Program Mandiri Energi, PTPN I Reg 7 Siapkan 10 Ribu Ha Lahan Singkong
Eva Pardiana - Selasa, 26 Mei 2026 12:30
Business Support Head PTPN I Regional 7, Iskandar Dewantara, dalam rapat percepatan hilirisasi industri singkong di Bandar Lampung, Senin (25/5/2026). (sumber: PTPN I Reg 7)BANDAR LAMPUNG – PTPN I Regional 7 membuka peluang kerja sama bagi investor untuk pengembangan tanaman singkong di Lampung. Lahan seluas lebih dari 10 ribu hektare disiapkan di unit kerja Kebun Kedaton, Bergen, Way Berulu, Way Lima, Tulungbuyut, dan Bungamayang.
Program tersebut merupakan bagian dari implementasi program kemandirian energi Presiden Prabowo Subianto melalui pengembangan energi baru terbarukan berupa etanol berbahan baku singkong.
Penawaran itu disampaikan Business Support Head PTPN I Regional 7, Iskandar Dewantara, dalam rapat percepatan hilirisasi industri singkong di Bandar Lampung, Senin (25/5/2026). Iskandar mengatakan, PTPN I Regional 7 sebagai unit operasional PTPN I dan PTPN III Holding yang mendapat mandat dari pemerintah melalui Danantara siap mendukung program ketahanan energi nasional.
“Kami siap melaksanakan kebijakan Bapak Presiden sebagaimana diamanatkan kepada holding dan Head Office PTPN I untuk dieksekusi di lapangan. Kami memiliki lahan yang dapat dimanfaatkan untuk program ini seluas kurang lebih 10 ribu hektare di enam kebun. Semuanya berada di Lampung,” kata Iskandar di hadapan calon investor di Kantor Regional 7 Bandar Lampung.
Rapat yang diinisiasi Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DKPTPH) Provinsi Lampung itu dihadiri Kepala Dinas Elvira Umihani, Dekan Fakultas Pertanian Unila yang juga Ketua National Cassava Center (NCC) Kuswanta, serta sejumlah pejabat lainnya. Sementara paparan kesiapan PTPN disampaikan Ketua Tim Percepatan Hilirisasi Komoditas Ubi Kayu PTPN III Holding, Erwin Sialagan.
- Satunama bersama OPD Serahkan Policy Brief Disabilitas ke DPRD
- Jasa Raharja dan Korlantas Proaktif Respons Cepat Kecelakaan
- Pertamina Sumbagsel Pastikan Kesiapan Distribusi Energi Jelang Idul Adha
Dalam sambutannya, Elvira Umihani memaparkan kondisi dan proyeksi industri singkong di Provinsi Lampung. Ia menyebut Lampung saat ini menjadi sentra utama produksi singkong nasional dengan kontribusi sekitar 62 persen. Sebagian besar hasil singkong diolah menjadi tepung tapioka.
“Ada 72 pabrik tapioka di Lampung. Bahan bakunya dipasok dari singkong rakyat. Lebih dari 314 ribu keluarga menggantungkan ekonomi dari budidaya singkong dengan produksi sekitar 15 juta ton per tahun,” ujarnya.
Meski produksi singkong cukup tinggi, Elvira menilai pengembangan energi baru terbarukan berbasis etanol membutuhkan kepastian pasokan bahan baku. Karena itu, pemerintah melalui Kementerian Pertanian memberikan mandat kepada PTPN Holding untuk memastikan ketersediaannya.
“PTPN dinilai memiliki potensi dan sumber daya yang kuat untuk menjalankan mandat ini. Pada rapat ini, kami sengaja mengundang seluruh pihak, terutama calon investor, untuk membahas strategi dan teknis pelaksanaannya,” kata dia.
Sementara itu, Erwin Sialagan menjelaskan pemerintah menargetkan penerapan E20 pada 2028, yakni bahan bakar bensin dengan campuran etanol sebesar 20 persen yang berasal dari bahan baku terbarukan, terutama singkong.
Menurut dia, untuk memenuhi kebutuhan tersebut dibutuhkan sekitar 8 juta kiloliter etanol yang diperkirakan berasal dari lahan singkong seluas 104 ribu hektare hingga 2029.
“Tahap awal pada 2026 ditargetkan terealisasi 10 ribu hektare. Selanjutnya akan dipercepat hingga mencapai target tersebut agar pasokan bahan baku industri etanol tetap terjaga,” ujarnya.
Erwin menambahkan, pola kerja sama yang ditawarkan adalah kerja sama usaha (KSU). PTPN menyediakan lahan, sedangkan teknis budidaya, pembiayaan, peralatan, hingga varietas tanaman menjadi tanggung jawab mitra investor.
- PTPN I dan PTPN IV Regional 7 Sembelih 6 Sapi dan 12 Kambing Kurban
- Maknai 31 Tahun, Telkomsel Teguhkan Komitmen Melayani Sepenuh Hati
- PLN NP UP Bandar Lampung Salurkan Bantuan ke Panti Tresna Werda
“Kami menyediakan lahan untuk mendukung program kemandirian energi nasional. Sementara aspek teknis budidaya dan pembiayaan menjadi domain mitra,” kata dia.
Para investor dan perwakilan petani yang hadir menyambut positif program tersebut. Mereka berharap pengembangan industri etanol berbahan baku singkong dapat menjaga stabilitas harga singkong di tingkat petani.
“Kami menyambut baik program ini. Baru beberapa bulan terakhir harga singkong membaik hingga mencapai Rp2.000 per kilogram. Mudah-mudahan dengan program ketahanan energi ini harga tetap stabil sehingga petani singkong bisa lebih sejahtera,” kata Jamsari, pengurus kelompok tani yang hadir dalam kegiatan itu. (*)

