Hiski Komisariat Lampung Gelar Seminar Sastra-Budaya

2022-12-16T20:26:43.000Z

Penulis:Chairil Anwar

Editor:Eva Pardiana

IMG-20221216-WA0047.jpg
Hiski Komisariat Lampung menggelar seminar sastra-budaya tentang peningkatan budaya literasi. Agenda ilmiah ini merupakan rangkaian acara pelantikan pengurus Hiski Komisariat Lampung oleh Hiski Pusat, Jumat (16/12/2022), di Auditorium Drs. H. Dailami Zain, STKIP-PGRI Bandar Lampung.

BANDAR LAMPUNG — Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (Hiski) Komisariat Lampung menggelar seminar sastra-budaya tentang peningkatan budaya literasi. Agenda ilmiah ini merupakan rangkaian acara pelantikan pengurus Hiski Komisariat Lampung oleh Hiski Pusat, yang dilaksanakan pada Jumat (16/12/2022), di Auditorium Drs. H. Dailami Zain, STKIP-PGRI Bandar Lampung.

Dalam seminar ini, Ketua Hiski Komisariat Lampung Prof. Surastina, M.Hum., Dr. Dalman, M.Pd., (Universitas Muhammadiyah Lampung), Preni Reliyanti, M.Pd. (SMPN 2 Merbau Mataram), dan Dr. Sutanto, M.Pd. (UM Kotabumi) menjadi pemateri, sementara pemandu diskusi dibawakan oleh Dr. Andri Wicaksono, M.Pd. (STKIP-PGRI Bandar Lampung). Seminar ini diikuti oleh sekitar 80 peserta dari berbagai perguruan tinggi, baik dihadiri secara langsung maupun secara virtual.  

Pemateri pertama, Dr. Dalman, M.Pd., mengangkat topik membangun budaya literasi sastra. Dia memaparkan bahwa indeks aktivitas baca literasi baca Provinsi Lampung masih rendah. “Lampung berada di urutan kelima dari bawah dengan skor 30,59 (rendah),” katanya.

Ia menambahkan faktor yang menyebabkan rendahnya literasi baca itu adalah kualitas pendidikan yang rendah, kecukupan gizi yang tidak mumpuni, infrastruktur yang minim, dan minat baca yang rendah. Terkait hal itu, ucap Dalman, dibutuhkan strategi untuk membangun literasi sastra. Setidaknya ada tiga strategi yang ia paparkan.

“Pertama, budayakanlah mengunjungi perpustakaan yang telah tersedia untuk membaca buku-buku sastra. Kedua, budayakanlah membaca karya sastra, membaca yang bukan sekedar membaca. Namun, membaca yang diharapkan akan menciptakan sebuah karya sastra dari hasil membaca tersebut. Ketiga, gunakan media sosial sebagai alat untuk membudayakan literasi sastra. Pengenalan literasi sastra melalui media sosial seperti ini harus dimulai sejak dini,” ucapnya.

Sementara itu, pemateri selanjutnya, Preni Reliyanti, M.Pd., mengajak semua pihak untuk menggiatkan kembali karya tulis berbasis sastra. “Agar menarik dalam menulis sastra, kita bisa menyelaraskan hobi dengan karya kita. Bahkan, lagu bisa menjadi inspirasi dalam menulis,” kata dia.

Pemateri selanjutnya, Dr. Sutanto, mengajak guru bahasa Indonesia untuk menjadi pelopor dalam menyadarkan siswa untuk membaca atau berliterasi. “Guru bisa membuat program membaca sastra untuk meningkatkan literasi, seperti mengharuskan siswa membaca beberapa judul novel atau cerpen dalam satu semester, yang kemudian dievaluasi oleh guru,” katanya.

Selanjutnya, Prof. Surastina menjelaskan soal sosiologi sastra. Menurutnya, setiap daerah memiliki karakteristik sastra yang berbeda sehingga menimbulkan keunikan sastra. (CA)