disabilitas
Penulis:Yunike Purnama

BANDAR LAMPUNG — Komunitas disabilitas memiliki peran strategis dalam mendorong terciptanya pembangunan yang inklusif dan berkeadilan.
Tidak hanya menjadi ruang untuk saling belajar dan memberikan dukungan, komunitas juga menjadi wadah bagi penyandang disabilitas untuk menyuarakan aspirasi, memperjuangkan hak, serta terlibat aktif dalam proses pembangunan di daerah.
Upaya memperkuat peran tersebut, Komunitas Disabilitas Bandar Lampung melalui program yang selama satu tahun terakhir difasilitasi Yayasan SATUNAMA Yogyakarta bersama Lamban Puan.
Program tersebut menunjukkan sejumlah perkembangan positif. Anggota komunitas mulai semakin aktif membangun jejaring, lebih berani menyampaikan aspirasi, serta membuka komunikasi dan dialog dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan DPRD.
“Kesadaran untuk memperjuangkan persoalan disabilitas secara bersama-sama juga mulai tumbuh. Berbagai persoalan yang selama ini dihadapi penyandang disabilitas tidak lagi dipandang sebagai persoalan individu, melainkan sebagai isu bersama yang perlu diperjuangkan melalui organisasi yang kuat dan solid,”ujar Himawan Satya Pambudi Kepala Departemen Demokrasi, Politik, Pemerintahan & Inklusi Sosial (DPPIS), Yayasan SATUNAMA Yogyakarta.
Himawan melanjutkan, namun perjalanan tersebut masih membutuhkan penguatan. Hasil evaluasi program menunjukkan bahwa tata kelola organisasi, pembagian peran, mekanisme kerja, pengambilan keputusan, hingga perencanaan program masih menjadi sejumlah aspek yang perlu diperkuat.
Partisipasi anggota juga terus didorong agar tidak sekadar hadir dalam kegiatan, tetapi tumbuh dari rasa memiliki dan komitmen terhadap tujuan bersama. Dengan demikian, organisasi diharapkan mampu berjalan secara mandiri, efektif, dan berkelanjutan.
Sejalan dengan rencana pengembangan program, penguatan organisasi menjadi salah satu strategi penting untuk membangun komunitas disabilitas yang semakin mandiri dan memiliki kepemimpinan yang kuat.
“Organisasi diharapkan mampu menjalankan pertemuan secara rutin, memperjelas pembagian peran, membangun kemitraan dengan berbagai pihak, serta mengambil bagian dalam advokasi kebijakan dan pembangunan yang inklusif di Kota Bandar Lampung,”ujar Sely Fitriani Koordinator Program Satunama untuk Bandar Lampung.
Sely melanjutkan untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan ruang bersama bagi seluruh anggota untuk melakukan refleksi terhadap perjalanan organisasi, menyusun arah dan tujuan, memperjelas tanggung jawab masing-masing, sekaligus menyepakati program kerja yang akan menjadi pedoman kegiatan ke depan.
Hal tersebut menjadi latar belakang digelarnya Pertemuan Komunitas Disabilitas Bandar Lampung tentang Perencanaan Organisasi.
Pertemuan ini diharapkan menjadi momentum untuk membangun kesamaan visi sekaligus memperkuat komitmen seluruh anggota dalam mengembangkan organisasi yang efektif, inklusif, dan berkelanjutan.
Lebih dari sekadar menyusun rencana kerja, forum tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat kapasitas organisasi agar mampu menjalankan fungsinya sebagai wadah representasi penyandang disabilitas.
Dengan organisasi yang semakin kuat, komunitas diharapkan mampu membangun kolaborasi yang lebih luas dengan pemerintah, DPRD, organisasi masyarakat sipil, serta berbagai pihak lainnya.
Pada akhirnya, penguatan tersebut diharapkan dapat mendorong terciptanya pembangunan Kota Bandar Lampung yang semakin menghormati hak, partisipasi, kesetaraan, dan kebutuhan penyandang disabilitas.
Dalam pertemuan tersebut, terdapat sejumlah tujuan utama yang hendak dicapai, yakni pertama merefleksikan perkembangan komunitas selama satu tahun terakhir. Kedua menyusun arah dan tujuan organisasi. Ketiga menyepakati pembagian peran dan tanggung jawab anggota. Keempat menyusun program prioritas serta rencana kerja komunitas. Kelima membangun komitmen bersama untuk memperkuat organisasi.
Pertemuan ini diikuti oleh pengurus dan anggota Komunitas Disabilitas Bandar Lampung dengan pendampingan fasilitator dari Yayasan SATUNAMA Yogyakarta. (*)