Empat Tren Bisnis FMCG B2B di 2023
Yunike Purnama - Kamis, 19 Januari 2023 15:34
JAKARTA - Empat tren akan menjadi tema utama bisnis Fast Moving Consumer Goods (FMCG) di tahun 2023 ini. Hal tersebut terungkap dalam studi bertajuk "B2B FMCG Marketplace Indonesia Outlook 2023” oleh CELIOS (Center of Economic and Law Studies) dan GudangAja.
Empat tema dimaksud adalah kebutuhan sistem one-stop solution untuk mempercepat proses validasi data secara realtime sehingga prinsipal dapat mengikuti perkembangan pasar secara lebih cepat, pendekatan multi saluran (omnichannel) sebagai salah satu upaya industri B2B FMCG dapat bertumbuh lebih pesat.
Kemudian tuntutan keamanan data pribadi seiring meningkatnya jumlah para pelaku usaha yang menggunakan platform digital B2B serta permintaan one-stop financing dengan tenor yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan UKM.
- SIPF: Sepanjang 2022 Enam Juta Investor Pasar Modal Dilindungi DPP
- Pertamina Makin Dekat Rencana Akuisisi Blok Masela
- Kuliah Pakar Poltekkes Kesuma Bangsa Bahas Teknik Pengolahan Data Penelitian Ilmu Rekam Medik
SVP Marketing & Corporate Affairs GudangAda, Yuanita Agata mengatakan GudangAda sendiri sebagai penyedia platform digital B2B di tahun 2023 akan fokus pada aspek strategis untuk mencapai posisi terbaik dalam mengarungi persaingan bisnis yakni dengan membangun jalur distribusi yang lebih efisien guna dukung perkembangan bisnis principal dan strategic sellers di area strategis.
"Mengutamakan sustainability dengan menciptakan level margin yang sehat antara Principal dan Mitra Bisnis, dan fokus pada strategic buyer dan seller dengan meningkatkan literasi digital mitra dalam memaksimalkan fitur layanan di dalam aplikasi GudangAda serta menyediakan akses kredit produktif yang aman bagi mitra bisnis UKM,” kata Yuanita dalam website resmi, dikutip Kamis, 19 Januari 2023.
Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira mengatakan studi ini dibuat menggunakan metode studi literatur dengan berbagai sumber baik primer maupun sekunder dan studi terdahulu yang relevan.
Hasil studi menunjukkan bahwa 60% UKM di Indonesia sudah merasakan manfaat dari penerapan digitalisasi pada bisnisnya seperti mempermudah mencari supplier dan menjangkau pelanggan.
Menurutnya, saat ini pasar Indonesia sedang berada di masa transisi dari fase 2 (customer process portal) menuju fase 3 (multi-channel infrastructure).
Kehadiran platform B2B digital seperti GudangAda dapat berperan efektif dalam mengakselerasi transisi tersebut melalui ragam layanan bisnis digital yang terintegrasi kepada segenap pemain di industri B2B, mulai dari Prinsipal hingga pelaku bisnis level UKM seperti pemilik toko dan warung.
Temuan Lainnya
Riset menemukan tantangan terbesar yang dihadapi UKM dalam mengembangkan usaha pasca pandemi adalah kompetisi dengan toko modern (36%), konsumen gagal bayar utang (31%), dan lokasi usaha yang tidak menguntungkan (27%).
Hal ini berkorelasi dengan temuan lain, terdapat peningkatan kebutuhan solusi digital sederhana untuk kecepatan dan efisiensi biaya, fleksibilitas pembayaran, jangkauan pasar lebih luas.
“Ini menjadi peluang eskalasi volume B2B FMCG di Indonesia pada 2023 dinilai masih besar seiring dengan potensi bisnis UKM Indonesia, pertumbuhan pengguna internet, serta dukungan pemerintah dalam meningkatkan inklusi keuangan masyarakat,” tambah Bhima.
- Kena PHK Sepihak, Ketua AJI Bandar Lampung Lapor ke Disnaker
- Per Februari 2023, PDAM Way Rilau Lakukan Penyesuaian Tarif
- Masih Stagnan! Cek Harga Emas Antam di Pegadaian Jumat, 13 Januari 2023
Hasil riset menunjukkan platform B2B digital sebagai penyedia saluran distribusi dari produsen, penjual hingga ke end-user akan menjadi tren yang menyebar di berbagai industri, tak terkecuali FMCG.
Riset juga memperlihatkan berbagai tantangan perkembangan industri B2B dari segi rendahnya literasi keuangan, kesenjangan akses digital, dan pembiayaan bagi UKM yang harus diwaspadai oleh para pemain B2B FMCG di Indonesia.
Terdapat prinsip-prinsip panduan (Strategi 4P) di dalam riset yang ditujukan bagi para pemain B2B FMCG untuk membangun ekosistem B2B yang berkelanjutan, diantaranya: (1) Pembuatan aplikasi terintegrasi secara end-to-end, (2) Penguatan saluran distribusi, (3) Penjualan terfokus pada penjual strategis di area tertentu, (4) Penjagaan rasio biaya untuk stabilitas harga pasar.(*)