PTPN I
Penulis:Eva Pardiana

JAKARTA – Direktur Utama PTPN I (Persero), Abdul Rivai Ras, menegaskan transformasi yang dijalankan perusahaan selama beberapa tahun terakhir telah berada di jalur yang tepat. Namun, menurutnya, percepatan transformasi membutuhkan energi yang lebih besar, terukur, dan lebih progresif agar mampu menjawab tantangan industri perkebunan yang terus berkembang.
Pernyataan tersebut disampaikan Abdul Rivai Ras di Jakarta, Jumat (10/7/2026). Direktur utama yang baru sepekan menjabat itu menilai percepatan transformasi korporasi memerlukan komitmen bersama serta penerapan manajemen modern, profesional, tangguh, dan berdaya saing global.
"Industri perkebunan atau farming adalah main course atau menu utama sebagai penyedia bahan baku industri manufaktur. Industri ini tidak akan mati selama masih ada kehidupan. Oleh karena itu, kita harus memperkuat semua lini dengan modernisasi dan profesionalisme agar perusahaan berkembang lebih progresif," kata Abdul Rivai Ras.
Doktor Ilmu Politik bidang Kebijakan Pertanahan itu menjelaskan, industri agro memiliki posisi strategis dalam rantai kehidupan sosial karena tidak hanya menghasilkan komoditas penting, tetapi juga menjadi sektor padat karya yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar di berbagai wilayah.
"Kita harus bertransformasi dengan cepat dan masif bukan hanya karena mengejar profit, tetapi juga untuk menghasilkan dampak sosial yang lebih luas. Perkebunan dan pertanian menyerap tenaga kerja paling besar dalam rantai ekonomi, penyebarannya luas, dan lapangan kerja yang tercipta dapat dimasuki oleh berbagai kalangan," ujarnya.
Menurut Abdul Rivai Ras, dinamika industri perkebunan saat ini berkembang sangat cepat. Persaingan global, volatilitas harga komoditas, perubahan iklim, tuntutan penerapan prinsip keberlanjutan, hingga percepatan digitalisasi telah mengubah paradigma pengelolaan perusahaan perkebunan.
"Mengelola PTPN I hari ini bukan lagi sekadar mengelola kebun atau mengejar target produksi. Amanah ini adalah tanggung jawab untuk membangun korporasi negara yang mampu bersaing di tingkat global, adaptif terhadap perubahan, serta menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi negara dan masyarakat," katanya.
Untuk mewujudkan visi tersebut, PTPN I menetapkan lima pilar transformasi sebagai fondasi menuju korporasi agribisnis berkelas dunia, yakni penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance/GCG), penguatan manajemen risiko, digitalisasi manajemen, optimalisasi aset negara, dan penguatan sinergi kelembagaan.
Pada aspek tata kelola, Abdul Rivai Ras menegaskan seluruh proses bisnis PTPN I harus dijalankan secara transparan, akuntabel, profesional, serta menjunjung tinggi kepatuhan terhadap regulasi. Menurutnya, tata kelola yang baik menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan para pemangku kepentingan sekaligus menjaga keberlanjutan perusahaan.
Di bidang manajemen risiko, PTPN I melakukan penguatan melalui integrasi Direktorat Keuangan dan Manajemen Risiko. Langkah tersebut dinilai strategis untuk mengantisipasi berbagai tantangan bisnis, mulai dari fluktuasi harga komoditas global, perubahan iklim, hingga penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang kini menjadi standar industri agribisnis dunia.
"Perusahaan yang kuat bukan hanya mampu menghasilkan keuntungan, tetapi juga memiliki kemampuan mengelola risiko secara terukur sehingga tetap tumbuh secara berkelanjutan di tengah berbagai tantangan global," tegasnya.
Abdul Rivai Ras juga menekankan bahwa digitalisasi bukan sekadar pemanfaatan teknologi, melainkan perubahan budaya kerja yang mengedepankan efisiensi, kecepatan, akurasi, serta pengambilan keputusan berbasis data. Implementasi smart farming, digitalisasi proses bisnis, dan integrasi sistem informasi menjadi langkah penting untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing perusahaan.
Pada pilar optimalisasi aset negara, seluruh aset yang dikelola PTPN I diarahkan untuk menghasilkan produktivitas dan nilai ekonomi yang maksimal. Optimalisasi tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat kinerja perusahaan, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat melalui pengembangan kemitraan yang inklusif, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan ekonomi di wilayah operasional perusahaan.
Sementara itu, penguatan sinergi kelembagaan menjadi pilar kelima transformasi. Menurut Abdul Rivai Ras, keberhasilan transformasi hanya dapat dicapai melalui kolaborasi erat dengan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, regulator, DPR, aparat penegak hukum, akademisi, dunia usaha, hingga masyarakat.
"Transformasi bukanlah pekerjaan satu orang atau satu institusi. Ini adalah gerakan bersama untuk membangun PTPN I menjadi perusahaan agribisnis nasional yang mampu berdiri sejajar dengan perusahaan-perusahaan perkebunan terbaik di dunia. Dengan tata kelola yang kuat, digitalisasi, inovasi, serta kolaborasi yang solid, kami optimistis PTPN I akan menjadi korporasi yang semakin profesional, kompetitif, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia," pungkas Abdul Rivai Ras.
Melalui implementasi lima pilar transformasi tersebut, PTPN I menegaskan arah baru perusahaan menuju korporasi agribisnis berkelas dunia yang mengedepankan tata kelola yang baik, inovasi, keberlanjutan, efisiensi, dan kolaborasi. Transformasi ini diharapkan mampu memperkuat posisi PTPN I sebagai motor penggerak industri perkebunan nasional sekaligus menjadi kebanggaan Indonesia di tingkat global. (*)