Berkarya Tanpa Batas Satunama Ajak Disabilitas Paham Digital Marketing
Yunike Purnama - Senin, 09 Maret 2026 05:22
Yayasan Satunama menggelar Pelatihan Marketing Digital untuk Perkumpulan Disabilitas Kota Bandar Lampung bertempat di Hotel Emersia. (sumber: Ist)BANDARLAMPUNG - Sebagai upaya meningkatkan peluang usaha yang dimiliki anggota Perkumpulan Disabilitas Bandar Lampung, Yayasan Satunama menggelar Pelatihan Marketing Digital bertempat di Hotel Emersia selama dua hari pada Minggu (8/3)- Senin (9/3).
Pelatihan Marketing Digital Perkumpulan Disabilitas Bandar Lampung menghadirkan narasumber dari Satunama Karel Tuhehay dan komunitas Deus Caritas Est (DCE) Anita Prajitno yang memberikan materi mulai dari penguatan pondasi mindset sebagai pelaku usaha hingga praktik memanfaatkan media sosial untuk penjualan produk.
- Satu Tahun Danantara: Bukti BUMN Perkuat Pondasi Ekonomi Indonesia
- PLN UID Lampung Tinjau Kesiapan SPKLU di Jalur Mudik Lebaran 2026
- Gerebek Tambang Ilegal, PTPN I Reg 7 Apresiasi Polda dan Kodam XXI/RI
Koordinator Yayasan Satunama Bandar Lampung Sely Fitriani mengatakan, penyandang disabilitas merupakan kelompok rentan yang secara struktural menghadapi hambatan berlapis dalam akses ekonomi, mulai dari diskriminasi kerja, keterbatasan akses modal, hingga minimnya fasilitas pendukung usaha.
Adanya Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas secara tegas menjamin hak atas pekerjaan dan kewirausahaan yang inklusif, namun implementasinya di tingkat daerah masih belum optimal.


Berdasarkan hasil FGD yang telah dilakukan, komunitas ini tidak hanya berfungsi sebagai wadah solidaritas sosial, tetapi juga sebagai ruang kolektif untuk membangun kemandirian ekonomi anggotanya.
Di Kota Bandar Lampung, sebagian besar anggota komunitas disabilitas bergerak di sektor informal dan usaha mikro seperti jasa pijat/terapi, menjahit dan vermak, kuliner rumahan, steam motor, reseller produk herbal, kerajinan dan sablon, kemudian warung dan perdagangan kecil
“Namun usaha-usaha tersebut masih berjalan secara konvensional dan belum terintegrasi dengan strategi pemasaran digital,”ujar Sely.
Sely melanjutkan, hasil FGD komunitas disabilitas ditemukan fakta temuan kunci mayoritas peserta belum optimal memanfaatkan media sosial untuk promosi. Saat ini masih dominan melalui WhatsApp, memahami strategi Instagram dan TikTok bisnis. Belum memanfaatkan Google Maps untuk lokasi usaha.
Usaha sudah berjalan, tetapi tidak berkembang signifikan. Diskriminasi kerja mendorong peserta memilih usaha mandiri. Banyak mengalami penolakan kerja karena disabilitas.Usaha mandiri menjadi pilihan utama bertahan hidup.
Kebutuhan pelatihan promosi dan pemasaran muncul secara eksplisit. Peserta menyebut perlunya pelatihan promosi digital. Akses pasar menjadi tantangan utama selain modal. Artinya, masalah utama bukan hanya kekurangan modal, tetapi keterbatasan akses pasar dan kemampuan pemasaran.(*)

