Gubernur Lampung Ajak Kagama Wujudkan Hilirisasi Desa

Eva Pardiana - Senin, 02 Maret 2026 21:56
Gubernur Lampung Ajak Kagama Wujudkan Hilirisasi DesaGubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat menerima jajaran Pengurus Daerah Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Lampung di Ruang Rapat Sakai Sambayan, Kantor Gubernur Lampung, Senin (2/3/2026). (sumber: Adpim Pemprov Lampung)

BANDARLAMPUNG — Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor guna mempercepat hilirisasi komoditas dan pembangunan berbasis desa.

Hal itu disampaikan saat menerima jajaran Pengurus Daerah Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Lampung di Ruang Rapat Sakai Sambayan, Kantor Gubernur Lampung, Senin (2/3/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Gubernur yang akrab disapa Mirza menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Lampung tengah fokus membangun ekosistem ekonomi desa melalui program strategis Desaku Maju. Program ini dirancang untuk menekan capital flight sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah.

“Lampung adalah provinsi kaya komoditas. Padi, jagung, dan singkong menghidupi sekitar 1,2 juta kepala keluarga atau hampir 70 persen populasi. Jika tata kelolanya kita benahi, Lampung bisa lepas landas,” ujarnya.

Menurut Mirza, selama ini sebagian besar komoditas Lampung masih dipasarkan dalam bentuk mentah sehingga nilai tambah dinikmati daerah lain. Ia mencontohkan produksi jagung Lampung yang mencapai 1,7 juta ton per tahun, namun belum didukung fasilitas pengering (dryer) yang memadai di tingkat desa.

Melalui Desaku Maju, Pemprov merencanakan pembangunan dryer secara masif di 500 desa sentra produksi. Langkah ini diharapkan meningkatkan posisi tawar petani sekaligus memperluas hilirisasi hingga pengolahan pakan ternak, budidaya ayam, dan distribusi pangan berbasis desa.

“Jika jagung dikeringkan, diolah menjadi pakan, lalu hasil ternaknya diproses di desa, biaya logistik bisa ditekan, pendapatan petani naik, dan konsumsi protein masyarakat ikut meningkat,” jelasnya.

Selain pembangunan dryer, Pemprov juga menyiapkan program pupuk organik cair (POC) di 2.000 desa guna meningkatkan produktivitas lahan hingga 15 persen. Penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) juga menjadi perhatian, mengingat dari sekitar 2.300 BUMDes berbadan hukum, baru sebagian yang aktif dan berkembang.

Mirza turut menyoroti tingginya angka putus sekolah yang mencapai sekitar 30 ribu anak per tahun serta terbatasnya kapasitas pendidikan vokasi.

“Ekonomi tidak akan tumbuh jika kualitas SDM tertinggal. Kami membutuhkan dukungan akademisi dan alumni untuk memperkuat pendidikan vokasi desa, riset pakan ternak berbasis komoditas lokal, serta pendampingan tata kelola BUMDes,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya pendekatan hexahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, dan unsur hukum dalam pembangunan daerah. Untuk itu, ia meminta pembentukan tim kerja bersama antara OPD terkait dan Kagama guna menindaklanjuti kerja sama konkret, termasuk riset terapan dan program KKN tematik.

Ketua Kagama Lampung, Qudrotul Ikhwan, menyambut baik ajakan kolaborasi tersebut. Ia menilai banyak program pemerintah yang baik, namun memerlukan pendampingan dan perubahan pola pikir di tingkat masyarakat.

“Kami ingin memastikan program tidak berhenti sebagai proyek, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan,” ujarnya.

Qudrotul mencontohkan pendampingan desa binaan Kagama, di mana fasilitas dryer telah tersedia namun belum dimanfaatkan optimal karena petani masih terbiasa menjual hasil panen tanpa pengolahan pascapanen.

“Kami memberikan edukasi bahwa pengeringan meningkatkan daya tawar. Ini soal perubahan mindset,” katanya.

Selain pendampingan pertanian, Kagama Lampung juga aktif dalam kegiatan sosial dan lingkungan, seperti bakti sosial kebencanaan, penanaman mangrove, gerakan biopori, pengelolaan sampah, serta edukasi kebudayaan melalui kegiatan Nitilaku.

Di bidang ekonomi, Kagama menerapkan skema gotong royong berbasis iuran anggota untuk mendukung kegiatan produktif masyarakat, termasuk pembelian jagung yang diolah menjadi pakan ternak skala komunitas.

“Kami ingin membangun semangat pengabdian. Alumni dengan keahlian di berbagai bidang dapat langsung turun mendampingi masyarakat,” tegasnya.

Audiensi ini menjadi langkah awal penguatan kolaborasi strategis antara Pemprov Lampung dan Kagama Lampung dalam mendorong pembangunan desa berbasis komoditas unggulan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. (*)

Editor: Eva Pardiana

RELATED NEWS