Quarter Life Crisis: Ketika Dewasa Tak Semudah Yang Dibayangkan

Yunike Purnama - Sabtu, 25 Juni 2022 17:38
Quarter Life Crisis: Ketika Dewasa Tak Semudah Yang DibayangkanWebinar bertajuk Quarter Life Crisis: Ketika Menjadi Dewasa Tidak Semudah yang Dibayangkan pada Sabtu, 25 Juni 2022. (sumber: Tangkapan layar)

BANDARLAMPUNG - Istilah quarter life crisis (QLC) dewasa ini makin banyak digunakan, terutama di kalangan generasi milenial. Quarter life crisis atau krisis seperempat abad ini merupakan periode saat seseorang berusia 18-30 tahun mulai merasa bingung akan arah hidupnya, baik itu terkait relasi, percintaan, karier, maupun kehidupan sosial.

Orang yang mengalami quarter life crisis bahkan kerap mempertanyakan eksistensinya sebagai seorang manusia. Ada juga yang sampai merasa bahwa dirinya tidak memiliki tujuan hidup.

The Guardian menyatakan dalam penelitian, bahwa 86 persen milenial mengalami quarter life crisis. Survei juga dilakukan badan riset dari Linkedln, yang hasilnya menunjukkan bahwa quarter life crisis yang terjadi pada generasi milenial banyak dialami perempuan, sebesar 61 persen.

Pemicu quarter life crisis sangat bervariasi. Di antaranya 57 persen merasa kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai passion, 57 persen mengalami tekanan karena belum memiliki rumah, dan 46 persen mengaku tertekan akibat belum memiliki pasangan. Kondisi-kondisi tersebut membuat milenial merasa insecure, kecewa, kesepian, sampai depresi.

Berangkat dari persoalan tersebut, Forum Milenial MADJOE, yang diiniasi Ira Koesno dan digawangi Ira Koesno Communications (IKComm), menggelar webinar bertajuk "Quarter Life Crisis: Ketika Menjadi Dewasa Tidak Semudah yang Dibayangkan", Sabtu, 25 Juni 2022.

Direktur Utama IKComm, Ira Koesno, mengatakan webinar ini bertujuan untuk memberikan gambaran kepada generasi milenial dalam menyikapi quarter life crisis sehingga tidak sampai berujung pada depresi. Diharapkan, peserta webinar dapat menghadapi tantangan dan melalui masalah ini dengan lebih bijak.

"Dalam kesempatan ini, kami mengundang Psikolog Klinis Dewasa Olphi Disya Arinda sebagai pembicara. Selain itu, kami juga menghadirkan Mario Gultom, seorang milenial dan founder Sunyi Coffee House & Hope yang mempekerjakan penyandang disabilitas," kata Ira Koesno.

Peserta webinar diberikan kesempatan untuk langsung bertanya pada pakarnya. Selain itu, success story dari Founder Sunyi Coffee & House, diharapkan mampu menjadi inspirasi sekaligus motivasi bagi seluruh peserta.

Yang menarik dari Mario Gultom adalah kisahnya yang menjadikan kegelisahan diri menjadi hal positif. Jebolan S1 Fakultas Ekonomi Universitas Prasetya Mulya ini memutuskan berhenti dari pekerjaannya di Astra Otoparts pada 2019, dan mendirikan usaha sendiri.

"Saya mengikuti passion untuk menjadi social enterpreneur yang mandiri dan bebas mengkreasikan ide. Passion utama saya sebenarnya dari sisi kemanusiaan. Saya berprinsip bahwa bukan nilai kamu yang 9, tapi 9 orang yang kamu tolong. Passion kemanusiaan ini pernah ditertawakan oleh guru," ujarnya.

Ia juga pernah mengalami periode quarter life crisis. Ketika itu, Mario merasa tidak percaya diri dan menganggap orang lain di sekitarnya lebih pintar. Akan tetapi, rasa insecure ini yang membuatnya mengambil keputusan untuk melanjutkan studi S2 Marketing Science di Universitas Indonesia.

Sementara itu, Psikolog Klinis Dewasa Olphi Disya Arinda mengatakan, quarter life crisis adalah kondisi yang biasanya terjadi mulai usia 20 tahun. Sebab, mulai dari usia itulah banyak perubahan hidup seperti lulus kuliah, baru bekerja, melanjutkan pendidikan, menikah, pindah tempat tinggal, dan punya anak.

Perubahan hidup tentunya harus disikapi dengan bijak. Sebab, banyak kasus terjadi ketika quarter life crisis berujung pada depresi, bahkan kematian.

Lalu, apa saja tanda orang yang mengalami quarter life crisis? Dalam paparannya, Disya mengatakan, sering merasa bingung mengenai masa depannya menjadi salah satu tanda bahwa seseorang mengalami krisis seperempat abad.

Tanda lainnya adalah merasa terjebak dalam situasi yang tidak disukai, sulit membuat keputusan ketika dihadapkan dengan beberapa pilihan, kurang motivasi dalam menjalani aktivitas sehari-hari, sulit menentukan apakah harus menjalani hidup sesuai dengan keinginan diri sendiri atau sesuai dengan tuntutan keluarga dan masyarakat. Lalu, khawatir akan tertinggal dalam ketidakpastian hidup seorang diri dan merasa iri dengan teman sebaya yang sudah lebih dulu mencapai impiannya.

Dalam kesempatan ini, Disya juga membagikan beberapa tips menghadapi QLC. Pertama, eksplorasi diri. "Cari tahu dan pahami diri sendiri dan banyak ikut kegiatan, mengembangkan diri dan banyak belajar," tuturnya.

Selain itu, agar terhindar dari QLC, Disya menyarankan untuk berhenti membandingkan diri dengan orang lain. "Coba juga untuk tidak selalu memendam masalah sendirian, berbicaralah atau curhat dengan orang lain. Jika diperlukan, cari bantuan profesional," ujarnya. (*)

Editor: Yunike Purnama
Yunike Purnama

Yunike Purnama

Lihat semua artikel

RELATED NEWS