Tiga Industri Paling Rawan Terkena Serangan Siber Ransomware

2022-10-12T17:39:25.000Z

Penulis:Yunike Purnama

Editor:Yunike Purnama

Ilustrasi serangan siber.
Ilustrasi serangan siber.

BANDAR LAMPUNG - Ensign InfoSecurity, perusahaan penyedia layanan keamanan siber pure-play dan end-to-end terbesar di Asia yang berbasis di Singapura, mengungkapkan bahwa ada tiga industri yang paling rentan terkena serangan siber dalam bentuk kejahatan ransomware.

Executive Vice President Internasional Business Ensign InfoSecurity Charles Ng mengatakan, kejahatan siber dewasa ini tengah menjadi suatu kehadiran yang kian mengancam seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan adopsi digital di seluruh dunia. 

Menurut riset yang dilakukan oleh Ensign InfoSecurity, kejahatan ransomware tengah menjadi ancaman yang terus meningkat. 

Untuk diketahui, ransomware adalah serangan siber berupa pengiriman malware (perangkat lunak yang dirancang untuk menyerang sistem) untuk mengunci dan mengenkripsi perangkat komputer milik korban. 

Disampaikan oleh Charles, tiga industri yang paling rentan terkena serangan ransomware  adalah perbankan atau keuangan, maritim, dan penerbangan.

Menurut data yang dihimpun Ensign InfoSecurity, ketiganya tercatat sebagai industri yang paling banyak melaporkan kasus ransomware.

Walaupun tidak menyebutkan datanya secara spesifik, namun Charles menjelaskan alasan yang membuat ketiga industri tersebut cukup rentan terkena serangan ransomware.

“Yang pertama adalah bank atau finance karena para peretas bisa mendapatkan uang dari sana,” ujar Charles dalam Konferensi Pers Pembukaan Ensign InfoSecurity Indonesia, Selasa, 11 Oktober 2022.

Kemudian, Charles menyebutkan bahwa industri maritim dan penerbangan pun bisa memberikan keuntungan bagi peretas, misalnya dengan memanipulasi pengelolaan ekspedisi lewat jalur udara dan laut. 

Bahayanya, ekspedisi lewat jalur udara dan laut ini sering digunakan untuk penyaluran pasokan dalam beragam bentuk sehingga serangan siber yang terjadi pada kedua industri yang bersangkutan pun dapat menyebabkan kerugian yang tidak sedikit.

Charles pun mengungkapkan bahwa serangan siber yang terjadi pada suatu perusahaan dapat memberikan kerugian sekitar US$3 juta (Rp45 miliar dalam asumsi kurs Rp15.000 perdolar Amerika Serikat/AS) hingga US$8 juta (Rp120 miliar).

“Rata-rata US$3 juta – US$8 juta untuk mayoritas perusahaan global, dan bergantung juga pada ukuran dan bidang perusahaan,” kata Charles.

Sementara itu, Chief Executife Officer (CEO) Ensign InfoSecurity Tammie Tham mengatakan pula bahwa pada dasarnya pelaku kejahatan siber berpotensi untuk menyerang sistem-sistem digital yang dapat memberikan keuntungan dalam bentuk uang.

“Di mana pun uang berada, para peretas akan mencari kesempatan,” kata Tammie.

Oleh karena itu, untuk menjaga ketahanan industri dalam keamanan siber sekaligus memajukan industri di skala global, Ensign InfoSecurity melakukan ekspansi dengan mendirikan kantor di beberapa negara, salah satunya Indonesia.

Setelah memberikan solusi keamanan siber sejak tahun 2019, akhirnya Ensign InfoSecurity meresmikan kantor baru di Jakarta Selatan sebagai upaya perusahaan untuk memperkuat layanan di Tanah Air. 

Tammie pun menerangkan bahwa Ensign InfoSecurity tidak hanya tumbuh secara eksponensial dari segi kapasitas dan jangkauan. 

Perusahaan yang didirikan pada tahun 2018 itu terus berinvestasi secara masif di riset dan pengembangan (research and development/R&D) yang didukung oleh talenta-talenta plihan.

“Hal ini membuat Ensign InfoSecurity dapat menjawab kebutuhan klien kami untuk perlindungan, deteksi, dan penanganan keamanan siber secara akurat,” kata Tammie. (*)