Gubernur BI Paparkan 5 Tantangan Ekonomi Global Tahun 2023
Yunike Purnama - Jumat, 27 Januari 2023 10:04
JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengungkapkan sejumlah tantangan global yang akan dihadapi berbagai negara di dunia, tak terkecuali Indonesia. Pertama adanya perlambatan ekonomi secara global, dengan ancaman resesi.
Melihat ekonomi global yang melambat tersebut membuat pihaknya memperkirakan pertumbuhan ekonomi direvisi dari 2,6% menjadi 2,3%.
"Kedua, tantangan yang kita hadapi adalah inflasi global yang masih tinggi. Secara global diperkirakan inflasi tahun ini di angka 5,2%, meskipun sudah menurun dari tahun sebelumnya, yakni 9,2%," ujar Perry dalam Annual Ivestment Forum 2023 secara virtual pada Kamis, 26 Januari 2023.
- PenaKita Ajak Blogger Semakin Produktif
- Gubernur Arinal Dorong Pembangunan Sektor Pariwisata di Kabupaten Pesisir Barat
- Tips 5 Cara Ini Buat Kamu Menjadi Karismatik
Sementara itu, untuk Amerika Serikat (AS), Perry menuturkan tingkat inflasi diperkirakan menurun dari 7% pada tahun 2022 menjadi 3,1% pada tahun ini.
"Eropa juga sama, akan menurun menjadi 3,6% di tahun ini, dari tahun sebelumnya yang mencapai 8,8%," tuturnya.
Ketiga, adanya kenaikan suku bunga yang agresif di negara-negara maju. Perry menjelaskan bank-bank sentral di negara maju seperti AS dan Eropa akan menaikkan suku bunga acuannya demi mengendalikan inflasi.
Perry memperkirakan, bank sentral AS (The Fed) masih akan terus menaikkan suku bunga acuan hingga ke level 5,5% pada semester I 2023.
"Kondisi inilah yang membuat perkiraan tingkat suku bunga tinggi ini masih harus dihadapi dalam kurun waktu yang lama," kata dia.
- Universitas Aisyah Pringsewu dan Poltekkes Kesuma Bangsa Kerja Sama Fokus Peningkatan Teknologi dan SDM
- Cek Harga Emas Antam di Pegadaian Sabtu, 21 Januari 2023
- Booster Kedua Vaksin Covid-19 Dimulai 24 Januari, Cek Syaratnya
Keempat, kenaikan suku bunga The Fed ikut meningkatkan indeks dolar AS. Menurut Perry, kenaikan suku bunga The Fed membuat indeks dolar menguat. Imbasnya, mata uang negara lain pun terdepresiasi.
Kondisi ini turut membuat aliran modal asing keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Hal inilah yang menjadi salah satu pekerjaan rumah (PR) besar dari negara-negara ASEAN.
Tantangan yang terakhir yakni adanya fenomena cash is the king, di mana ada keyakinan jika uang tunai lebih berharga ketimbang aset investasi lainnya. Fenomena ini terjadi akibat ketidakpastian ekonomi yang tinggi.
"Akibat risiko portofolio naik, mereka memilih menumpuk uangnya di instrumen yang likuid, baik cash dan near cash," imbuhnya. (*)