Inflasi AS Masih Tinggi, The Fed Bakal Kerek Suku Bunga 100 Bps?

Yunike Purnama - Kamis, 15 September 2022 06:31
Inflasi AS Masih Tinggi, The Fed Bakal Kerek Suku Bunga 100 Bps?Meskipun terkesan melandai, inflasi AS 8,3 persen berpotensi mendorong The Fed menaikkan suku bunga hingga 100 bp pada pertemuan FOMC 20-21 September mendatang. (sumber: Reuters )

AS - Tekanan di pasar global kembali meningkat seiring keluarnya data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan. Data Consumer Price Index (CPI) AS bulan Agustus telah dirilis semalam dan tercatat sebesar 8,3 persen YoY.

Meskipun angka ini turun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 8,5 persen YoY, tetapi masih lebih tinggi dari ekspektasi konsensus Bloomberg sebesar 8,1 persen YoY.

Terkait konsensus, ekspektasi pasar terhadap melandainya harga minyak diharapkan mampu mendorong turunnya CPI AS minimal 0,1 persen ke angka 8,1, persen. Namun realitasnya, CPI yang telah diumumkan berada di angka 8,3 persen.

Mengutip Bahana Sekuritas, investor sebelumnya telah berharap bahwa melambatnya inflasi akan memungkinkan The Federal Reserve (The Fed) untuk mengkalkulasi ulang langkah kebijakan agresif untuk melawan inflasi. Namun demikian, keluarnya data inflasi Agustus ini menghapus harapan tersebut untuk saat ini.

Berdasarkan data World Interest Rate Probability Bloomberg, pelaku pasar global juga saat ini memperkirakan bahwa the Fed akan lebih agresif ke depan dengan kemungkinan menaikkan suku bunga acuannya.

Langkah agresif The Fed menaikkan suku bunga diperkirakan akan mencapai 175 basis point (bp) lagi hingga akhir tahun 2023 ke level 4,00 persen hingga 4,25 persen.

Adaun basis point (bp) merupakan unit pengukuran yang digunakan untuk menjelaskan perubahan persentase dari suatu instrumen keuangan. Biasanya, bp digunakan sebagai ukuran dari tingkat suku bunga.

Di Indonesia, Bank Indonesia (BI) biasa menggunakan BI Rate atau suku bunga acuan yang ditetapkan dan juga menggunakan ukuran bp tersebut.

Hal ini yang menyebabkan kebijakan suku bunga bank sentral AS tersebut sedikit banyak juga akan berdampak pada suku bunga di Tanah Air.

Inflasi AS yang mencapai 8,3 persen diartikan publik menurun dibandingkan bulan Juli yang berada di angka 8,5 persen. Namun, hal ini menjadi sinyal buruk dilihat oleh pelaku pasar karena angka inflasi 8,3 persen sejatinya naik yoy dibandingkan data Agustus pada 2021 yang berada pada angka 8,2 persen.

Kondisi ini bisa saja mendorong The Fed untuk bersikap lebih agresif dalam menaikkan suku bunga.

Adapun berdasarkan data CME FedWatch Tool, pelaku pasar global saat ini mulai melihat kemungkinan kenaikan FFR sebesar 100 bp pada pertemuan FOMC 20-21 September mendatang.

Dalam data tersebut, probabilitas kenaikan sebesar 100 bp mencapai 33 persen, sementara probabilitas kenaikan FFR sebesar 75 bp mencapai 67 persen.

Kondisi ini mendorong para investor untuk melakukan antisipasi jika ketua The Fed, Jerome Powell, menaikkan suku bunga hingga 100 bps.

Proyeksi ini lebih agresif dari perkiraan sebelum rilis data inflasi AS bulan Agustus yang memperkirakan kenaikan FFR sebesar 150 bp hingga akhir tahun ini. Adapun yield US Treasury atau imbal hasil obligasi pemerintah AS juga meningkat pasca rilis data inflasi semalam.

Kondisi ini dimotori oleh yield tenor pendek, dimana yield tenor 2 tahun, 5 tahun dan 10 tahun naik masing-masing ke level 3,75 persen (+18 bp), 3,58 persen (+13 bp), dan 3,41 persen (+5 bp).

Sementara itu, bursa saham AS melemah signifikan pada perdagangan semalam di mana menempatkan Dow Jones pada posisi minus 3,94 persen; S&P 500 ambles 4,32 persen, dan Nasdaq anjlok 5,16 persen.

Kondisi ini juga diamini oleh Nomura Securities International.

Mengutip Reuters, Nomura memperkirakan bank sentral AS akan menaikkan suku bunga Fed sebesar 50 basis poin pada pertemuan November dan Desember.

Adapun target The Fed saat ini masih berada pada kisaran 2,25 persen hingga 2,50 persen, mengikuti kenaikan 75 basis poin Fed pada bulan Juli. 

Mengutip Reuters, dengan turunnya angka inflasi menuju 8,3 persen, para ekonom memperkirakan penurunan bulanan akan mengecil di tengah penurunan harga energi dan akan membuka jalan bagi bank sentral AS untuk memperlambat laju kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.

Namun hal tersebut diperkirakan akan berdampak pada percepatan inflasi di sektor jasa dan kenaikan biaya sewa yang mengkhawatirkan.

Kondisi ini cenderung menyebabkan ketidakstabilan dari satu bulan ke bulan berikutnya.

"Untuk beberapa waktu, kami telah menyoroti munculnya fenomena kenaikan harga sebagai akibat dari upah yang lebih tinggi dan ekspektasi inflasi yang semakin tidak terkendali sebagai faktor yang dapat membuat inflasi terus meningkat lebih lama, membutuhkan respons yang lebih kuat dari The Fed. Dengan data terbaru, kami percaya risiko tersebut mulai terjadi melalui inflasi terukur yang lebih tinggi di sektor barang dan jasa," tulis Nomura.

Sebelumnya, kondisi ekonomi AS tertekan dengan inflasi tahunan mencapai 9,1 persen pada Juni 2022. Naiknya harga komoditas energi dan pangan telah memicu inflasi AS ke level tertingginya dalam 4 dekade terakhir. (*)

Editor: Yunike Purnama
Bagikan
Yunike Purnama

Yunike Purnama

Lihat semua artikel

RELATED NEWS