BEI Rombak Jajaran Penghuni Indeks LQ45, Analis Sebut Cermati Lagi Fundamental Emiten

2022-01-31T15:25:25.000Z

Penulis:Yunike Purnama

Editor:Yunike Purnama

Ilustrasi pergerakan IHSG.
Ilustrasi pergerakan IHSG.

JAKARTA - Bursa Efek Indonesia (BEI) merombak susunan saham penghuni indeks LQ45. Dalam daftar teranyar yang berlaku efektif 2 Februari 2022, terdapat lima saham emiten yang masuk serta lima yang keluar.

Lima emiten yang kini berada di indeks LQ45, yakni; PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN), PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), PT Harum Energy Tbk (HRUM), dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT).

Sedangkan saham yang keluar dari penghitungan indeks antara lain PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR), dan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON).

Perubahan ini menyebabkan tidak ada saham properti yang tergabung dalam LQ45. Pengamat pasar modal sekaligus Founder Bageur Stock, Andy Wibowo Gunawan menerangkan, perubahan indeks ini akan menjadi sentimen negatif bagi emiten-emiten yang terdepak dari indeks tersebut.

Sebaliknya, akan menjadi sentimen positif bagi emiten-emiten yang masuk indeks LQ45. Namun, sentimen tersebut relatif berlangsung dalam jangka pendek.

"Dalam jangka pendek, keluarnya saham dari Indeks LQ45 akan memberikan sentimen negatif terhadap pergerakan harga sahamnya. Untuk strategi sahamnya, menurut saya adalah investor harus kembali lagi melihat fundamental masing-masing emiten yang keluar dari LQ45,” kata Andy, Senin (31/1/2022).

Seperti diketahui, indeks seperti LQ45 biasanya digunakan sebagai salah satu acuan oleh banyak investor institusi. Sehingga perubahan susunan anggota emiten berpotensi menyebabkan perubahan volume transaksi yang signifikan pada emiten tersebut, hingga dapat mempengaruhi harga saham.

"Sementara untuk saham yang masuk, dalam jangka pendek akan menarik. Tetapi dalam jangka panjang harus melihat masing-masing fundamental emitennya. Rekomendasi kembali lagi kepada investment style masing-masing investor,” imbuh Andy.(*)