Energi Dekat, Harapan Menguat di Lumbok
Yunike Purnama - Jumat, 18 September 2026 14:44
Bus Damri angkutan perintis sedang mengisi solar di SPBU Lumbok Seminung, Lampung Barat. (sumber: Ist)LAMPUNG BARAT — Ketahanan energi bukan hanya tentang memastikan bahan bakar tersedia, tetapi juga bagaimana energi dapat menjangkau seluruh masyarakat hingga wilayah yang memiliki tantangan akses dan geografis.
Hal itu salah satunya diwujudkan melalui kehadiran SPBU Satu Harga di Kecamatan Lumbok Seminung, Lampung Barat. Fasilitas ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses energi sekaligus menghadirkan layanan BBM dengan harga yang lebih terjangkau bagi masyarakat di wilayah tersebut.
Kehadiran SPBU ini perlahan mengubah rutinitas warga. Mereka tidak lagi harus menempuh perjalanan jauh ke pusat kota Liwa untuk mendapatkan BBM, atau mengandalkan BBM eceran dengan harga lebih tinggi.
Bagi Pendi (35), pengusaha sayur asal Pekon Lumbok Seminung Lampung Barat, perubahan tersebut terasa langsung sejak SPBU Lumbok mulai beroperasi.
Sebelumnya, Pendi harus menempuh perjalanan sekitar satu jam 30 menit menggunakan mobil untuk mengisi Pertalite di SPBU Liwa. Kini, waktu perjalanan menuju SPBU hanya sekitar 15 menit.
“Lebih dekat dan harga lebih terjangkau,” ujar Pendi.
Ia biasanya mengisi Pertalite menggunakan barcode Pertamina. Sekali pengisian dapat memenuhi kebutuhan operasional mobilnya hingga sekitar tiga hari.
Sebelum ada SPBU, Pendi juga terkadang harus membeli BBM eceran di warung dengan harga sekitar Rp13 ribu hingga Rp14 ribu per liter. Pendi mengaku dulu kalau belum mampu berangkat ke kota untuk isi bensin, ia tidak jualan sementara karena jarak yang jauh ke kota.
Kini, ia dapat memperoleh Pertalite sekitar Rp10 ribu per liter sesuai harga yang berlaku.
Bagi pelaku usaha, perubahan tersebut memberikan dampak langsung terhadap biaya operasional.
Pendi memperkirakan pengeluaran untuk BBM dapat ditekan sekitar 30 persen, atau sekitar Rp30 ribu hingga Rp40 ribu. Penghematan itu menjadi penting karena kendaraan merupakan bagian dari aktivitas usahanya sehari-hari.
Energi Lebih Dekat, Aktivitas Ekonomi Bergerak
Manfaat serupa dirasakan Heri Mulyadi (40) warga Pekon Sukamaju, Lumbok Timur.
Rumah Heri hanya berjarak sekitar 500 meter dari SPBU Lumbok. Jarak tersebut sangat berbeda dibandingkan perjalanan menuju SPBU di Liwa yang sebelumnya membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam.
“Dengan adanya SPBU di Lumbok sangat membantu masyarakat karena jaraknya lebih dekat,” kata Heri.
BBM yang dibelinya tidak hanya digunakan untuk kebutuhan transportasi. Heri juga memanfaatkannya untuk mendukung aktivitas perawatan kebun alpukat dan cokelat, termasuk kebutuhan steam. Baginya bahan bakar sudah jadi nadi usahanya agar bisa tetap bergerak.
Heri memperkirakan sejak adanya SPBU di Lumbok dapat menghemat sekitar Rp50 ribu dalam sekali perjalanan untuk kebutuhan pengisian Pertalite, karena tidak lagi harus menuju SPBU yang jauh dan tidak perlu lagi beli di warung eceran yang harganya lebih mahal.
Bagi masyarakat yang tinggal dan bekerja di wilayah dengan akses terbatas, keberadaan titik distribusi energi yang lebih dekat menjadi bagian penting dalam menopang aktivitas usahanya.
Menjawab Tantangan Geografis
Di balik hadirnya energi yang semakin dekat dengan masyarakat, terdapat proses distribusi yang tidak sederhana.
Muhammad Alwan Sales Brand Manager (SBM) III Fuel Pertamina Patra Niaga Sumbagsel, mengatakan Lampung Barat, terdapat enam SPBU Satu Harga yang berada di Kebun Tebu, Pagar Dewa, Air Itam, Lumbok, Suoh, dan Gedung Surya.
Program SPBU Satu Harga merupakan program pemerintah untuk menghadirkan keseragaman harga BBM subsidi di wilayah sasaran, khususnya wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar).
Menurut Alwan, tantangan ketahanan energi di wilayah tersebut tidak hanya terkait ketersediaan BBM, tetapi juga bagaimana produk dapat didistribusikan melewati kondisi geografis dan akses jalan yang beragam.
Distribusi BBM dilakukan menggunakan mobil tangki berkapasitas 5 KL, 8 KL hingga 16 KL. Kapasitas kendaraan disesuaikan dengan kondisi akses menuju masing-masing SPBU.
Kondisi jalan yang masih berupa tanah, terutama ketika hujan, menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan. Cuaca dan kondisi alam juga dapat memengaruhi proses distribusi.
“Memastikan BBM tersedia di wilayah seperti Lumbok membutuhkan sistem distribusi yang mampu beradaptasi dengan kondisi lapangan,”ujar Alwan.
Teknologi Ikut Beradaptasi
Inovasi juga terlihat dalam sistem pencatatan penyaluran BBM. Di sejumlah SPBU Satu Harga, kondisi jaringan komunikasi yang belum stabil dapat menjadi tantangan dalam transaksi menggunakan barcode.
“Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, tersedia mekanisme pencatatan secara manual yang kemudian diunggah secara berkala ke basis data Pertamina,” ujar Alwan.
Dengan mekanisme tersebut, transaksi tetap dapat terdokumentasi dan penyaluran BBM dapat dipantau sesuai ketentuan.
Di sisi lain, penerapan kuota juga menjadi bagian dari pengendalian penyaluran BBM bersubsidi. Untuk Biosolar, batas kuota yang disebutkan antara lain 60 liter per hari untuk kendaraan roda empat, 80 liter untuk angkutan barang, dan 200 liter untuk truk. Sementara kuota Pertalite mencapai 120 liter per hari sesuai ketentuan yang berlaku.
Ketahanan Energi Dirasakan Tingkat Warga
Kehadiran SPBU Satu Harga di Lumbok memperlihatkan bahwa ketahanan energi memiliki dimensi yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.
Ketika BBM tersedia lebih dekat, waktu tempuh dapat dipangkas. Ketika harga lebih terjangkau, biaya operasional dapat ditekan. Kemudian saat distribusi serta pencatatan diperkuat, akses energi dapat dijaga agar tetap berjalan sesuai sasaran.
Bagi Pendi, manfaatnya terasa dalam usaha sayur yang ia jalankan. Bagi Heri, BBM yang lebih mudah dijangkau membantu aktivitas transportasi sekaligus perawatan kebun.
Di tengah tantangan geografis Lampung Barat, inovasi distribusi energi seperti SPBU Satu Harga menjadi salah satu upaya untuk mendekatkan energi kepada masyarakat.
Sebab ketahanan energi pada akhirnya tidak berhenti pada BBM yang tersedia di tangki SPBU.
Ketahanan energi berarti memastikan masyarakat di wilayah yang jauh sekalipun tetap memiliki akses energi yang mendukung mobilitas, pekerjaan, dan roda perekonomian mereka.(*)

