PTPN I Regional 7
Penulis:Eva Pardiana
Editor:Eva Pardiana

BANDAR LAMPUNG — Holding PTPN Group menyiapkan lahan seluas 10 ribu hektare di Lampung untuk mendukung program pengembangan singkong sebagai ekosistem agroindustri nasional. Komitmen itu disampaikan Regional Head PTPN I (Persero) Regional 7 Iyan Heryanto mewakili PTPN Group dalam Seminar Nasional Cassava bertema "Menuju Lampung sebagai Pusat Cassava Nasional" di Ruang Sidang Utama Rektorat Universitas Lampung (Unila), Selasa (8/9/2026).
Seminar digelar LPPM Unila sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-61 Unila. Dalam pemaparannya, Iyan Heryanto menyebut Lampung ditetapkan sebagai fokus pengembangan tahap awal seluas 10 ribu hektare. Penetapan itu dilakukan karena Lampung merupakan sentra utama produksi singkong nasional dengan kontribusi 7,91 juta ton atau 47,32 persen dari total produksi nasional sebesar 16,71 juta ton pada 2024.
"Pengembangan dilakukan melalui kolaborasi BUMN, swasta, dan mitra strategis. Investasi difokuskan pada on farm berupa penanaman baru dan off farm berupa revitalisasi serta pembangunan pabrik bioetanol," ujar Iyan.
Pengembangan menggunakan pola inti swakelola PTPN dan pola kemitraan bersama swasta serta asosiasi petani. PTPN akan berperan sebagai penyedia lahan, pengelola program, dan penyedia feedstock untuk industri bioetanol.
Hasil ground checking bersama Kementerian Pertanian, Dinas Provinsi dan Kabupaten, serta Grup PTPN mencatat potensi areal pengembangan di Lampung mencapai sekitar 10 ribu hektare. Lahan tersebut tersebar di unit kebun PTPN mulai dari Lampung Selatan, Pesawaran, Lampung Tengah, Lampung Utara, hingga Way Kanan.
Untuk hilirisasi, pengembangan diarahkan untuk mendukung revitalisasi Pabrik Bioetanol PT Medco Ethanol Lampung (MEL) bekerja sama dengan Pertamina PNRE.
Selain itu, disiapkan pembangunan pabrik baru bioetanol di wilayah Sulawesi. Program saat ini masih dalam tahap feasibility study, pelaksanaan demo plot, dan finalisasi skema kerja sama dengan calon mitra yang telah menyatakan minat kepada PTPN.
Meski produksi singkong nasional besar, Indonesia masih mengimpor pati berbasis singkong senilai USD 162,38 juta pada 2024. Sebanyak 93,59 persen di antaranya berasal dari Thailand.
"Kondisi ini menunjukkan pengembangan ke depan tidak hanya di hulu, tetapi harus ke arah hilirisasi untuk menciptakan nilai tambah dan memperkuat daya saing agroindustri singkong nasional," jelas Iyan.
Rektor Universitas Lampung Lusmeilia Afriani mengatakan Lampung sangat strategis sebagai pusat cassava nasional. Berdasarkan data, produksi singkong Lampung pada 2024 mencapai 6.683.758 ton atau 34,63 persen dari total produksi nasional.
Potensi tersebut didukung oleh ketersediaan lahan, industri pengolahan, pelaku usaha, perguruan tinggi, serta jaringan pemerintah daerah.
Menurut Rektor, besarnya potensi tersebut perlu diikuti dengan langkah pengembangan yang lebih terpadu. Singkong tidak hanya dipandang sebagai komoditas pertanian, tetapi juga memiliki peluang besar sebagai bahan baku industri, pakan, bioenergi, pangan, serta berbagai produk hilirisasi bernilai ekonomi tinggi.
"Mari bersama kita wujudkan Lampung tidak hanya sebagai sentra produksi, tetapi tumbuh menjadi Pusat Cassava Nasional yang inovatif, kompetitif, dan berkelanjutan," ujar Lusmeilia. (pn)