PTPN I Perkuat Kemitraan, Petani Jember Raup Manfaat Ganda

2026-07-10T07:38:54.000Z

Penulis:Eva Pardiana

1002989491.jpg
PTPN I Perkuat Kemitraan, Petani Jember Raup Manfaat Ganda

JEMBER – Desa Ajong di Kabupaten Jember, Jawa Timur, semakin mengukuhkan reputasinya hingga ke mancanegara. Kawasan ini menjadi sentra budidaya Tembakau Bawah Naungan (TBN) berkualitas premium yang diproduksi PTPN I (Persero) Regional 5. Komoditas tersebut terus diminati pembeli dari berbagai negara di Asia, Eropa, hingga Amerika Latin.

Di tengah tingginya potensi pasar ekspor, PTPN I sebagai BUMN perkebunan memilih mengembangkan kemitraan dengan masyarakat sekitar untuk memenuhi permintaan global yang terus meningkat. Langkah strategis ini diwujudkan melalui skema kemitraan yang inklusif, profesional, dan kompetitif. Kehadiran perkebunan tembakau juga berkontribusi terhadap tingginya penyerapan tenaga kerja lokal sekaligus menjaga martabat para pemilik lahan.

Direktur Utama PTPN I, Dr. Abdul Rivai Ras, menegaskan bahwa kebijakan bermitra dengan masyarakat merupakan amanat negara yang harus dijalankan. Di Jember, PTPN I menggandeng para petani pemilik lahan persawahan yang selama ini menanam padi maupun palawija untuk menjadi bagian dari rantai pasok tembakau dunia melalui model bisnis berkelanjutan yang melibatkan masyarakat secara langsung, terstruktur, dan sistematis.

“Kolaborasi agribisnis di Ajong, Jember, dirancang sebagai model bisnis yang inklusif sekaligus berkelanjutan. Di satu sisi, PTPN I mengukuhkan posisinya di pasar internasional melalui keunggulan TBN, sementara di sisi lain petani lokal memiliki potensi aset lahan yang luar biasa. Melalui skema rotasi komoditas, kami menyewa lahan persawahan warga dengan nilai yang kompetitif, disertai komitmen bahwa proses produksi dan penggarapan tetap melibatkan pemilik lahan. Dengan pola ini, petani memperoleh uang sewa di awal sekaligus menerima upah dari pekerjaannya. Melalui pendekatan tersebut, martabat mereka sebagai pemilik sawah tetap terjaga. Inilah bentuk kolaborasi yang produktif,” ujar Abdul Rivai Ras di Jakarta, Kamis (9/7/2026).

Skema kemitraan lahan yang diterapkan PTPN I Regional 5 di Ajong diproyeksikan menjadi percontohan nasional bagi model kemitraan agribisnis masa depan. Rivai menjelaskan, nilai kompensasi sewa lahan persawahan di Ajong dinilai kompetitif dan memberikan manfaat ekonomi yang tinggi bagi pemilik lahan dalam setiap musim tanam. Pembayaran di awal musim juga memberikan kepastian finansial bagi keluarga petani sebelum masa tanam dimulai.

Meski lahannya disewakan kepada perusahaan untuk budidaya tembakau ekspor, para petani tetap memiliki hak penuh atas aset yang dimiliki. Mereka juga tetap terlibat langsung dalam pengelolaan lahan, sekaligus memperoleh kesempatan mempelajari teknologi budidaya pertanian modern.

“Petani pemilik lahan pada dasarnya membutuhkan kepastian hasil, keamanan aset, dan rasa percaya diri. Yang lebih penting lagi, para petani yang selama ini masih menerapkan budidaya tradisional dapat menyerap pengetahuan dan pengalaman dari model pertanian modern, seperti smart farming berbasis science farming. Melalui transfer pengetahuan ini, PTPN I berharap mereka semakin mandiri dan sejahtera di masa depan,” tambah Rivai.

Melalui perluasan kemitraan tersebut, PTPN I menempatkan petani pemilik lahan sebagai mitra strategis dalam ekosistem bisnis perusahaan. Kerja sama yang saling menguntungkan ini menjadikan masyarakat Ajong sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di sektor perkebunan. Pola kemitraan padat karya tersebut juga mampu meningkatkan pendapatan masyarakat, baik melalui kompensasi sewa lahan maupun upah kerja harian.

Manfaat program ini dirasakan langsung oleh Supardi (48), petani pemilik lahan di Desa Ajong yang sehari-hari menanam padi. Ia menilai program kemitraan lahan PTPN I Regional 5 sebagai bentuk nyata kolaborasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kami merasa sangat terbantu dengan adanya program kemitraan lahan dari PTPN I Regional 5. Pembayaran kompensasi yang dilakukan di awal memberikan kepastian untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus menjadi modal bertani pada musim berikutnya. Selain itu, kami tetap dapat menggarap lahan sendiri dengan memperoleh upah harian yang layak. Dengan demikian, kami tetap memiliki kebanggaan dan martabat sebagai pemilik tanah,” ujar Supardi.

Model kolaborasi yang dikembangkan PTPN I (Persero) ini terus mendapat sambutan positif dari masyarakat Jember. Setiap musim tanam, antusiasme warga mendorong pemanfaatan ratusan hingga ribuan hektare lahan persawahan melalui skema sewa yang berkelanjutan. Melalui komitmen tersebut, PTPN I tidak hanya menjaga keberlanjutan pasokan tembakau premium ke pasar dunia, tetapi juga memperkuat perannya dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat. (*)

Tags:PTPN I