Yayasan Satunama FGD Pemberdayaan Ekonomi Disabilitas
Yunike Purnama - Minggu, 18 Januari 2026 21:07
Yayasan Satunama FGD menggali persoalan dan potensi pengembangan ekonomi bagi Perkumpulan Komunitas Disabilitas Kota Bandar Lampung. (sumber: Ist)BANDARLAMPUNG - Sebagai upaya mendukung pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan bagi kelompok disabilitas, Yayasan Satunama Yogyakarta menggelar Regular community meetings berupa FGD untuk menggali persoalan dan potensi pengembangan ekonomi bagi Perkumpulan Komunitas Disabilitas Kota Bandar Lampung. Kegiatan berlangsung selama dua hari Sabtu (17/1) bertempat di Yayasan Cipta Baru dan Minggu (18/1) Sekretariat Gerkatin Lampung.
Fasilitator Lapang Yayasan Satunama untuk Wilayah Bandar Lampung Sely Fitriani mengatakan kegiatan FGD ini dilaksanakan sebagai wahana strategis untuk menggali persoalan nyata yang dihadapi oleh kelompok disabilitas, menginventarisasi potensi ekonomi mereka, serta memetakan individu-individu yang berpotensi menjadi champion atau penggerak dalam pengembangan ekonomi.
“Hasil dari FGD ini diharapkan menjadi dasar rekomendasi program, kolaborasi, dan kebijakan yang lebih tepat sasaran serta berkelanjutan demi peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi komunitas disabilitas di Bandar Lampung,” ujar Sely.
- Lima Real Food Ini Bisa Tingkatkan Mood, Lho!
- Ini Olahraga yang Cocok Dikerjakan di Rumah saat Musim Hujan
- Bank Raya Optimalisasi Program Loyalitas Pelanggan
- MitMe Day Bahas Strategi Agar UMKM Lebih Dipercaya di 2026
Hambatan pemberdayaan ekonomi disabilitas

Sely melanjutkan, dalam pemberdayaan ekonomi penyandang disabilitas saat ini masih menghadapi beberapa hambatan, antara lain keterbatasan sumber daya, akses modal, rendahnya akses pelatihan dan fasilitas penunjang, sosial stigma, serta belum optimalnya jejaring usaha, yang berdampak pada keterbatasan kontribusi mereka dalam perekonomian lokal.
Selain itu, implementasi kebijakan pemberdayaan di tingkat kota belum maksimal karena berbagai kendala sumber daya dan koordinasi, termasuk keterbatasan tenaga ahli dan sarana pendukung yang memadai.
Perlu adanya penggerak pengembangan ekonomi inklusif

Ia melanjutkan dalam konteks pemberdayaan ekonomi, tidak cukup hanya menyusun kebijakan, tetapi perlu ada identifikasi individu atau kelompok di dalam komunitas disabilitas yang memiliki kemampuan, motivasi, dan potensi untuk menjadi champion atau penggerak pengembangan ekonomi inklusif.
Champion ini diharapkan dapat menjadi motor penggerak perubahan, menginspirasi rekan-rekannya, serta menjembatani hubungan antara komunitas disabilitas dengan pelaku usaha, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya.
Dengan demikian, pemberdayaan ekonomi tidak hanya berhenti sebagai program, melainkan menjadi gerakan yang berkelanjutan dan berdampak luas bagi kesejahteraan anggota perkumpulan kelompok disabilitas di Kota Bandar Lampung.(*)

