. Penurunan ini sejalan dengan masuknya masa panen di sejumlah sentra produksi lokal, terutama Pringsewu, Pesawaran, dan Lampung Barat.
Harga tomat juga turun dengan andil -0,10 persen, didorong meningkatnya produksi sayuran lokal. Sementara harga bawang putih turun dengan andil -0,06 persen akibat meningkatnya pasokan di tingkat pedagang besar.
Penurunan harga bawang putih turut didukung penyesuaian biaya distribusi seiring turunnya harga BBM nonsubsidi.
Tekanan inflasi juga diredam oleh kelompok Transportasi. Harga bensin memberikan andil deflasi -0,03 persen, sedangkan angkutan udara sebesar -0,02 persen.
Penurunan harga bensin mengikuti penyesuaian harga BBM nonsubsidi oleh Pertamina. Adapun tarif angkutan udara turun seiring normalisasi permintaan setelah libur sekolah dan penurunan harga avtur sebesar 14 persen oleh PT Pertamina Patra Niaga untuk penerbangan domestik.
BI Waspadai El Nino hingga Harga Minyak Dunia
Ke depan, BI Lampung memperkirakan inflasi daerah masih akan berada dalam sasaran 2,5 persen ± 1 persen pada akhir 2026. Namun, sejumlah risiko tetap perlu diantisipasi.
Dari sisi inflasi inti, risiko antara lain berasal dari volatilitas harga emas global akibat dinamika geopolitik, nilai tukar dolar AS, dan suku bunga global.
Harga crude palm oil (CPO) juga berpotensi menguat sejalan dengan kenaikan harga minyak nabati global serta risiko penurunan produksi akibat El Nino.
Selain itu, pembatasan ekspor gula oleh India berpotensi mengganggu pasokan gula rafinasi bagi industri penggilingan lokal. Kenaikan harga komponen chip global di tengah penguatan dolar AS juga berpotensi mendorong kenaikan harga barang elektronik.
“Untuk kelompok bahan makanan bergejolak, BI mewaspadai meningkatnya kejadian kebakaran hutan dan lahan karhutla serta penguatan El Nino yang dapat mengganggu produksi tanaman pangan dan hortikultura,” papar Bimo.
Belum optimalnya panen gadu dan kenaikan harga GKP juga menjadi perhatian karena dapat meningkatkan biaya bahan baku penggilingan dan pada akhirnya menekan harga beras.
Persaingan pembelian gabah dengan agen dari luar Lampung turut menjadi risiko karena dapat mendorong arus keluar gabah dan mengurangi pasokan bagi penggilingan lokal.
Sementara dari sektor perikanan, kondisi cuaca maritim dan gelombang yang tidak menentu berpotensi membatasi pasokan ikan. Harga daging sapi juga menghadapi risiko kenaikan biaya distribusi seiring meningkatnya harga energi dunia.
Pada kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices), risiko yang perlu dicermati adalah potensi kenaikan harga BBM akibat meningkatnya harga minyak dunia yang dipengaruhi ketegangan geopolitik serta penurunan stok minyak mentah Amerika Serikat.
Gangguan distribusi LPG 3 kilogram juga tetap perlu diantisipasi, meskipun kuota LPG 3 kilogram untuk Lampung pada 2026 telah mengalami peningkatan.
Dengan berbagai dinamika tersebut, pengendalian pasokan pangan, kelancaran distribusi, serta mitigasi risiko cuaca dan energi menjadi kunci agar tekanan harga tidak berkembang menjadi inflasi yang lebih tinggi hingga akhir tahun.(*)

