Konsumen Masih Sebut Kendaraan Listrik Masih Terlalu Mahal

2023-08-22T13:41:27.000Z

Penulis:Yunike Purnama

Editor:Redaksi

Ilustrasi mobil listrik
Ilustrasi mobil listrik

TANGERANG - Impian Indonesia untuk transformasi di sektor transportasi khususnya mobil pribadi nampaknya mengalami sejumlah halangan. Melalui GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS), Pemerintah Indonesia mendorong peningkatan penjualan mobil listrik di Indonesia sendiri.

Dikutip dari Reuters Selasa 22 Agustus 2023, beberapa keraguan dari konsumen Indonesia membuat peningkatan penjualan mobil listrik terhambat. Mereka ragu mengenai premi harga kendaraan listrik, pertanyaan tentang ketersediaan stasiun pengisian, dan keraguan pada merek baru yang umumnya menjadi produsen mobil listrik. Alasan-alasan tersebut membuat mereka merasa kurang yakin untuk beralih menggunakan mobil listrik.

Selain itu, mahalnya kendaraan listrik dibanding dengan mobil konvensional juga menjadi salah satu alasan mengapa konsumen mengurungkan niatnya untuk berpindah ke mobil listrik. Seorang pengunjung GIIAS, Dody Hartono, menyebutkan, “Kita harus membuat orang tertarik dulu dengan kendaraan listrik, dimulai dengan harga yang seharusnya 60 persen lebih murah.”

Pemerintah telah mengurangi tarif pajak pertambahan nilai pada mobil listrik dari 11% menjadi hanya 1%, yang mengakibatkan penurunan harga pada sejumlah kendaraan listrik. Misalnya saja Hyundai Ioniq 5 yang dibanderol menjadi paling murah di bawah Rp700 juta dari sebelumnya jauh di atas harga tersebut.

Dody berpendapat untuk menarik pelanggan, kendaraan listrik harusnya dibanderol dengan harga antara Rp150 juta hingga Rp200 juta. 

Sementara di Indonesia hanya ada sedikit mobil listrik yang menjual produknya dengan harga dikisaran itu. Misalnya saja Wuling Air Ev yang dibanderol mulai dari Rp200 jutaan dan E1 dari Seres Group yang dihargai mulai dari Rp190 jutaan saja.

Padahal, mobil konvensional termurah yakni Daihatsu Ayla saja dihargai mulai dari Rp135 jutaan saja. Tentu dengan pertimbangan harga, konsumen akan memilih yang paling murah. 

Selain itu, masalah pada kepercayaan akan merek juga menjadi masalah. Hal tersebut seperti diungkapkan oleh salah satu pengunjung pameran, Hendra Budi. Dia menyebutkan harga bukanlah masalah untuknya, tapi dia lebih perlu percaya dengan merek yang membawakannya. "Kalau Toyota atau Honda meluncurkan full kendaraan listrik, kami akan tertarik," katanya.

Indonesia telah menetapkan target untuk memproduksi sekitar 600.000 mobil listrik pada tahun 2030 dan Pemerintah berharap GIIAS 2023 ini dapat mendorong penjualan hingga 26.000 kendaraan.(*)