PTPN I (Persero)
Penulis:Eva Pardiana

BANDUNG – Kabut tipis masih menyelimuti Lapangan Sepak Bola Babakan Tanara, Pangalengan, Bandung, Minggu subuh (25/4/2026). Namun, kawasan yang berada di kompleks Pabrik Teh Malabar PTPN I (Persero) Regional 2 itu telah ramai oleh aktivitas puluhan pedagang yang menata dagangan. Hari itu merupakan Hari Kalangan, pasar temporer yang digelar sepekan sekali dengan durasi sekitar enam jam.
Kalangan merupakan istilah lama yang lahir dari kebiasaan masyarakat di sekitar perkebunan sejak era kolonial. Tradisi ini berkaitan dengan momen cengkolongan, yakni saat pekerja menerima pinjaman upah di tengah bulan sebelum pembayaran gaji penuh. Seiring waktu, istilah dan praktik serupa berkembang di berbagai daerah dengan sebutan pasar tiban, pasar kaget, hingga pasar mingguan seperti Pasar Kliwon atau Pasar Legi.
Di banyak wilayah, tradisi pasar semacam ini mulai memudar seiring berkembangnya akses ekonomi dan hadirnya pasar modern yang beroperasi setiap hari. Namun, kondisi berbeda terlihat di kawasan Pabrik Teh Malabar yang masih mempertahankan Kalangan sebagai bagian dari denyut ekonomi lokal.
Direktur Utama PTPN I (Persero), Teddy Yunirman Danas, menyebut Kalangan Malabar kini tidak hanya berfungsi sebagai ruang transaksi, tetapi juga menjadi ruang nostalgia budaya. “Kalangan seperti di Malabar merupakan potret ekonomi lokal masa lalu yang kini bergeser menjadi oasis bagi warga dan pendatang. Kuliner tradisional menjadi daya tarik utama,” ujarnya.
Menurut Teddy, keberadaan Kalangan mencerminkan kuatnya pengaruh PTPN terhadap pertumbuhan ekonomi kawasan. Ia menjelaskan, kemunculan pasar mingguan tersebut berkaitan erat dengan siklus penerimaan upah pekerja, yang memicu perputaran uang secara cepat di lingkungan perkebunan.
“Fenomena hari pasaran yang bertepatan dengan jadwal gajian karyawan menunjukkan bahwa PTPN memiliki peran besar dalam menggerakkan ekonomi daerah. Ini menjadi bagian penting dari sejarah pembangunan ekonomi kerakyatan,” katanya.
Aktivitas di Pasar Kalangan Malabar masih menampilkan suasana khas. Pedagang menjajakan beragam kebutuhan, mulai dari sayuran, ikan, perabot rumah tangga, hingga kuliner seperti bakso dan nasi uduk yang diminati pengunjung. Tidak hanya warga sekitar, pengunjung dari luar daerah juga datang untuk berbelanja sekaligus menikmati suasana pegunungan.
Kawasan ini kini menjadi pusat gravitasi ekonomi masyarakat. Deretan kendaraan yang mengular menuju lokasi menunjukkan tingginya antusiasme pengunjung. Banyak warga yang awalnya berolahraga pagi, kemudian berbelanja kebutuhan harian di pasar tersebut.
PTPN I (Persero) juga mengambil langkah strategis dengan merelokasi area pasar ke lokasi yang lebih luas dan representatif guna menampung peningkatan jumlah pedagang dan pengunjung. Upaya ini bertujuan menjaga kenyamanan sekaligus memperlancar aktivitas ekonomi.
Dampak ekonomi dari keberadaan pasar ini dirasakan langsung oleh masyarakat. Asep, pedagang pakaian asal Banjaran, mengaku mampu meraih omzet Rp5 juta hingga Rp8 juta dalam satu hari. Sementara Kartini (54), warga setempat, memperoleh pendapatan hingga Rp1 juta per pekan dari berjualan nasi uduk dan gorengan.
Selain itu, PTPN I (Persero) turut melibatkan Karang Taruna dalam pengelolaan parkir yang tertata, sehingga menciptakan sumber pendapatan tambahan bagi pemuda setempat.
Teddy menegaskan komitmen perusahaan untuk terus menyelaraskan pertumbuhan bisnis dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. “Pasar Kalangan adalah bukti bahwa aset perkebunan dapat dioptimalkan menjadi ruang ekonomi inklusif. Kami menjaga ekosistem ini agar warisan sejarah tetap hidup sekaligus menjadi modal produktif bagi masyarakat,” ujarnya.
Keberadaan Pasar Kalangan Malabar menjadi bukti bahwa pengelolaan perkebunan tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga mampu mendorong kemandirian ekonomi masyarakat serta menjaga keberlanjutan warisan budaya lokal. (pn)