PTPN I Regional 7 Perkuat Pengawasan Produksi Karet

Eva Pardiana - Selasa, 03 Maret 2026 13:53
PTPN I Regional 7 Perkuat Pengawasan Produksi KaretRegion Head PTPN I Regional 7, Tuhu Bangun saat inspeksi lapangan ke Kebun Ketahun, Bengkulu Utara, Senin (2/3/2026). (sumber: Dok. PTPN I Reg 7)

BENGKULU — Region Head PTPN I Regional 7, Tuhu Bangun, menegaskan manajemen tidak akan mentoleransi kebocoran produksi karet di seluruh unit kerja. Penegasan itu disampaikan saat inspeksi lapangan ke Kebun Ketahun, Bengkulu Utara, Senin (2/3/2026).

Dalam tinjauan di Afdeling 2, Tuhu menemukan masih terdapat ruang peningkatan produksi yang signifikan. Ia menyoroti ketidaksesuaian antara potensi hasil sadap di lapangan dan laporan produksi.

“Secara kasat mata, setiap kali sadap, mangkok berkapasitas 500 cc terisi minimal setengah. Namun setelah dihitung, rata-rata produksi per pohon hanya sekitar 75 cc. Ini perlu kita telusuri,” ujarnya saat berdiskusi di Gubuk Namoraitano Afdeling 2.

Menurutnya, terdapat beberapa kemungkinan penyebab selisih produksi tersebut, antara lain pencurian, tidak tembus sadap (tidak semua pohon tersadap), prosedur sadap yang kurang tepat, hingga faktor alam.

Ia meminta seluruh pimpinan unit kerja memperketat pengawasan dan tidak langsung menerima laporan tanpa verifikasi di lapangan.

“Kami senang mendengar laporan tingkat pencurian nol koma. Namun, pastikan data itu benar melalui pengecekan faktual,” tegasnya.

Tuhu juga menginstruksikan mandor dan asisten untuk rutin melakukan Uji Potensi Pohon (UPP). Setiap kali sadap, mandor diminta memantau isi mangkok secara acak sebelum pungut, guna memastikan estimasi lateks yang akan disetorkan sesuai potensi riil.

“Jika isi mangkok rata-rata hanya 75 cc, berarti kurang dari setengah kapasitas. Padahal umumnya sekali sadap bisa mendekati setengah mangkok 500 cc. Ini harus ditelusuri lebih lanjut,” katanya.

Ia mengakui perhitungan matematis tidak selalu sepenuhnya mencerminkan kondisi lapangan. Namun, jika ditemukan data yang tidak logis, seluruh jajaran harus peka untuk mencari akar persoalan.

Selain itu, ia menekankan pentingnya memastikan tembus sadap. Dari sekitar 600 pohon per hancak, seluruhnya harus tersadap sesuai standar. Tidak tuntasnya sadap akan memengaruhi faktor pengali produksi dan berdampak pada capaian target RKAP.

“Dari data di atas kertas terlihat masih ada ruang perbaikan untuk mengejar target produksi. Saya minta seluruh elemen Kebun Ketahun, juga kebun lainnya, segera menemukan solusi agar target tercapai,” ujarnya.

Kunjungan kerja tersebut merupakan bagian dari agenda Safari Ramadan 1447 Hijriah PTPN I Regional 7. Turut mendampingi Operational Head Iyan Heryanto, Kabag Sekretariat dan Hukum Agus Faroni, Kabag SDM Ronal Sudrajat, Kabag Tanaman Ary Askari, Kabag Pemasaran yang juga Ketua SPPN VII Sasmika DS, Kabag Kepatuhan dan Manajemen Risiko Yohanes Siagian, serta pejabat lainnya.

Manajer Kebun Ketahun, Iskandar Muda, menyampaikan apresiasi atas arahan manajemen. Ia menyatakan akan segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja lini produksi.

“Dalam tiga bulan terakhir, produksi dan produktivitas menunjukkan tren peningkatan. Kami akan terus menganalisis seluruh opsi untuk mencapai kinerja terbaik,” ujarnya.

Selain meninjau Afdeling 2, tim juga mengecek kondisi tanaman di Afdeling 4 dan berdiskusi mengenai berbagai kendala lapangan yang berpotensi menghambat pencapaian produksi.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan pengajian, santunan anak yatim, serta buka puasa bersama karyawan dan masyarakat sekitar, dilanjutkan salat magrib dan tarawih berjamaah. (*)

Editor: Eva Pardiana
Tags PTPN I Regional 7Bagikan

RELATED NEWS