Resensi Buku: Mencegah Anak Kecanduan Gadget di Tengah Era Digital

Eva Pardiana - Minggu, 30 Agustus 2026 15:14
Resensi Buku: Mencegah Anak Kecanduan Gadget di Tengah Era DigitalSalah satu gagasan utama yang ditawarkan buku ini tergambar melalui pesan, “Sesuatu yang Anak Butuhkan Hanyalah Kehadiran, Bukan Sekadar Sinyal.” (sumber: Penerbit Erlangga)

BANDAR LAMPUNG – Di tengah kehidupan yang semakin lekat dengan teknologi, gadget telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari keseharian anak. Telepon pintar, tablet, hingga berbagai aplikasi digital menawarkan kemudahan sekaligus hiburan. Namun, ketika penggunaan gadget mulai mengambil alih waktu bermain, belajar, berinteraksi, bahkan perhatian anak kepada lingkungan sekitarnya, orang tua dihadapkan pada persoalan baru: bagaimana mencegah anak mengalami kecanduan gadget?

Buku karya Ato Rinanto, S.I.P. dan Dede Sundara ini tidak semata-mata berbicara tentang bagaimana menjauhkan gadget dari tangan anak. Lebih dari itu, buku mengajak orang tua melihat kembali kebutuhan mendasar anak akan perhatian, interaksi, pendampingan, dan kehadiran orang dewasa di sekitarnya.

Salah satu gagasan utama yang ditawarkan buku ini tergambar melalui pesan, “Sesuatu yang Anak Butuhkan Hanyalah Kehadiran, Bukan Sekadar Sinyal.” Pesan tersebut menjadi relevan di tengah kondisi ketika orang tua dan anak sama-sama sibuk dengan perangkat masing-masing. Anak mungkin berada di rumah bersama orang tua, tetapi belum tentu mendapatkan kehadiran secara utuh.

Buku ini mengingatkan bahwa anak membutuhkan tempat untuk bertumbuh, bukan sekadar tempat untuk mengisi daya atau charging. Perumpamaan tersebut menjadi menarik karena menggambarkan kondisi yang kerap tidak disadari. Kehadiran orang tua tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas, membelikan perangkat, atau memastikan kebutuhan fisik anak terpenuhi. Anak juga membutuhkan komunikasi dan keterlibatan orang tua dalam kesehariannya.

Dalam salah satu bagian yang ditampilkan, buku mengangkat situasi ketika anak mengalami kecanduan gadget dan mempertanyakan siapa yang harus disalahkan. Pendekatan yang digunakan tampaknya tidak berhenti pada persoalan anak sebagai pengguna gadget, tetapi juga mengajak orang tua melakukan refleksi terhadap pola pendampingan yang selama ini diberikan.

Hal tersebut penting karena persoalan kecanduan gadget tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan mengambil atau menyembunyikan perangkat. Anak membutuhkan alternatif aktivitas, ruang interaksi, serta perhatian yang membuatnya tidak menjadikan gadget sebagai satu-satunya sumber hiburan dan kenyamanan.

Mengajak Orang Tua Introspeksi

Kekuatan buku ini terletak pada pendekatannya yang menyentuh persoalan sehari-hari. Gadget merupakan bagian dari kehidupan modern sehingga larangan menggunakan gadget secara total tentu bukan solusi yang mudah diterapkan. Karena itu, persoalan yang lebih penting adalah bagaimana membangun hubungan yang sehat antara anak, orang tua, dan teknologi.

Pesan yang dibawa buku juga terasa dekat dengan realitas keluarga masa kini. Tidak jarang gadget diberikan kepada anak agar mereka tenang, tidak rewel, atau memiliki aktivitas ketika orang tua sedang sibuk. Dalam jangka pendek, cara tersebut memang praktis. Namun, jika berlangsung terus-menerus tanpa pendampingan dan batasan yang jelas, gadget berpotensi menjadi tempat pelarian sekaligus sumber ketergantungan.

Buku Mencegah Anak Kecanduan Gadget kemudian hadir sebagai pengingat bahwa solusi tidak selalu berada di dalam perangkat teknologi. Justru, salah satu kunci pentingnya adalah kembali menghadirkan hubungan yang berkualitas antara orang tua dan anak.

Bukan Sekadar Soal Gadget

Hal menarik lainnya, buku ini tidak hanya dapat dibaca sebagai panduan untuk mengurangi penggunaan gadget. Lebih luas, buku ini berbicara tentang kualitas kehadiran orang tua dalam kehidupan anak.

Ketika anak mendapatkan ruang untuk berbicara, bermain, bertanya, bercerita, dan memperoleh perhatian, kebutuhan emosionalnya tidak sepenuhnya bergantung pada gadget. Dengan demikian, upaya mencegah kecanduan gadget sebenarnya juga menjadi momentum untuk memperbaiki pola komunikasi di dalam keluarga.

Buku ini juga relevan bagi orang tua yang merasa penggunaan gadget oleh anak sudah mulai berlebihan, maupun bagi keluarga yang ingin melakukan pencegahan sejak dini. Bahasa dan persoalannya dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga dapat menjadi bahan refleksi bagi orang tua.

Dengan ketebalan 80 halaman, buku ini relatif ringkas untuk dibaca. Format tersebut menjadi kelebihan bagi pembaca yang menginginkan bacaan praktis dan tidak terlalu panjang. Namun, bagi pembaca yang mengharapkan pembahasan sangat mendalam mengenai aspek psikologi, perkembangan anak, atau penelitian ilmiah tentang kecanduan gadget, buku ini tampaknya lebih tepat ditempatkan sebagai bacaan pengantar dan refleksi bagi orang tua.

Kesimpulan

Mencegah Anak Kecanduan Gadget pada akhirnya bukan hanya mengajak orang tua mengurangi durasi anak menatap layar. Buku ini membawa pesan yang lebih mendasar: anak membutuhkan manusia yang hadir, bukan hanya perangkat yang selalu terhubung.

Di tengah kesibukan orang tua dan derasnya perkembangan teknologi, kehadiran secara fisik belum tentu berarti kehadiran secara emosional. Anak membutuhkan perhatian, percakapan, pendampingan, dan kesempatan untuk tumbuh melalui interaksi nyata.

Karena itu, buku karya Ato Rinanto, S.I.P. dan Dede Sundara ini dapat menjadi bacaan yang relevan bagi para orang tua. Pesan sederhananya tetapi penting: sebelum meminta anak meletakkan gadget, mungkin orang tua perlu terlebih dahulu meletakkan gadgetnya dan kembali menatap mata anak.

Identitas Buku
Judul: Mencegah Anak Kecanduan Gadget
Penulis: Ato Rinanto, S.I.P. dan Dede Sundara
Penerbit: Erlangga
ISBN: 308-649-008-0
Tebal: 80 halaman
Harga: Rp50.000

Editor: Eva Pardiana

RELATED NEWS