Penulis:Eva Pardiana

TANGGERANG SELATAN — Banjir yang kerap melanda sejumlah kawasan perumahan di Ciputat dan Ciputat Timur, Tangerang Selatan, mendorong warga membentuk Forum Peduli Sungai Ciputat sebagai wadah kolaborasi masyarakat dalam mencari solusi persoalan banjir yang terus berulang.
Ketua Forum Peduli Sungai Ciputat, Akhmad Mutakin, mengatakan banjir yang terjadi di sejumlah wilayah seperti Perumahan Payung Mas, Asrama Polisi Udara, Perumahan Pondok Hijau dan Perumahan Inhutani kini semakin mengkhawatirkan warga.
Menurutnya, banjir tidak hanya terjadi saat hujan deras dengan durasi panjang, tetapi juga saat hujan berintensitas sedang hingga ringan.
“Saluran drainase memang terus dibenahi Pemerintah Kota Tangerang Selatan, tetapi volume air yang ditampung drainase tidak sebanding dengan kemampuan Sungai Ciputat menerima aliran air tersebut,” kata Akhmad Mutakin dalam keterangannya, Minggu (25/5/2026).
Ia menyebut kondisi tersebut diperparah oleh kontur tanah beberapa kawasan perumahan yang hampir sejajar dengan permukaan sungai. Selain itu, pendangkalan, penyempitan sungai hingga penggunaan lahan di area sungai yang tidak sesuai peruntukan diduga menjadi penyebab utama banjir terus terjadi.
Akhmad mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Tangerang Selatan yang telah membangun tanggul serta memasang pompa air di sejumlah titik. Namun, upaya tersebut dinilai belum mampu menjadi solusi menyeluruh.
“Banjir masih terus terjadi tanpa mengenal waktu. Jika dulu dikenal istilah banjir lima tahunan, sekarang hampir setiap hujan turun banjir terjadi dengan ketinggian yang bervariasi,” ujarnya.
Ia menilai persoalan banjir yang terjadi di empat kawasan perumahan tersebut hanyalah gambaran kecil dari kondisi umum di wilayah Ciputat dan Tangerang Selatan.
“Perbaikan drainase, pembangunan tanggul dan pemasangan pompa yang cukup masif ternyata belum menjadi obat mujarab. Muncul asumsi di masyarakat bahwa ada yang salah dengan Sungai Ciputat sebagai urat nadi aliran air di Tangerang Selatan,” katanya.
Berangkat dari keresahan tersebut, warga bersama sejumlah elemen masyarakat membentuk Forum Peduli Sungai Ciputat untuk ikut terlibat membantu pemerintah mencari solusi penanganan banjir.
“Kami tidak ingin hanya menjadi penonton dan objek proyek. Kami ingin ikut membantu pemerintah dan masyarakat menjawab berbagai asumsi serta mencari solusi meminimalkan dampak banjir,” ujar Akhmad.
Forum Peduli Sungai Ciputat dijadwalkan menggelar kegiatan Susur Sungai Ciputat Tahap 1 pada Minggu, 31 Mei 2026. Kegiatan itu melibatkan warga, relawan, mahasiswa serta sejumlah organisasi seperti Forum Potensi Tangsel, Muhammadiyah Disaster Management Center Tangsel, Disaster Response BAZNAS Tangsel, Ikatan Alumni UMJ, Stacia, Oi Crisis Center, KMPLHK Ranita UIN Jakarta, LKBHMI, KPA Whidarsa STIKes Widya Dharma Husada Pamulang, Civitas dan Alumni STIE Ganesha Ciputat serta Sahabat Yatim.
Berdasarkan data hingga 24 Mei 2026, tercatat sebanyak 66 peserta telah mendaftar melalui formulir daring. Jumlah partisipan diperkirakan mencapai sekitar 100 orang hingga penutupan pendaftaran pada 30 Mei 2026.
Seluruh peserta nantinya dibagi menjadi lima tim kecil yang akan melakukan penyusuran aliran sungai dan jalur darat secara simultan dari kawasan Universitas Terbuka hingga Graha Hijau.
Selain menelusuri titik penyempitan dan pendangkalan sungai, kegiatan tersebut juga akan mengonfirmasi informasi mengenai dugaan hilangnya aliran Sungai Ciputat sepanjang sekitar 100 meter di kawasan Bintaro Exchange menuju Pondok Aren.
“Hasil temuan nantinya akan kami sampaikan kepada publik setelah kegiatan susur sungai selesai dilakukan,” kata Akhmad.
Ia menambahkan, hasil kegiatan tersebut juga akan menjadi bahan evaluasi bagi masyarakat maupun Pemerintah Kota Tangerang Selatan dalam merancang kebijakan lingkungan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.
“Forum Peduli Sungai Ciputat akan memposisikan diri sebagai partner diskusi dan kolaborasi aksi yang seimbang bersama pemerintah,” ujarnya. (*)