Inflasi Lampung 0,54 Persen, Harga Cabai dan Beras Jadi Pemicu

Yunike Purnama - Senin, 02 November 2026 19:06
Inflasi Lampung 0,54 Persen, Harga Cabai dan Beras Jadi PemicuIlustrasi komoditi beras penyumbang Inflasi Provinsi Lampung pada Oktober 2026. (sumber: Ist)

BANDARLAMPUNG – Inflasi Provinsi Lampung pada Oktober 2026 tercatat sebesar 0,54 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Kenaikan ini lebih tinggi dibandingkan inflasi September 2026 yang sebesar 0,14 persen, dengan cabai merah dan beras menjadi sejumlah komoditas utama penyumbang tekanan harga.

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan Lampung mencapai 3,83 persen (year-on-year/yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,23 persen.

Kenaikan inflasi Oktober juga melampaui rata-rata inflasi pada bulan yang sama dalam tiga tahun terakhir, yakni sebesar 0,32 persen.
Tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Cabai merah menjadi penyumbang terbesar dengan andil inflasi 0,22 persen, disusul bawang merah sebesar 0,07 persen. Sementara itu, tomat, beras, dan cabai rawit masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,04 persen.

Kepala KPw Bank Indonesia Provinsi Lampung Bimo Epyanto mengatakan, "Kenaikan harga aneka cabai dan bawang merah dipengaruhi berkurangnya pasokan setelah berakhirnya periode panen serta menurunnya produktivitas tanaman akibat musim kemarau," ujarnya.

Adapun kenaikan harga beras dipicu penurunan produksi padi pascapanen gadu yang diperberat oleh meningkatnya intensitas fenomena El Niño.

Harga tomat juga mengalami tekanan akibat meningkatnya permintaan di tengah terbatasnya pasokan karena kekeringan.

Meski demikian, sejumlah komoditas mengalami penurunan harga sehingga mampu menahan laju inflasi. Terong memberikan andil deflasi sebesar 0,03 persen, daging ayam ras dan minyak goreng masing-masing 0,02 persen, serta jagung manis sebesar 0,01 persen.

Penurunan harga tersebut didukung meningkatnya pasokan selama masa panen, ketersediaan ayam siap potong, serta pasokan minyak goreng yang memadai dan distribusi yang lancar.

Harga emas perhiasan yang terkoreksi di pasar global juga turut menahan inflasi dengan andil deflasi sebesar 0,02 persen.
 

BI dan TPID Perkuat Pengendalian Inflasi

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Lampung memperkirakan inflasi daerah masih akan terjaga dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen hingga akhir 2026.

Namun, sejumlah risiko tetap perlu diwaspadai, terutama dampak El Niño terhadap produksi pangan, potensi kenaikan harga beras, gangguan pasokan ikan akibat kondisi cuaca maritim, serta risiko kenaikan harga energi dan LPG.

"Untuk mengantisipasi tekanan tersebut, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung terus memperkuat strategi pengendalian inflasi melalui langkah 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif," ujar Bimo.

Upaya yang dilakukan meliputi optimalisasi operasi pasar beras SPHP, pemantauan harga dan pasokan pangan strategis, penguatan produksi hortikultura, serta antisipasi dampak El Niño melalui optimalisasi sarana pengairan dan penyesuaian kalender tanam.

Selain itu, penguatan kerja sama antardaerah juga dilakukan untuk menjaga kontinuitas pasokan cabai merah dan bawang merah, termasuk melalui kerja sama dengan Kulon Progo dan Kabupaten Solok.

BI dan TPID juga memperkuat sistem peringatan dini melalui integrasi data harga, neraca pangan, dan e-Horti. Program percontohan e-Horti telah dilaksanakan di enam kabupaten/kota dengan melibatkan 110 petani dan luas tanam mencapai 55,42 hektare.

Melalui berbagai langkah tersebut, pengendalian inflasi diharapkan tetap berjalan optimal sehingga stabilitas harga pangan terjaga dan daya beli masyarakat Lampung dapat terlindungi. (*)

Editor: emylmaulana
Yunike Purnama

Yunike Purnama

Lihat semua artikel
‌‌
‌‌

RELATED NEWS