Diplomasi Daun PTPN I Bangkitkan Tembakau Deli

Eva Pardiana - Senin, 12 Januari 2026 11:31
Diplomasi Daun PTPN I Bangkitkan Tembakau DeliTeddy Yunirman Danas, Direktur PTPN I. (sumber: PTPN I)

MEDAN – Tembakau Deli pertama kali dibudidayakan secara komersial oleh Jacobus Nienhuys, seorang pedagang Belanda di Sumatera Timur, pada 1863. Komoditas ini sempat dijuluki “emas hijau” karena reputasinya sebagai pembungkus cerutu terbaik di dunia. Tersohor hingga Eropa, tembakau ini juga menjadi warisan berharga bagi PTPN ketika perusahaan-perusahaan Belanda dinasionalisasi pada 1956. Namun, fluktuasi pasar dan diversifikasi usaha membuat pamor komoditas ini sempat meredup.

Kini, tuntutan diferensiasi usaha dan komoditas di tubuh PTPN I kembali memberi perhatian pada Tembakau Deli. Melalui kajian mendalam, PTPN I Regional 1 mengambil kebijakan untuk mengembalikan kejayaan warisan sejarah ini. Selain soal reputasi, “diplomasi daun” ini juga dinilai memiliki prospek bisnis yang sangat baik ke depan.

“Kita membaca sejarah. Tembakau Deli ini luar biasa. Sejak 1863, produk ini sudah terkenal hingga Eropa. Bahkan, ketika dikomersialkan dengan mendirikan pabrik berskala industri, Belanda sampai memobilisasi tenaga kerja dari Jawa. Kita mengenalnya dengan istilah kolonisasi ke Deli,” kata Teddy Yunirman Danas, Direktur PTPN I, di Jakarta, Senin (12/1/2026).

Teddy menyampaikan dukungan penuh terhadap prakarsa PTPN I Regional 1 yang terus menggenjot produksi dan memperluas tanaman tembakau khas Deli di lahan-lahan milik perusahaan. Inisiatif ini, menurut Plt Region Head PTPN I Regional 1 Wispramono Budiaman, bukan sekadar bisnis yang prospektif, tetapi juga upaya melekatkan identitas dan keunggulan suatu kawasan di kancah global.

Wajah ekonomi dan sosial Kota Medan sebagai lokus utama Deli akan tetap menjadi salah satu legenda perkebunan Indonesia yang bertahan hingga hari ini.

Menjaga marwah Tembakau Deli di tengah modernisasi, Teddy mengingatkan bahwa tantangan pelestarian semakin kompleks seiring pesatnya urbanisasi. Namun, ia memastikan PTPN I tetap fokus menjaga teknik penanaman tradisional yang presisi agar kualitas legendaris Tembakau Deli tidak tergerus zaman.

“Tembakau Deli bukan sekadar tanaman, melainkan saksi sejarah yang telah mendunia selama lebih dari satu setengah abad. Kami memikul tanggung jawab besar untuk memastikan kualitas ini tetap selaras dengan modernisasi industri. Ini adalah langkah kami menjaga ‘Diplomasi Daun’ Indonesia di mata internasional,” kata Teddy.

Strategi Pelestarian 2026

Guna menghadapi tantangan pembangunan infrastruktur di Sumatera Utara, PTPN I menjalankan tiga strategi utama. Pertama, melakukan konservasi ketat terhadap lahan inti yang memiliki karakteristik tanah unik yang tidak ditemukan di tempat lain.

Kedua, PTPN I melakukan digitalisasi edukasi sejarah, mencakup pengarsipan dokumen dan alat pengolahan tradisional ke dalam platform digital, serta restorasi bangsal (gudang pengering) berarsitektur kolonial sebagai destinasi wisata sejarah perkebunan yang modern.

Ketiga, perusahaan fokus pada regenerasi keahlian dengan mengintensifkan program transfer ilmu bagi para penyortir daun (sorter) generasi muda. Langkah ini krusial untuk menjaga ketajaman rasa dan ketelitian mata dalam menentukan kualitas daun yang selama ini diwariskan secara turun-temurun.

Hingga saat ini, Tembakau Deli tetap menjadi salah satu produk asli Indonesia dengan posisi tawar yang tak tergantikan di pasar lelang internasional, terutama di Bremen, Jerman. Standar kualitas yang dijaga sejak era kolonial memastikan setiap cerutu premium dunia yang menggunakan pembungkus dari Deli tetap membawa aroma khas tanah Sumatera.

Melalui upaya pelestarian yang konsisten, PTPN I berharap Tembakau Deli tetap menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Utara sekaligus rujukan dunia internasional atas kejayaan panjang perkebunan Indonesia. (*)

Editor: Eva Pardiana
Bagikan

RELATED NEWS