Dari Seruling ke Coaching Bisnis, Aksi Ketua LPS Anggito dan CT di LFF 2026
Yunike Purnama - Minggu, 06 September 2026 16:53
Ist (sumber: Ist)BANDAR LAMPUNG – Suasana Lampung Financial Festival (LFF) 2026 di Novotel Lampung, Minggu (6/9), berlangsung semarak. Bukan sekadar berbicara soal keuangan, panggung Inspiration Talks: The Journey menghadirkan pesan-pesan inspiratif tentang kerja keras, keberanian menghadapi tantangan, hingga pentingnya membaca peluang di tengah perubahan zaman.
Salah satu momen menarik hadir ketika Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu membuka sesi dengan cara yang tak biasa. Ia memainkan seruling secara langsung dan membawakan lagu yang terinspirasi dari film animasi Jumbo.
Musik tersebut menjadi pintu masuk Anggito untuk menyampaikan pesan kepada generasi muda bahwa perjalanan menuju keberhasilan tidak selalu mudah.
“Kerja keras akan membawa hasil. Untuk menjadi bahagia, tidak harus selalu sempurna,” menjadi salah satu pesan yang ditekankan dalam sesi tersebut.

Anggito juga mengajak peserta untuk tidak takut menghadapi dunia. Menurutnya, seseorang perlu memiliki ketangguhan ketika menghadapi “badai” kehidupan, sekaligus menyiapkan strategi perlindungan agar mampu bertahan ketika tantangan datang.
Selain optimistis, generasi muda juga didorong untuk memperbanyak pengalaman, belajar dari orang-orang yang telah lebih dulu menjalankan usaha atau melewati berbagai tantangan, serta terus berproses.
Ia kemudian mengibaratkan perjalanan kehidupan seperti burung camar—yang terbang tinggi, menembus batas dan menghadapi badai untuk menemukan makna kehidupan.
Pesan tersebut semakin kuat ketika Anggito menyinggung lagu Burung Camar yang dipopulerkan Vina Panduwinata. Baginya, perjalanan hidup memiliki “melodi” tersendiri yang harus dijalani dengan harmonis melalui proses belajar, pengalaman, kerja keras dan tanggung jawab.
Tak hanya berbicara, Anggito juga menunjukkan sisi personalnya di bidang seni. Ia turut menyinggung sosok pelukis sketsa profesional Bambang Herras sebagai salah satu sumber inspirasinya.
Dua Peserta Raih Beasiswa
Interaksi dengan peserta juga menjadi bagian menarik dalam sesi tersebut. Dalam kuis yang digelar, dua peserta berhasil menjawab pertanyaan dan mendapatkan grand prize berupa beasiswa.
Keduanya berasal dari kalangan generasi muda, yakni mahasiswa Universitas Bandar Lampung (UBL) dan siswi SMAN 7 Bandar Lampung.
Kemampuan mereka menjawab pertanyaan tidak datang begitu saja. Sebelum acara, keduanya telah mencari tahu mengenai LPS. Edukasi sebelumnya melalui rangkaian Road to LFF 2026 di lingkungan kampus juga membantu peserta memahami peran dan fungsi LPS.
Sesi bersama Anggito kemudian ditutup dengan suasana penuh keakraban. Para peserta bernyanyi bersama lagu Laskar Pelangi, bahkan terhubung melalui video call langsung dengan Giring Nidji.
Chairul Tanjung Beri Coaching Clinic untuk Pelaku Usaha

Setelah sesi Anggito, panggung Inspiration Talk berlanjut bersama Founder and Chairman CT Corp Chairul Tanjung.
Kisah perjuangan Chairul Tanjung sejak kecil hingga menjadi pengusaha besar ditampilkan melalui film dokumenter. Dari kehidupan keluarga yang sederhana, Chairul menunjukkan bagaimana kerja keras, doa dan kemampuan melihat peluang dapat mengubah perjalanan hidup seseorang.
Namun kali ini, Chairul tidak hanya berbagi kisah sukses. Ia menghadirkan konsep “coaching clinic”, dengan mendengarkan langsung persoalan yang dihadapi peserta yang telah mulai menjalankan usaha.
Satu per satu peserta menyampaikan persoalan bisnis mereka dan mendapatkan tanggapan serta solusi langsung dari Chairul.
Peserta pertama mengungkapkan usaha membantu mahasiswa menyelesaikan skripsi yang mengalami stagnasi. Promosi melalui media sosial juga belum mampu mendongkrak perkembangan bisnis.
Chairul mengingatkan bahwa perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), telah mengubah peta persaingan bisnis.
Menurutnya, jika sebuah bisnis sudah memiliki terlalu banyak pesaing dan mulai terancam oleh teknologi, pelaku usaha perlu berani mencari peluang lain yang lebih menjanjikan.
Persoalan berbeda disampaikan pelaku UMKM kuliner yang berjualan gorengan. Kenaikan harga bahan baku dan menurunnya daya beli membuat margin keuntungan semakin tipis, sementara kebutuhan modal terus meningkat.
Chairul menyarankan pelaku usaha tidak hanya bertahan pada produk yang sudah umum. Peluang dapat dicari melalui inovasi, misalnya menghadirkan makanan atau gorengan kekinian yang lebih sesuai dengan selera pasar.
Strategi harga dan ukuran produk juga dapat disesuaikan dengan kondisi pasar agar usaha tetap berjalan.
AI Bukan Pengganti Kreativitas

Pelaku usaha kreatif juga mendapat perhatian. Seorang peserta yang bergerak di bidang produksi konten mengeluhkan keterbatasan perangkat yang membuat kualitas pekerjaan terkadang belum memenuhi ekspektasi klien.
Di sisi lain, kehadiran AI membuat proses produksi foto, video hingga iklan menjadi semakin mudah.
Chairul menegaskan bahwa AI seharusnya tidak dipandang sebagai musuh kreativitas.
Menurutnya, kreativitas tidak memiliki batas, sementara AI dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk membantu pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien.
“AI bukan pengganti kreativitas, tetapi bisa lebih membantu dalam pekerjaan,” menjadi pesan penting bagi para pelaku industri kreatif.
Persoalan lain datang dari seorang pelaku usaha yang menghadapi masalah karyawan melakukan fraud. Chairul menyarankan agar proses rekrutmen tidak hanya mengandalkan kemampuan teknis, tetapi juga dilengkapi tes psikologi dan kemampuan membaca karakter calon karyawan.
Menariknya, setiap peserta yang menyampaikan pertanyaan dalam sesi tersebut mendapatkan uang tunai sebesar Rp1 juta.
Tak berhenti di sana, Chairul juga memilih lima peserta untuk mendapatkan tabungan awal haji dari Bank Mega Syariah, masing-masing sebesar Rp1 juta.
Rangkaian Inspiration Talks LFF 2026 pun menjadi lebih dari sekadar sesi berbagi pengalaman. Panggung tersebut mempertemukan inspirasi, pengalaman bisnis dan persoalan nyata peserta dalam satu ruang, sekaligus memberikan bekal kepada generasi muda dan pelaku UMKM untuk lebih berani melihat peluang di tengah perubahan.(*)

