Penulis:Yunike Purnama

BANDARLAMPUNG — Sijado Institute bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VII Bengkulu dan Lampung menggelar Malam Cerita Budaya sekaligus peluncuran buku Sepilihan Cerpen Berbasis Cerita Rakyat dan Budaya Lampung.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Alih Wahana Cerita Rakyat dan Budaya Lampung dalam Bentuk Cerpen Modern.
Program tersebut bertujuan menghidupkan kembali cerita rakyat dan nilai budaya Lampung melalui pendekatan sastra modern, sekaligus menjadi ruang pembelajaran dan pengembangan bagi penulis muda di Provinsi Lampung. Cerita rakyat diolah dalam bentuk cerpen dengan pendekatan yang lebih kontekstual dan dekat dengan generasi muda.
Kepala UPTD Taman Budaya Lampung, Melly Ayunda, menyatakan kegiatan ini berkontribusi penting dalam upaya membangun literasi dan kesadaran budaya di kalangan generasi muda. “Kegiatan seperti ini sangat membantu dalam memperkuat literasi sekaligus pelestarian budaya,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Prof. Dr. Farida Ariyani, M.Pd, Guru Besar Bahasa Lampung pertama di Universitas Lampung. Menurutnya, Lampung membutuhkan lebih banyak ruang kreatif dan kegiatan kebudayaan untuk membangun ekosistem budaya yang berkelanjutan.
Ketua Sijado Institute, Udo Z. Karzi, menjelaskan bahwa program ini berangkat dari gagasan untuk menghadirkan kembali cerita rakyat dan budaya Lampung dalam bentuk yang lebih adaptif dengan perkembangan zaman. “Cerpen modern menjadi medium yang efektif untuk menjembatani tradisi dan generasi muda,” katanya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Lomba Menulis Cerpen Berbasis Cerita Rakyat dan Budaya Lampung yang diikuti 57 naskah dari pelajar dan mahasiswa. Sebanyak 20 cerpen terpilih kemudian mengikuti Workshop Penulisan Cerpen, sebelum melalui proses kurasi akhir.
Dari proses kurasi yang dilakukan oleh Udo Z. Karzi, Fadilasari, dan Yulizar Fadli, terpilih 17 cerpen untuk dibukukan. Cerpen terbaik pertama diraih oleh Aisyah ZA melalui karya Kain Merah di Malam Jahanam. Posisi terbaik kedua diraih Fauzi dengan cerpen Kebun Keluarga, sementara terbaik ketiga diraih Nabila Aulia Deboa Sain melalui cerpen Mengawini Anjing Gila.
Peluncuran buku ini diharapkan dapat menjadi langkah strategis dalam pelestarian cerita rakyat dan budaya Lampung melalui karya sastra yang relevan dengan perkembangan zaman.(*)