Stunting
Penulis:Yunike Purnama
Editor:Yunike Purnama

PRINGSEWU — Upaya menekan stunting di Kabupaten Pringsewu, Lampung, terus diperkuat melalui pendampingan langsung kepada balita dan keluarganya. Setelah 10 pekan pendampingan, 19 dari 20 balita penerima program di Pekon Blitar Rejo tercatat mengalami kenaikan berat badan.
Program yang dijalankan kader ‘Aisyiyah tersebut menjadi salah satu bentuk intervensi untuk memperbaiki asupan gizi balita sekaligus meningkatkan pengetahuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan makanan bergizi anak.
Selain kenaikan berat badan, seluruh atau 100 persen balita dampingan di Blitar Rejo juga mengalami peningkatan tinggi badan selama 10 pekan program.
Hasil tersebut terungkap dalam monitoring dan evaluasi (monev) pendampingan kader yang dilaksanakan di Pekon Blitar Rejo dan Pekon Podomoro, Kabupaten Pringsewu, Sabtu (3/10).
Program pendampingan berlangsung selama tiga bulan atau 12 pekan. Hingga pelaksanaan monev, program telah memasuki pekan ke-10 dan akan dilanjutkan hingga 16 Oktober 2026.
Ketua Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah (PWA) Lampung Prof Dr Hj Enizar mengatakan, “Intervensi dilakukan melalui pemberian makanan tambahan (PMT) setiap hari dengan tiga kali konsumsi makanan bergizi. Kader juga mendampingi keluarga dalam mengolah makanan, memberikan edukasi kepada ibu balita, serta memantau pertumbuhan dan kondisi anak”.
Di Pekon Blitar Rejo, sebanyak 20 balita menjadi penerima manfaat program. Dari jumlah tersebut, 95 persen atau 19 balita mengalami kenaikan berat badan.
Hanya satu balita atau 5 persen yang tercatat mengalami berat badan stagnan.
Dari sisi tinggi badan, hasil pemantauan menunjukkan seluruh balita mengalami peningkatan selama 10 pekan pendampingan.
Capaian tersebut menunjukkan adanya perkembangan positif selama program berjalan. Namun, pendampingan tetap diperlukan untuk memastikan perbaikan status gizi dan pertumbuhan anak dapat dipertahankan.
Sementara itu, dari 10 balita penerima manfaat di Pekon Podomoro, enam balita atau 60 persen mengalami kenaikan berat badan.
Sebanyak dua balita atau 20 persen berada dalam kondisi stagnan. Sedangkan dua balita lainnya atau 20 persen mengalami penurunan berat badan karena sakit.
Untuk pertumbuhan tinggi badan, sembilan balita atau 90 persen mengalami peningkatan, sementara satu balita atau 10 persen tercatat stagnan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam evaluasi karena faktor kesehatan anak, termasuk sakit, dapat memengaruhi asupan dan pertumbuhan balita.
Monev yang dilakukan ‘Aisyiyah bersama pemerintah daerah dan tenaga kesehatan tidak hanya melihat apakah makanan tambahan telah diberikan kepada balita.
Tim turun langsung ke keluarga penerima manfaat untuk melihat bagaimana makanan bergizi diolah dan dikonsumsi anak. Kader juga dinilai dari proses edukasi kepada orang tua serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita.
Dengan pendekatan tersebut, program diarahkan agar keluarga tidak sekadar menerima makanan tambahan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menyediakan makanan bergizi secara mandiri.
Kegiatan monev melibatkan Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Lampung, Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kabupaten Pringsewu, Dinas Kesehatan Kabupaten Pringsewu, Dinas DP3AP2KB, puskesmas, pemerintah pekon, ahli gizi, bidan, serta kader.
Dari Dinas Kesehatan Kabupaten Pringsewu hadir Tri Nova Nurhayati, SKM., MM., selaku Sub Koordinator Kasgagizi. Sementara Dinas DP3AP2KB diwakili dr. Avi Risdyanti.
Wakil Ketua Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Dra. Chairunnisa, M.Kes., Ketua Majelis Kesehatan PWA Lampung Tina Maulida, M.Kes., serta jajaran tim lainnya turut melakukan pemantauan langsung di lapangan.
Di Blitar Rejo, monev juga melibatkan unsur Pimpinan Pusat dan Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Lampung, Dinas DP3AP2KB, tenaga kesehatan, puskesmas, anggota Komisi IV DPRD Pringsewu, pendamping program, dan kader.
Hasil monev menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat pendampingan pada dua pekan terakhir. Kader akan terus memantau kondisi balita, memberikan edukasi kepada keluarga, dan memastikan praktik pemberian makanan bergizi berjalan secara konsisten. Pendampingan dijadwalkan berlangsung hingga 16 Oktober 2026.
Program ini menegaskan bahwa penanganan stunting membutuhkan intervensi yang tidak berhenti pada pemberian makanan tambahan. Pemantauan pertumbuhan, edukasi keluarga, pendampingan kader, serta keterlibatan tenaga kesehatan menjadi bagian penting untuk memastikan anak mendapatkan asupan dan pola pengasuhan yang mendukung tumbuh kembangnya. (*)