Lamban PuAn Gandeng Anak Muda Kampanye ‘Bandar Lampung Kota Damai’
Yunike Purnama - Kamis, 26 Maret 2026 20:17
Lamban PuAn bersama AMAN Indonesia (The Asian Muslim Action Network) Kampanye Kreatif - Aksi simbolik penandatanganan dukungan oleh pemuda ‘Bandar Lampung Kota Damai’ (sumber: Ist)BANDARLAMPUNG - Organisasi masyarakat sipil Lamban PuAn bersama AMAN Indonesia (The Asian Muslim Action Network) menggelar Kampanye Kreatif - Aksi simbolik penandatanganan dukungan oleh pemuda ‘Bandar Lampung Kota Damai’ bertempat di The Palms Cafe pada Kamis (26/3).
Program mini Suara Muda untuk Kota Damai: Advokasi Agenda Youth, Peace and Security (YPS) menghadirkan Akademisi Unila Drs. Ikram Badila, M.Si., MAPS sebagai pemantik pembahasan peran pemuda dalam pembangunan sosial kota damai serta perwakilan dari beberapa komunitas di Bandar Lampung.

Perwakilan Lamban PuAn Sely Fitriani mengatakan, dalam hal ini Lamban PuAn hadir sebagai ruang aman dan ruang kolektif bagi para anak muda untuk belajar, berjejaring, serta berkontribusi dalam mendorong perubahan sosial di tingkat lokal.
“Sehubungan dengan pelaksanaan rangkaian kegiatan Suara Muda untuk Kota Damai, Advokasi Agenda Youth, Peace and Security bermaksud untuk melakukan Kampanye Kreatif Bandar Lampung Kota Damai. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari rangkaian Youth Dialogue Lintas Komunitas yang sebelumnya sudah dilaksanakan,”ujar Sely.
Kampanye ini bertujuan untuk melaksanakan aksi simbolik berupa pembacaan dan penandatanganan pernyataan sikap ‘Suara Muda untuk Kota Damai’ bersama beberapa komunitas muda.
Kemudian menyebarluaskan hasil diskusi pemuda kepada masyarakat luas sebagai bentuk kontribusi pemikiran generasi muda dan meningkatkan kesadaran publik bahwa pemuda memiliki peran krusial dalam membangun perdamaian, toleransi, dan keamanan insani di Bandar Lampung. Terakhir untuk mendorong partisipasi aktif pemuda dalam upaya menciptakan kehidupan sosial yang
harmonis, inklusif dan berkelanjutan.
Perdamaian Konsep Multidimensi

Dalam dialog tersebut juga disampaikan bahwa Damai sesungguhnya bukanlah situasi di mana konflik sama sekali tidak ada, melainkan sebuah kondisi di mana konflik yang merupakan hal wajar dalam kehidupan sosial dapat diselesaikan dengan cara-cara yang damai, konstruktif, dan tanpa kekerasan. Perbedaan pilihan, opini, atau kepentingan sosial-budaya adalah hal biasa yang bisa memicu konflik. Kota yang damai adalah kota yang memiliki mekanisme untuk merawat toleransi dan inklusivitas di tengah keragaman tersebut.
Ikram menyampaikan, dalam mewujudkan sebuah kota yang damai tentu akan berkaitan dengan sudah sejauh mana kondisi ekonomi mampu memberikan kesejahteraan, berkaitan juga terkait hubungan dengan alam bagaimana dari sisi ekologis, pemerataan pemenuhan akses masyarakat dan kelompok rentan hingga sudah sejauh mana pemerintah hadir dalam upaya mewujudkan sebuah kota yang damai.
“Karena kota yang damai bukan berarti tidak ada konflik, tetapi kota yang mampu mengelola resolusi konflik yang dapat diselesaikan dengan cara-cara yang damai, konstruktif dan tanpa adanya kekerasan,”ujar Ikram saat membuka diskusi.
Kemudian pada agenda hari ini juga diharapkan tidak berhenti di sini, perlu adanya keberlanjutan tindak lanjut kemudian adanya transkrip pencatatan masukan dan pendapat dari masing-masing perwakilan komunitas sebagai rekomendasi yang hadir sebagai bentuk komitmen bersama dalam upaya wujudkan kota Bandar Lampung Kota Damai.(*)

