Begitu pula dengan yuan China yang menguat 0,36 persen, ringgit Malaysia 0,71 persen, yen Jepang 0,22 persen, dan peso Filipina 0,17 persen. Sementara, dolar Hong Kong justru terkoreksi tipis 0,01 persen.
Di sisi lain, mayoritas mata uang negara terpantau melemah. Dolar Australia tercatat minus 0,02 persen, euro Eropa 0,07 persen. Kemudian, poundsterling Inggris berhasil menguat tipis 0,01 persen, dan dolar Kanada 0,01 persen.
Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan penguatan rupiah kali ini dipengaruhi oleh sikap bank sentral AS. Menurutnya, pasar merespons positif keputusan The Fed yang masih mempertahankan suku bunga acuan di nol persen.
Sementara, faktor positif lainnya, antara lain harga minyak yang mulai bangkit (rebound), pelonggaran lockdown di sejumlah negara karena kasus virus corona yang mulai menurun, dan aktivitas manufaktur China yang mulai tumbuh pada April 2020.(*)
Di sisi lain, mayoritas mata uang negara terpantau melemah. Dolar Australia tercatat minus 0,02 persen, euro Eropa 0,07 persen. Kemudian, poundsterling Inggris berhasil menguat tipis 0,01 persen, dan dolar Kanada 0,01 persen.
Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan penguatan rupiah kali ini dipengaruhi oleh sikap bank sentral AS. Menurutnya, pasar merespons positif keputusan The Fed yang masih mempertahankan suku bunga acuan di nol persen.
Sementara, faktor positif lainnya, antara lain harga minyak yang mulai bangkit (rebound), pelonggaran lockdown di sejumlah negara karena kasus virus corona yang mulai menurun, dan aktivitas manufaktur China yang mulai tumbuh pada April 2020.(*)

Ilustrasi rupiah dan dolar AS (sumber: ccf.co.id)