PGN
Penulis:Eva Pardiana

MEDAN – PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas), anak usaha PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) yang tergabung dalam Subholding Gas Pertamina, memaparkan strategi pengembangan dan pemanfaatan BioCNG untuk sektor transportasi, industri, dan komersial dalam ajang Diseminasi Pengembangan Biometana di Indonesia yang digelar di Medan.
Kegiatan yang diinisiasi Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, lembaga keuangan, serta pemangku kepentingan energi terbarukan guna memperkuat ekosistem biometana nasional.
Dalam forum tersebut, PGN Gagas menegaskan kesiapan perusahaan mendukung pengembangan biometana sebagai sumber energi terbarukan. Biometana merupakan biogas yang telah dimurnikan hingga memiliki kandungan metana sebesar 90–95 persen sehingga setara dengan spesifikasi gas bumi dan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan industri, komersial, maupun transportasi.
Direktur Utama PGN Gagas, Santiaji Gunawan, mengatakan perusahaan siap berperan sebagai agregator, offtaker, dan distributor biometana dengan memanfaatkan pengalaman serta infrastruktur yang telah dimiliki.
“Kami berperan sebagai agregator, offtaker, dan distributor biometana dengan memanfaatkan pengalaman, aset, dan basis pelanggan yang telah kami miliki,” ujar Santiaji, Rabu (17/6/2026).
Menurutnya, kesiapan tersebut didukung oleh empat fondasi utama, yakni kompetensi dalam kompresi dan penanganan gas bertekanan, armada virtual pipeline melalui Gas Transport Module (GTM), jaringan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) di berbagai wilayah, serta basis pelanggan industri dan komersial yang dapat menjadi offtaker biometana.
Sumatera Utara dinilai memiliki potensi besar untuk pengembangan BioCNG karena ketersediaan bahan baku (feedstock) yang melimpah, terutama dari Palm Oil Mill Effluent (POME) atau limbah cair pabrik kelapa sawit. Secara nasional, volume POME diperkirakan mencapai sekitar 100 juta ton per tahun.
Pemanfaatan POME menjadi BioCNG dinilai mampu memberikan berbagai manfaat, antara lain mendukung substitusi energi impor dengan energi domestik terbarukan, mengurangi emisi metana, menciptakan nilai tambah dari limbah, serta memperluas akses energi ke wilayah yang belum terjangkau jaringan pipa gas.
Santiaji juga menyoroti sejumlah tantangan yang masih perlu diatasi dalam pengembangan biometana, mulai dari konsistensi pasokan dan kualitas feedstock, standardisasi spesifikasi biometana, kepastian offtake dan keekonomian proyek, logistik, pembiayaan, hingga kebutuhan regulasi terkait harga, sertifikasi green gas, dan insentif.
Karena itu, PGN Gagas mendorong kolaborasi antara pemerintah, pemilik feedstock, lembaga keuangan, otoritas karbon, dan industri pengguna energi untuk membangun ekosistem biometana yang berkelanjutan.
“Kami siap menjadi penghubung antara potensi biometana di hulu dan kebutuhan energi masyarakat di hilir dengan infrastruktur dan pelanggan yang sudah kami miliki. Dari limbah, kita ubah menjadi energi untuk negeri,” kata Santiaji.
Sebagai bentuk komitmen pengembangan distribusi gas beyond pipeline di Sumatera, PGN Gagas tengah membangun Mother Station (MS) Medan yang dimulai pada 2025. Infrastruktur tersebut diproyeksikan melayani kebutuhan compressed natural gas (CNG) di Sumatera Utara sekaligus menjadi titik integrasi distribusi BioCNG seiring berkembangnya ekosistem biometana di wilayah tersebut. (*)