BI Diprediksi Naikkan Suku Bunga Pekan Depan

Yunike Purnama - Jumat, 16 Desember 2022 06:06
BI Diprediksi Naikkan Suku Bunga Pekan DepanIlustrasi logo The Fed (Bank sentral AS). (sumber: Bloomberg )

JAKARTA - The Fed resmi menaikan suku bunga pada FOMC bulan Desember ini. Hal ini juga akan diikuti oleh bank sentral lainnnya, termasuk Bank Indonesia (BI) yang diprediksi akan menaikkan suku bunga pada pekan depan. 

Financial Expert Ajaib Sekuritas Ratih Mustikoningsih menjelaskan, The Fed resmi menaikan suku bunga pada FOMC bulan Desember ini. Terhitung sejak Maret 2022 The Fed rutin menaikan suku bunga, hingga pada Desember tahun 2022 suku bunga The Fed kembali naik 50 bps menjadi pada kisaran 4,25%-4,5%, sekaligus menjadi suku bunga tertinggi sejak 2007 saat krisis subprime mortgage.

Menurut Ratih, keputusan The Fed menaikan suku bunga membuat beberapa bank sentral melakukan kebijakan yang sama termasuk Indonesia. 

Bank Indonesia telah mengikuti langkah The Fed, tercermin untuk keempat kalinya secara berturut turut hingga di pertemuan Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI bulan November suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) berada pada level 5,25%, atau naik 50 bps dari RDG bulan lalu. Jika dihitung, spread suku bunga BI dan The Fed saat ini hanya sebesar 75 bps.

“Oleh karena itu, Bank Indonesia diprediksi akan tetap mengikuti langkah The Fed untuk menaikan suku bunga di pekan depan demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mencegah capital outflow di pasar keuangan seperti saham dan obligasi, ditengah imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS)  yang lebih menarik,” ungkap Ratih pada Kamis, 15 Desember 2022.

Di pasar ekuitas, lanjut Ratih, asing tercatat net sell Rp 6,31 triliun secara mingguan dan dalam satu bulan terakhir mencatatkan net sell sebesar Rp11,13 triliun. Kenaikan suku bunga The Fed yang memicu depresiasi nilai tukar rupiah turut berdampak pada imported inflation, sehingga emiten yang menggunakan bahan baku impor akan tertekan terhadap selisih kurs.

“Emiten yang menerbitkan global bond juga akan memiliki forex losses yang semakin besar dan akan menyebabkan profitabilitas menurun,” tambah Ratih.

Ratih menyebut, The Fed berpotensi melanjutkan kenaikan suku bunga hingga tahun 2023 dengan kemungkinan total kenaikan 75 bps pada periode tersebut. Hal ini sejalan dengan tingkat inflasi tahunan AS masih tinggi sebesar 7,1% di bulan November 2022, walaupun telah melandai dari bulan sebelumnya yang tercatat 7,7%, namun masih jauh di atas target The Fed  sebesar 2%.

“Oleh karena itu, Investor diharapkan lebih cermat dalam memilih saham. Carilah saham berfundamental baik, memiliki prospek bisnis yang berkelanjutan dan defensif di sektor perbankan, metal mining dan consumer goods, ditengah risiko pelemahan ekonomi akibat kebijakan hawkish tersebut,” jelas Ratih. (*)

Editor: Redaksi
Tags suku bunga acuan BIBagikan
Yunike Purnama

Yunike Purnama

Lihat semua artikel

RELATED NEWS