Mengenal Tipe Vaksin Covid-19 yang Beredar di Indonesia
Yunike Purnama - Minggu, 29 Agustus 2021 08:49
Kabarsiger.com, BANDARLAMPUNG - Vaksin adalah substansi yang dibuat sedemikian rupa dari organisme yang sangat kecil penyebab penyakit atau agen yang mengandung racun atau protein tertentu. Tujuannya memberikan perlindungan terhadap tubuh dari penyakit tertentu.
Secara sederhana dari berbagai jenis vaksin Covid-19 yang dikembangkan, pada kategorinya, proses pengembangannya berdasarkan bahan baku yang digunakan. Berikut ini penjelasan jenis-jenis vaksin covid-19 tersebut.
1. Seluruh bagian virus
Vaksin ini menggunakan seluruh bagian dari virus yang dapat dikategorikan menjadi vaksin inaktif dengan virus yang telah dimatikan oleh senyawa kimia, pemanasan, atau radiasi; vaksin dari virus hidup yang dilemahkan, dan vektor virus yang menggunakan virus yang tidak menyebabkan penyakit untuk mengirimkan protein khusus untuk menimbulkan respon kekebalan.
Mengutip laman Alodokter, disebutkan bahwa vaksin virus utuh dapat dibagi menjadi virus yang dilemahkan (live attenuated) atau virus yang tidak aktif (inactivated).
Contoh vaksin inaktif ialah vaksin Sinovac dan Sinopharm buatan Tiongkok. Vaksin ini mendominasi penyuntikkan vaksin kepada masyarakat Indonesia.
Sedangkan contoh vaksin dengan vektor virus ialah Astrazeneca dari Inggris dan Sputnik-V buatan Rusia.
2. Bagian tertentu virus
Vaksin yang menggunakan bagian tertentu dari virus (subunit). Umumnya bagian spesifik yang digunakan untuk pengembangan jenis vaksin ini ialah senyawa protein dari virus. Contoh vaksin jenis ini ialah Novavax yang sudah dipesan Indonesia dan sedang menunggu izin dari Food and Drugs Administration atau FDA di Amerika Serikat.
3. Genetik virus
Vaksin yang menggunakan bagian genetik virus disebut asam nukleat berupa DNA atau RNA. Komponen ini berfungsi sebagai cetak biru untuk menghasilkan protein yang menimbulkan respon imunitas khusus. Vaksin Moderna dan Pfizer dari Amerika tergolong vaksin dengan memanfaatkan teknologi genetik ini.
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengatakan, sebelum vaksin dinyatakan aman dan efektif untuk digunakan, ada berbagai tahapan evaluasi yang harus dilalui. Bahkan, secara statistik umumnya hanya 7 dari 100 atau sekitar 0,07% kandidat vaksin saja yang dianggap cukup mampu meneruskan ke tahap uji klinis pada manusia.
Berbagai pendekatan dalam pengembangan vaksin membuat peluang dihasilkannya lebih banyak vaksin lebih besar mengingat saat ini yang membutuhkan vaksin Covid-19 bukan hanya 1 atau 2 negara namun hampir seluruh negara di dunia membutuhkannya.
Seiring dengan semakin banyaknya pasokan vaksin yang berdatangan bahkan berpeluang bertambah jenis kedepannya.
Pemerintah, kata Wiku, menjamin bahwa setiap jenis vaksin yang ada sama-sama efektif. Perbedaan angka efektivitas vaksin atau kemampuan untuk membentuk kekebalan tubuh antara satu vaksin dengan vaksin lainnya bukanlah hal yang harus dikhawatirkan.
Target spesifik vaksinasi yang telah pemerintah tetapkan telah berdasar pada temuan ilmiah saat uji klinis dilakukan. Sebagaimana yang terlihat pada ilustrasi bahwa setiap jenis vaksin telah ditetapkan target populasinya berdasarkan usia.
Misalnya, vaksin untuk anak usia 12-17 yaitu menggunakan vaksin Sinovac atau Pfizer maupun berdasarkan pertimbangan kondisi kesehatan tertentu misalnya ibu hamil menggunakan vaksin Sinovac, Pfizer, dan Moderna.
"Hal ini semata-mata untuk mengoptimalkan manfaat kesehatan dibandingkan efek negatifnya," pungkas prof Wiku.
Untuk itu diharapkan masyarakat dan pihak penyelenggara vaksinasi dapat mengikuti vaksinasi sesuai prosedur yang direkomendasikan demi melindungi diri sendiri maupun orang-orang terdekat kita. Terakhir yang terpenting yaitu vaksinasi akan menjadi sempurna jika dilakukan bersamaan dengan disiplin menjalankan protokol kesehatan. (*)