Dari Lahan Perkebunan, PTPN I Menopang Agenda Pangan dan Energi Nasional
Eva Pardiana - Jumat, 18 September 2026 14:59
Direktur Utama PTPN I (Persero) Abdul Rivai Ras mengatakan perusahaan terus menerjemahkan arah tersebut melalui optimalisasi aset, peningkatan produktivitas, penguatan komoditas strategis dan percepatan hilirisasi. (sumber: PTPN I (Persero))JAKARTA — Kedaulatan pangan tidak dibangun dalam satu langkah. Ia tumbuh dari kemampuan sebuah negara membaca kekuatan yang dimilikinya, mengelola sumber daya secara konsisten, lalu mengubahnya menjadi nilai yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Dalam konteks itulah aset perkebunan negara memperoleh makna yang semakin strategis. Lahan tidak sekadar menjadi tempat tumbuhnya komoditas, tetapi dapat menjadi bagian dari rantai pangan, energi dan industri yang lebih panjang.
Pesan tersebut mengemuka dalam rangkaian pembahasan strategis Menteri Pertanian Republik Indonesia Andi Amran Sulaiman bersama jajaran Direksi PT Perkebunan Nusantara I (Persero). Pemerintah mendorong agar momentum swasembada pangan tidak berhenti pada peningkatan produksi, tetapi dilanjutkan dengan hilirisasi untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
Kementerian Pertanian sendiri menempatkan hilirisasi sebagai bagian penting dari transformasi sektor pertanian. Komoditas tidak lagi hanya dipandang sebagai bahan mentah, melainkan sebagai sumber bahan baku industri, energi dan produk bernilai tambah.
Arah itu terlihat dalam sejumlah agenda yang berlangsung sepanjang Juni hingga Juli 2026. Pada 19 Juni, Kementerian Pertanian bersama pemangku kepentingan membahas penguatan kebijakan dan regulasi BUMN Pangan sebagai tindak lanjut Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2026 tentang Percepatan Swasembada Pangan.
- Energi Dekat, Harapan Menguat di Lumbok
- Telkomsel dan MAP Luncurkan MAPrivilege
- Kebun Kopi Ijen, Jejak Sejarah yang Menopang Ekonomi Rakyat
Pembahasan berlanjut pada 26 Juni melalui finalisasi rancangan Instruksi Presiden tentang Percepatan Hilirisasi Komoditas Pertanian Strategis serta penyusunan Surat Keputusan Bersama mengenai penugasan BUMN Pangan.
Keterlibatan PTPN I dalam rangkaian agenda tersebut menempatkan perusahaan perkebunan negara itu dalam konteks yang lebih luas: bukan hanya sebagai pengelola komoditas perkebunan, tetapi sebagai bagian dari ekosistem yang menopang agenda pangan nasional.
Persinggungan antara pangan dan energi juga semakin nyata. Dalam rapat koordinasi pada 9 Juli 2026, pengembangan ubi kayu dibahas sebagai salah satu bahan baku bioetanol. Komoditas yang selama ini identik dengan pangan tersebut memiliki peluang untuk masuk ke rantai nilai energi terbarukan.
Bagi Indonesia, diversifikasi semacam itu menjadi relevan di tengah perubahan iklim, dinamika geopolitik, gangguan rantai pasok dan fluktuasi harga komoditas global. Ketahanan pangan dan energi semakin membutuhkan basis produksi yang kuat sekaligus industri pengolahan yang mampu menciptakan nilai tambah.
Karena itu, swasembada pangan tidak cukup dimaknai hanya dari kemampuan memenuhi kebutuhan beras. Tebu memiliki posisi dalam agenda swasembada gula. Ubi kayu membuka ruang bagi pengembangan bioetanol. Kelapa sawit tetap menjadi salah satu komoditas strategis perkebunan. Sementara rempah-rempah menyimpan peluang untuk kembali diperkuat sebagai komoditas bernilai tinggi.
Tantangannya adalah bagaimana seluruh potensi tersebut dikelola dalam ekosistem yang terintegrasi, efisien dan berorientasi pada nilai tambah.
Di sinilah hilirisasi menemukan relevansinya. Komoditas tidak berhenti ketika keluar dari kebun. Ia harus bergerak menuju industri, menciptakan produk turunan, memperluas lapangan kerja, memperkuat daya saing dan memperbesar manfaat ekonomi di dalam negeri.
PTPN I memiliki posisi strategis dalam proses tersebut. Dengan aset perkebunan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, perusahaan memiliki ruang untuk mengembangkan komoditas strategis sekaligus membangun kemitraan dengan masyarakat dan pekebun rakyat.
Sejumlah agenda yang dijalankan bersama pemerintah mencakup pengembangan kawasan tebu untuk mendukung swasembada gula, pengembangan ubi kayu sebagai bahan baku bioetanol, penguatan komoditas rempah, dukungan terhadap stabilisasi harga tandan buah segar kelapa sawit, hingga pengembangan hilirisasi ayam terintegrasi.
Cara pandang terhadap aset pun ikut berubah. Nilai sebuah lahan tidak lagi semata ditentukan oleh luas arealnya, tetapi oleh seberapa besar produktivitas, nilai tambah, manfaat sosial dan keberlanjutan yang dapat dihasilkan.
Karena itu, optimalisasi aset produktif menjadi bagian penting dari transformasi PTPN I. Setiap hektare lahan diharapkan semakin produktif, setiap investasi menghasilkan nilai tambah, dan setiap inovasi bermuara pada penguatan ketahanan pangan, energi serta kesejahteraan masyarakat.
Transformasi tersebut juga membutuhkan pendekatan baru dalam pengelolaan perkebunan. Digitalisasi, mekanisasi, pertanian presisi, pemanfaatan data dan penguatan manajemen risiko menjadi instrumen penting untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan usaha.
- PTPN I Dekatkan Cita Rasa Kebun Nusantara kepada Konsumen
- Wamen Transmigrasi dan PATRI Lampung Perkuat Komitmen Pembangunan
- Indosat Dukung Konektivitas Jaringan Andal di Food Culture Festival Metro
Namun, transformasi perkebunan tidak berhenti pada teknologi. Di balik setiap hamparan lahan terdapat petani, pekerja dan masyarakat yang menjadi bagian dari ekosistem usaha. Karena itu, penguatan kemitraan, akses teknologi dan pembiayaan, kepastian pasar serta penciptaan nilai ekonomi di sekitar wilayah operasional menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
Direktur Utama PTPN I (Persero) Abdul Rivai Ras mengatakan perusahaan terus menerjemahkan arah tersebut melalui optimalisasi aset, peningkatan produktivitas, penguatan komoditas strategis dan percepatan hilirisasi.
“PTPN I akan terus memperkuat peran sebagai bagian dari ekosistem pangan nasional. Optimalisasi aset, peningkatan produktivitas, hilirisasi dan penguatan kemitraan dengan masyarakat menjadi bagian dari langkah kami untuk memberikan nilai tambah sekaligus mendukung ketahanan pangan dan energi nasional,” ujar Abdul Rivai di Jakarta, Jumat (18/9/2026).
Pada akhirnya, perkebunan tidak lagi hanya berbicara tentang tanaman yang tumbuh di atas lahan. Di tangan pengelolaan yang tepat, aset negara dapat menjadi titik awal dari rantai nilai yang lebih panjang—dari kebun menuju industri, dari produksi menuju hilirisasi, dan dari aset menjadi manfaat.
Dari sanalah kedaulatan pangan menemukan pijakannya: bukan hanya pada seberapa luas lahan yang dimiliki, tetapi pada seberapa produktif lahan itu dikelola, seberapa besar nilai yang diciptakan, dan seberapa luas manfaatnya dirasakan masyarakat. (pn)

