Piala Dunia 2026 Dibayangi Kontroversi Imigrasi dan Keamanan di AS

Eva Pardiana - Sabtu, 13 Juni 2026 20:42
Piala Dunia 2026 Dibayangi Kontroversi Imigrasi dan Keamanan di ASTrofi Piala Dunia. (sumber: Arabian Business)

JAKARTA – FIFA World Cup 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada seharusnya menjadi perayaan sepak bola terbesar di dunia. Namun, menjelang pelaksanaannya, berbagai kontroversi di luar lapangan justru menjadi sorotan, terutama yang berkaitan dengan kebijakan imigrasi dan keamanan di Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah utama.

Sejumlah pihak, mulai dari kelompok hak asasi manusia hingga pengamat sepak bola internasional, mempertanyakan kesiapan Amerika Serikat dalam menghadirkan turnamen yang inklusif bagi seluruh peserta dan pendukung dari berbagai negara.

Presiden FIFA, Gianni Infantino, menegaskan bahwa FIFA tidak memiliki kewenangan untuk mengintervensi kebijakan pemerintah negara tuan rumah.

"Kita hidup di dunia nyata. FIFA bukan pihak yang dapat mengatur pemerintah atau aparat keamanan. Kami adalah organisasi olahraga yang berusaha melakukan yang terbaik," ujar Infantino dalam konferensi pers di Mexico City, Kamis (11/6/2026).

Berikut sejumlah isu yang menjadi perhatian selama persiapan Piala Dunia 2026:

1. Iran Tidak Dapat Bermarkas di Amerika Serikat

Tim nasional Iran dilaporkan menghadapi pembatasan yang membuat mereka tidak bisa menjadikan wilayah Amerika Serikat sebagai basis utama selama turnamen. Kondisi tersebut memaksa skuad Iran menjalani perjalanan lintas negara dari Tijuana, Meksiko, menuju lokasi pertandingan di AS.

Situasi ini dinilai menambah beban logistik dan fisik yang tidak dialami sebagian besar peserta lainnya. Selain itu, beberapa pejabat federasi sepak bola Iran disebut mengalami kendala dalam proses perizinan perjalanan.

2. Keluhan Delegasi dan Suporter dari Negara Afrika

Delegasi beberapa negara Afrika juga mengeluhkan ketatnya pemeriksaan saat memasuki Amerika Serikat. Tim nasional Senegal, misalnya, disebut menjalani proses pemeriksaan yang lebih panjang meski datang sebagai peserta resmi turnamen.

Tingginya angka penolakan visa terhadap suporter dari sejumlah negara berkembang turut memicu kritik terkait kesetaraan akses dalam ajang olahraga global.

3. Wasit Somalia Gagal Bertugas

Kontroversi lain menimpa wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan. Peraih penghargaan wasit terbaik Afrika versi CAF 2025 itu dilaporkan mengalami kendala masuk ke Amerika Serikat sehingga gagal bertugas pada putaran final Piala Dunia.

Akibatnya, peluang Artan menjadi wasit pertama asal Somalia yang memimpin pertandingan Piala Dunia harus pupus. FIFA menyatakan tidak dapat membatalkan keputusan otoritas imigrasi negara tuan rumah.

4. Delegasi Irak Mengalami Kendala di Bandara

Tim nasional Irak juga menghadapi persoalan saat memasuki Amerika Serikat. Penyerang utama Irak, Aymen Hussein, dikabarkan menjalani pemeriksaan berjam-jam di bandara.

Sementara itu, fotografer tim, Talal Salah, dilaporkan tidak memperoleh izin masuk sehingga harus kembali ke negara asalnya.

5. Breel Embolo Terkendala Dokumen Perjalanan

Penyerang tim nasional Swiss, Breel Embolo, sempat mengalami hambatan administrasi yang membuat keberangkatannya tertunda. Setelah menyelesaikan pemeriksaan tambahan, Embolo akhirnya dapat bergabung dengan timnya.

6. Kebijakan Imigrasi Menuai Kritik

Operasi penegakan imigrasi yang dilakukan Amerika Serikat menjelang turnamen mendapat sorotan dari berbagai organisasi hak asasi manusia. Mereka menilai kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan rasa khawatir di kalangan imigran maupun suporter asing yang ingin menyaksikan pertandingan secara langsung.

Kondisi ini dinilai bertentangan dengan semangat FIFA yang selama ini mengusung sepak bola sebagai olahraga yang terbuka bagi semua kalangan.

7. Kekhawatiran Keamanan Publik

Selain persoalan imigrasi, isu keamanan juga menjadi perhatian. Insiden penembakan yang terjadi di dekat area latihan tim nasional Inggris memunculkan kembali kekhawatiran terkait keselamatan pemain, ofisial, dan jutaan suporter yang akan hadir selama turnamen berlangsung.

Peristiwa tersebut kembali mengangkat perdebatan mengenai tingginya angka kekerasan senjata api di Amerika Serikat.

8. Suporter Terancam Rugi Akibat Kendala Visa

Sejumlah penggemar yang telah membeli tiket pertandingan, memesan akomodasi, dan menyiapkan perjalanan internasional menghadapi risiko kerugian akibat masalah visa.

Bagi sebagian suporter, biaya yang telah dikeluarkan mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Selain itu, sejumlah keluhan terkait sistem penjualan tiket juga menambah kritik terhadap kesiapan penyelenggaraan.

Di tengah berbagai polemik tersebut, FIFA menghadapi tantangan besar untuk memastikan seluruh peserta memperoleh perlakuan yang adil. Namun, keputusan terkait visa, imigrasi, dan keamanan tetap berada di bawah kewenangan pemerintah negara tuan rumah.

"Kami akan terus berdiskusi dan mencari solusi. Namun, ada hal-hal yang berada di luar kendali FIFA," kata Infantino.

Kontroversi ini menunjukkan bahwa penyelenggaraan Piala Dunia 2026 tidak hanya menghadapi tantangan olahraga, tetapi juga persoalan geopolitik, kebijakan keamanan, dan hubungan antarnegara yang turut memengaruhi jalannya turnamen. (TA)

RELATED NEWS