PTPN I Dampingi Petani Kelapa Produksi Gula Semut

Eva Pardiana - Senin, 07 September 2026 20:28
PTPN I Dampingi Petani Kelapa Produksi Gula Semut PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) mendampingi masyarakat Desa Bulok, Lampung Selatan, dalam mengembangkan potensi kelapa menjadi produk gula semut. (sumber: PTPN I)

LAMPUNG SELATAN — PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) mendampingi masyarakat Desa Bulok, Lampung Selatan, dalam mengembangkan potensi kelapa menjadi produk gula semut. Pendampingan tersebut dilakukan melalui UMKM Nira Sari dengan berbagai program, mulai dari sosialisasi, kajian ekonomi, pemetaan prospek pasar, bantuan teknis pengolahan dan pengemasan, penyediaan bibit unggul, hingga pendampingan usaha.

Desa Bulok merupakan salah satu desa penyangga Kebun PTPN I Regional 7 Kebun Bergen. Ribuan pohon kelapa yang tumbuh di wilayah tersebut selama ini menjadi bagian dari potensi ekonomi masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, sebagian warga mulai memanfaatkan pohon kelapa dengan menyadap niranya untuk diolah menjadi gula semut.

Melalui pendampingan PTPN I, puluhan petani kelapa di Desa Bulok kini memiliki kegiatan usaha yang lebih produktif dengan peluang pendapatan yang lebih baik.

“Alhamdulillah, berkat pendampingan dari PTPN I, kami para petani kelapa yang sebelumnya hanya menjual kelapa dalam bentuk butiran, kini sudah lebih maju dan produktif. Awalnya kami ragu memproduksi gula semut, tetapi setelah berjalan, kami merasakan perbedaannya dibandingkan sebelumnya,” kata Suprayitno, Ketua UMKM gula semut yang memproduksi gula semut merek Nila Sari di rumahnya, Minggu (6/9/2026).

Suprayitno mengatakan, pengembangan pengolahan nira menjadi gula semut turut mengubah pola kerja masyarakat. Pemilik kebun kelapa kini memiliki aktivitas produktif hampir setiap hari.

“Tidak seperti dulu, kami hanya menunggu kelapa tua untuk dipanen. Kalau sekarang, kami seperti pegawai juga. Setiap hari harus bekerja, mulai dari menderes, mengolah, hingga mengemas. Tetapi alhamdulillah, hasilnya juga jauh lebih besar,” ujarnya sambil tertawa.

Perubahan tersebut juga mendorong budaya kerja masyarakat menjadi lebih produktif. Jika sebelumnya pemilik kebun kerap mencari pekerjaan serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ketika tidak sedang panen kelapa, kini aktivitas produksi gula semut justru membutuhkan tambahan tenaga kerja.

“Kalau dulu kami bingung mau bekerja apa ketika tidak sedang panen kelapa. Pohon kelapa juga tidak membutuhkan perawatan khusus, sehingga kami hanya menunggu waktu panen. Belum lagi, harga kelapa per butir juga relatif murah,” katanya.

Kedekatan Desa Bulok dengan salah satu unit kerja PTPN I turut membuka akses bagi masyarakat untuk tumbuh bersama melalui program pemberdayaan. Suprayitno mengatakan, setelah melalui sejumlah diskusi, tim PTPN I memfasilitasi pelatihan pengolahan hasil kelapa, khususnya nira, menjadi gula semut.

PTPN I menghadirkan tenaga ahli untuk memberikan pelatihan, mulai dari penanganan bahan baku, proses pengolahan, hingga pengenalan sasaran pasar dan model pemasaran. PTPN I juga memberikan bantuan mesin pengolahan untuk mendukung peningkatan kapasitas produksi.

“Alhamdulillah, kami mendapatkan ilmu baru dari PTPN I mengenai cara membuat gula semut. Jadi, hasil perkebunan tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi bisa diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Kalau kata orang, ini bentuk hilirisasi. Kami juga mendapatkan bantuan bibit kelapa unggul dari PTPN I, hampir seribu bibit,” ujarnya.

Besarnya nilai tambah tersebut dipengaruhi oleh produktivitas nira, volume produksi, harga jual gula semut, biaya pengolahan, serta kemampuan UMKM dalam mengakses pasar. Karena itu, hilirisasi tidak semata-mata mengubah bentuk produk, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari rantai nilai komoditas.

Direktur Utama PTPN I Abdul Rivai Ras mengatakan, perusahaan terus mendorong model pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui peningkatan nilai tambah komoditas. Pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah kerja perusahaan, menurut dia, diarahkan untuk membangun kemandirian ekonomi, bukan sekadar memberikan bantuan.

“Prinsip kami, pemberdayaan masyarakat harus mampu mengubah potensi menjadi nilai. Komoditas yang selama ini dijual dalam bentuk mentah perlu didorong agar memiliki nilai tambah melalui pengolahan, pengemasan, penguatan merek, dan akses pasar. Saya sangat senang mendengar progres produksi gula semut ini,” kata Abdul Rivai.

Menurut doktor bidang tersebut, hilirisasi merupakan bagian penting dalam membangun ekosistem ekonomi masyarakat. Melalui hilirisasi, masyarakat tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan baku, tetapi juga dapat terlibat dalam proses produksi hingga pemasaran produk.

“Ketika potensi kelapa tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi diolah menjadi produk seperti gula semut yang berkualitas dan memiliki kemasan yang baik, peluang nilai ekonomi yang tercipta menjadi lebih besar. Di sinilah UMKM memiliki peran strategis,” ujarnya.

Abdul Rivai mengatakan, PTPN I akan terus mendorong pendampingan yang terintegrasi, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia, bantuan teknologi dan peralatan, penyediaan bibit, peningkatan kualitas produk, hingga pengembangan akses pasar.

“Kami berharap Nila Sari tidak berhenti sebagai produk lokal. Dengan pendampingan yang konsisten, kami ingin UMKM mampu menghasilkan produk berkualitas, memiliki daya saing, dan mampu menembus pasar yang lebih luas,” ujarnya. (*)

Tags PTPN I Regional 7Bagikan

RELATED NEWS