Guru dan Tendik Yayasan Fatimah Azzahra Dibekali Bantuan Hidup Dasar
Eva Pardiana - Jumat, 31 Juli 2026 07:25
Yayasan Fatimah Azzahra Bandar Lampung mencatat sejarah sebagai sekolah pertama di Provinsi Lampung yang menyelenggarakan pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) secara menyeluruh bagi guru dan seluruh tenaga kependidikan. (sumber: Yayasan Fatimah Azzahra Bandar Lampung)BANDAR LAMPUNG – Yayasan Fatimah Azzahra Bandar Lampung mencatat sejarah sebagai sekolah pertama di Provinsi Lampung yang menyelenggarakan pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) secara menyeluruh bagi guru dan seluruh tenaga kependidikan. Program ini merupakan hasil kolaborasi dengan Fakultas Kedokteran Universitas Lampung (FK Unila), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Cabang Lampung, dan Perhimpunan Mahasiswa Penanggulangan Tanggap Darurat (PMPATD) Pakis Rescue Team sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat untuk mewujudkan sekolah yang tanggap terhadap kondisi kegawatdaruratan.
Pelatihan yang diikuti 108 peserta tersebut melibatkan guru TK dan SD, tenaga administrasi, petugas keamanan (satpam), serta tenaga pendukung lainnya. Seluruh peserta dibekali kemampuan mengenali kondisi kegawatdaruratan, seperti henti napas dan henti jantung, serta keterampilan memberikan Bantuan Hidup Dasar sebagai pertolongan pertama sebelum tenaga medis tiba.
Langkah Yayasan Fatimah Azzahra menjadi terobosan di dunia pendidikan Lampung. Selama ini, pelatihan Bantuan Hidup Dasar umumnya diberikan kepada tenaga kesehatan, sedangkan pelatihan yang melibatkan seluruh tenaga pendidik dan tenaga kependidikan dalam satu institusi pendidikan masih sangat jarang dilakukan.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat FK Universitas Lampung, dr. Iswandi Darwis, SH, M.Sc., Sp.PD., Sp.JP., menjelaskan guru merupakan kelompok yang paling sering mendampingi peserta didik. Karena itu, kemampuan mengenali kondisi gawat darurat dan memberikan pertolongan pertama menjadi kompetensi penting yang perlu dimiliki.
"Kasus pingsan, tersedak, kejang, hingga henti jantung dapat terjadi kapan saja di lingkungan sekolah. Respons cepat dalam beberapa menit pertama dapat menjadi penentu keselamatan korban. Melalui pelatihan ini, kami ingin membangun budaya sekolah yang siap siaga menghadapi kondisi darurat," ujarnya, Jumat (31/7/2026).
- Trimegah Luncurkan Trima+ Versi Baru, Investasi Saham dan Obligasi Makin Mudah
- JAPFA Perluas Program Peningkatan Gizi Anak di Lampung, Jangkau 13.400 Siswa
- Realisasi Pajak Daerah Lamsel 63,29 Persen, BPPRD Optimistis Capai Target
Pelatihan berlangsung selama satu hari pada 11 Juli 2026 dengan metode pembelajaran yang menggabungkan ceramah interaktif, demonstrasi, praktik menggunakan manekin, simulasi kasus, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Materi yang diberikan mengacu pada pedoman terbaru American Heart Association (AHA) mengenai Bantuan Hidup Dasar.
Hasil evaluasi menunjukkan pelatihan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kompetensi peserta. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 62,96 sebelum pelatihan menjadi 80,09 setelah pelatihan. Selain itu, sebanyak 88 peserta atau 81,5 persen berhasil mempraktikkan Bantuan Hidup Dasar sesuai standar penilaian instruktur.
Berdasarkan pedoman American Heart Association, tindakan resusitasi jantung paru (CPR) yang segera diberikan oleh masyarakat dapat meningkatkan peluang hidup korban henti jantung hingga dua sampai tiga kali lipat. Karena itu, membekali guru dan tenaga kependidikan dengan kemampuan Bantuan Hidup Dasar merupakan investasi penting untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman.
Perwakilan Yayasan Fatimah Azzahra Bandar Lampung, Alif Mustafa Thariq (Abi Alif), mengatakan keberhasilan pelatihan tersebut membuktikan bahwa metode pembelajaran yang memadukan teori dan praktik mampu meningkatkan pengetahuan sekaligus keterampilan masyarakat awam dalam menghadapi kondisi darurat medis.
Menurutnya, yayasan berkomitmen menjadikan keselamatan seluruh warga sekolah sebagai prioritas utama. Keberhasilan menjadi sekolah pertama di Lampung yang melaksanakan pelatihan Bantuan Hidup Dasar secara menyeluruh diharapkan dapat menginspirasi sekolah-sekolah lain untuk menerapkan langkah serupa.
- Program Satu Telur Sehari Alfamart Harapan Baru Cegah Anak Stunting
- Perta Arun Gas Antar Indonesia Jadi Hub Re-Ekspor LNG Terbesar Dunia
- Wamenbud Apresiasi Hari Nyeruit Nasional dan Kompetisi The Next Local Hero
Melalui kegiatan ini, Yayasan Fatimah Azzahra tidak hanya meningkatkan kompetensi sumber daya manusianya, tetapi juga mengawali terbentuknya Sekolah Tanggap Darurat, yakni sekolah yang memiliki kesiapan menghadapi berbagai kondisi kegawatdaruratan medis secara cepat, tepat, dan terkoordinasi.
Tim Pengabdian kepada Masyarakat FK Universitas Lampung merekomendasikan agar pelatihan Bantuan Hidup Dasar dilaksanakan secara berkala setiap 6–12 bulan. Selain itu, sekolah juga disarankan membentuk Tim Tanggap Darurat, menyusun standar operasional prosedur (SOP) penanganan kegawatdaruratan, serta menyediakan fasilitas pendukung seperti Automated External Defibrillator (AED) sesuai kemampuan institusi. Langkah tersebut diharapkan mampu membangun budaya keselamatan (safety culture) di lingkungan pendidikan sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi kondisi darurat. (*)

