Ramalan 2 Bank Raksasa Dunia Soal Ekonomi 2023
Yunike Purnama - Selasa, 10 Januari 2023 11:50
SWISS - Perekonomian global tahun ini diprediksi akan mengalami perlambatan yang cukup signifikan. Seiring jatuhnya ekonomi Amerika Serikat, Eropa, Inggris, dan Cina.
Credit Suisse dan Morgan Stanley adalah dua lembaga yang turut memperkirakan hal tersebut. Berikut ulasannya!
Bank asal Eropa Credit Suisse dalam proyeksinya memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan tetap rendah pada tahun 2023 dimana berada di angka 1,6%. Kondisi ini diperkirakan akan membuat tingkat pengangguran naik cukup tinggi.
Hal ini sebagai akibat dari pengetatan moneter yang masih akan terus berlanjut serta kondisi pengaturan ulang geopolitik yang sedang berlangsung. Bahkan, bank ini memproyeksikan negara-negara penopang ekonomi dunia diperkirakan kembali masuk ke jurang resesi.
"Kami memperkirakan zona Eropa dan Inggris tergelincir ke dalam resesi, sementara China berada dalam pertumbuhan resesi" tulis laporan Credit Suisse berjudul "Investment Outlook 2023" dikutip Selasa, 10 Januari 2023.
- Gerindra Minta Gubernur Serius Tangani Masalah Banjir di Jawa Tengah
- Realisasi Pendapatan dan Belanja Lampung 2022 Diatas Rata - Rata Provinsi
- Telkomsel, Ericsson dan Qualcomm Pemanfaatan Potensi Extended-Range 5G
Credit Suisse melihat ekonomi negara-negara tersebut akan mengalami titik terendah pada pertengahan 2023, dan akan mulai perlahan pulih seiring dengan kondisi perekonomian Amerika Serikat (AS) yang diprediksi tidak akan ikut masuk ke jurang resesi.
Tingkat inflasi melesat tajam pada tahun 2022, namun Bank Credit Suisse menilai untuk tahun 2023 angka inflasi kemungkinan akan turun ke angka normal di kisaran 5%. Namun, tetap berada pada level di atas tahun-tahun pra pandemi dan di atas target bank sentral di banyak negara.
"Asumsi utama kami adalah bahwa itu akan tetap di atas target bank sentral pada tahun 2023 di sebagian besar negara maju utama, termasuk Amerika Serikat, Inggris, dan Zona Eropa," tulis laporan itu.
Terkait nilai tukar, Credit Suisse memperkirakan mata uang negara berkembang secara umum akan berada pada level rendah. Pasalnya, dollar AS tampaknya akan tetap tinggi memasuki tahun 2023 karena The Fed akan tetap memilih kebijakan yang hawkish.
"Kami memperkirakan mata uang negara berkembang akan tetap lemah secara umum," prediksinya.
Dari sisi komoditas, pada awal 2023, Credit Suisse memprediksi permintaan untuk komoditas siklikal mungkin melemah sementara tekanan yang meningkat di pasar energi akan membantu mempercepat transisi energi Eropa.
"Kemunduran harga karbon dapat menawarkan peluang dalam jangka menengah, dan kami pikir latar belakang untuk emas harus membaik ketika normalisasi kebijakan mendekati akhir," tulis laporan tersebut.
- Walikota Eva Dwiana Melantik 68 Pejabat Administrator dan Pengawas Lingkungan
- Cek Harga Emas Antam di Pegadaian Rabu, 4 Januari 2023
- Permainan Viral, Sekolah di Bandar Lampung Larang Murid Bawa Lato-Lato
Morgan Stanley
Bank asal Amerika Serikat (AS) Morgan Stanley melihat 2023 adalah periode di mana ada rasa sakit yang harus diterima dalam jangka pendek, tapi baik untuk jangka panjang.
Meskipun, berdasarkan kurva imbal hasil yang menunjukkan posisi terbalik, hal ini dinilai mengisyaratkan potensi perlambatan ekonomi di beberapa titik di tahun depan. Yang perlu diwaspadai pada awal tahun 2023, Morgan Stanley melihat kemungkinan penurunan pendapatan yang tajam yang akan berdampak pada penurunan pasar saham.
Bank ini memprediksi di awal tahun 2023, akan ada perbaikan berkelanjutan mengenai tingkat inflasi dunia sehingga ini akan dapat membawa pertumbuhan yang baik di kuartal pertama 2023.
Sejalan dengan hal itu, Pasar non-AS perlahan menunjukkan performanya. Dan bank ini melihat peluang China untuk menjadi area ekuitas yang menarik pada 2023 ketika China berhasil membawa kebijakan nol COVID China menuju moderat.
"Pasar non-AS akhirnya mulai mengungguli AS ketika dolar memuncak pada akhir September. Asia exclude Jepang telah memimpin sejak akhir Oktober, mengungguli Eropa dan Jepang, dimana keduanya telah mengungguli AS," tulis laporan itu.
Morgan Stanley melihat angka inflasi AS akan tetap berada pada level yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh kondisi pandemi yang menyebabkan kekurangan pasokan dan kelebihan permintaan yang didorong oleh stimulus fiskal. Akibatnya, The Fed memperketat kebijakan moneter untuk mengatasi inflasi yang meroket.
Morgan Stanley menilai memang terjadi penurunan tajam harga inflasi barang pada akhir tahun 2022, tapi mereka melihat inflasi sektor jasa akan tetap tinggi dan menjadi lebih sulit untuk dijinakkan.
"Pelakunya? Pasar tenaga kerja yang ketat membuat inflasi upah tetap tinggi. The Fed mengalihkan perhatiannya untuk melemahkan pasar tenaga kerja, cukup tetapi tidak terlalu banyak," jelas laporan tersebut.
Morgan Stanley melihat pada tahun 2023 ada peluang besar di pasar berkembang negara berkembang. Terlepas dari perlambatan di China, mereka memperkirakan banyak negara berkembang lainnya akan menunjukkan percepatan pertumbuhan yang akan mendorong pendapatan dan pangsa pasar. Hal ini sejalan dengan pemulihan pasca pandemi, kebangkitan manufaktur, hambatan komoditas, digitalisasi, dan siklus politik yang menguntungkan.
"Pasar negara berkembang memiliki pertumbuhan yang lebih baik, inflasi yang lebih rendah, dan utang negara dan swasta yang lebih sedikit, namun ekuitas dan mata uang mereka diperdagangkan pada penilaian tingkat krisis," prediksinya. (*)