Hanung Bawa Film Lobang Buaya ke Lampung, Ungkap Pesan Penting untuk Penonton
Yunike Purnama - Sabtu, 26 September 2026 20:09
Sutradara Hanung Bramantyo hadir di XXI Mall Boemi Kedaton saat screening film Lobang Buaya pada Sabtu(26/9). (sumber: Yunike Purnama/Kabarsiger)BANDAR LAMPUNG – Sutradara Hanung Bramantyo punya cara tersendiri untuk mengajak generasi muda mengenal sejarah kelam bangsa. Melalui film horor terbarunya, Lobang Buaya, Hanung ingin menghadirkan pengingat tentang tragedi 1965 yang dikemas dalam tontonan yang dekat dengan selera generasi Z dan milenial.
Pesan tersebut disampaikan Hanung saat menghadiri screening film Lobang Buaya di Studio 6 XXI Mall Boemi Kedaton, Bandar Lampung, Sabtu (26/9)
Kehadirannya bersama Anya Zein, pemeran Ningsih dalam film tersebut, disambut antusias para penonton yang berkesempatan menyaksikan film itu lebih awal.
Hanung mengungkapkan, Lubang Buaya bukan film horor yang menawarkan ketegangan. Di balik cerita menyeramkan yang disuguhkan, tersimpan pesan agar generasi muda tidak melupakan peristiwa besar dalam perjalanan sejarah Indonesia.
- QRIS Makin Melesat, Transaksi Digital Lampung Tembus Rp2,96 Triliun
- PTPN I Regional 7 Tanam Perdana Demplot Singkong Mukibat
- Investor Pasar Modal Lampung Tumbuh 36,3 Persen, Transaksi 2026 Naik Signifikan
- Pekan Tuli Internasional Lampung 2026, Siap Angkat Isu Budaya Tuli sebagai HAM
"Saya membuat film ini sebetulnya dalam rangka agar anak-anak muda, Gen Z, milenial tidak melupakan sebuah tragedi besar. Ada dua tragedi besar di Indonesia yang merenggut banyak jiwa, yaitu peristiwa '65 dan '98," ujar Hanung.
Menurut Hanung, kedua peristiwa tersebut menyisakan banyak pertanyaan yang perlu terus dikaji. Ia menilai pembahasan mengenai tragedi sejarah itu belum mendapatkan ruang yang cukup mendalam dalam pendidikan formal.
Horor Jadi Alarm bagi Generasi Muda
Pemilihan genre horor dalam film Lubang Buaya bukan tanpa alasan. Hanung sengaja menggunakan genre yang digemari anak muda untuk menyampaikan pesan sejarah melalui pendekatan yang berbeda.
Ia menegaskan, mengangkat tragedi sejarah melalui film horor bukan berarti merendahkan peristiwa tersebut ataupun mengabaikan penderitaan para korban.
"Pilihan genre horor itu bukan semata-mata saya sedang merendahkan peristiwa tersebut, tidak sama sekali. Justru saya berusaha untuk berempati dan bersimpati dengan cara membuat sebuah pengingat, sebuah alarm di bulan September ini," jelasnya.
Bagi Hanung, setiap genre film memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan pesan kemanusiaan. Horor, dokumenter, drama, hingga komedi dapat menjadi medium untuk mengajak masyarakat memahami suatu peristiwa dari sudut pandang berbeda.
"Genre horor itu sama mulianya dengan genre dokumenter, drama, romance, maupun komedi. Tidak ada hubungan antara pemilihan genre dengan sikap empati kami yang membuat film ini terhadap peristiwa tersebut," tegasnya.
Anya Zein Disambut Meriah Penonton Lampung
Tak hanya menghadirkan pesan sejarah, screening film Lobang Buaya juga berlangsung meriah dengan kehadiran Anya Zein yang menyapa langsung para penonton seusai pemutaran film.
Anya mengaku senang melihat antusiasme masyarakat Lampung yang mendapat kesempatan menyaksikan film tersebut lebih awal.
"Senang banget deh, teman-teman sudah pada nonton sebelum orang-orang lain loh. Gimana menurut kalian filmnya?" sapa Anya yang langsung disambut hangat para penonton.
Suasana semakin meriah ketika Anya mengadakan kuis interaktif berhadiah kaos eksklusif seperti yang dikenakannya. Ia menantang penonton menjawab pertanyaan seputar jalan cerita film.
"Siapa yang bisa sebutin dua korban pertama yang diselidiki sama Mas Sugeng?" tanyanya.
Seorang penonton bernama Fatur berhasil menjawab pertanyaan tersebut dengan menyebut karakter polisi dan hansip. Jawaban itu mengantarkannya mendapatkan hadiah kaos langsung dari Anya.
Di penghujung acara, Anya mengajak masyarakat Lampung turut mempromosikan Lubang Buaya agar semakin banyak penonton yang menyaksikan film tersebut.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada penonton dan awak media yang hadir mendukung pemutaran film karya Hanung Bramantyo.(*)

