Dari Museum hingga Ekskavasi, Pelajar Ikuti Studi Arkeologi di Bumiayu
Eva Pardiana - Minggu, 10 Mei 2026 20:09
Kegiatan bertajuk “Petualangan Mengungkap Sejarah di Bumiayu – Studi Lapangan dan Publikasi Situs Purbakala untuk Generasi Muda” ini berlangsung pada 3–6 Mei 2026. (sumber: Dok. )BREBES – Empat pelajar dari sistem pendidikan hybrid dan homeschooling mengikuti studi lapangan langsung ke Situs Purbakala Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, untuk mempelajari dunia arkeologi, arkeometri, dan pelestarian sejarah bersama para peneliti dan pengelola situs. Kegiatan bertajuk “Petualangan Mengungkap Sejarah di Bumiayu – Studi Lapangan dan Publikasi Situs Purbakala untuk Generasi Muda” ini berlangsung pada 3–6 Mei 2026.
Peserta kegiatan terdiri dari Shanetrygve Adriel Kastanya (Shane), Grimonia Tarari Zaneta Kamila (Tara) dan Quinxia Evangeline Yaotama (Quinx), para siswa kelas X dari Alta Global School, serta Nathan Dipa Dewangga (Dipa), siswa kelas VIII dari Strive Online Homeschooling. Selama perjalanan, para peserta tidak hanya mengunjungi museum dan situs purbakala, tetapi juga hidup di tengah ekosistem penelitian arkeologi yang aktif berkembang di Bumiayu.
Perjalanan dimulai dari Kawasan Stasiun Lapangan (KSL) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Museum Purbakala Bumiayu. Pada hari pertama, dilakukan observasi museum dan wawancara langsung bersama pengelola museum untuk memahami sejarah berdirinya museum, proses pelestarian artefak, hingga tantangan menjaga situs purbakala secara mandiri.
- Ekspedisi Kapal Laut Jakarta Jayapura Murah & Aman bersama Klik Logistics
- PLN Pastikan Pasokan Listrik Aman Saat Kunjungan Wapres di Lampung
- PTPN I Genjot Produksi Karet di Bengkulu
Museum Purbakala Bumiayu menjadi salah satu bagian yang paling membekas bagi para peserta. Museum tersebut dibangun dan dijaga secara mandiri oleh masyarakat lokal bersama para pegiat pelestarian budaya, termasuk Rafli Rizal dan tim pengelola Museum Purbakala Bumiayu yang selama bertahun-tahun menjaga keberlangsungan museum di tengah keterbatasan dukungan. "Museum ini bukan sekadar ruang penyimpanan fosil dan artefak, melainkan simbol nyata kepedulian masyarakat terhadap sejarah daerahnya sendiri," tutur Dipa
Hari kedua diisi dengan perjalanan lapangan ke Kaligua dan Jembatan Sakalibel, peninggalan era kolonial Belanda, bersama tim Museum Purbakala Bumiayu. Pada hari ketiga, para peserta turun langsung ke lokasi ekskavasi bersama mahasiswa S2 dan S3 serta para peneliti senior.
"Kami menyaksikan proses penelitian lapangan, dokumentasi temuan, dan berdialog langsung dengan sejumlah peneliti dan praktisi di bidang arkeologi, geoarkeologi, arkeometri, dan museologi," terang Quinx melalui siaran pers Minggu (10/5/2026).
Beberapa peneliti yang terlibat di antaranya Hari Wibowo, peneliti senior di Pusat Riset Arkeometri BRIN; Fakhri, peneliti senior di Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN; Eugenius Olafianto Drepriputra Wisnudhana (Olaf), seorang geoarkeolog; Elyjah Ahmad Cezare, mahasiswa Ilmu Arkeologi Universitas Hasanuddin yang berfokus pada geoarkeologi; serta Mouzalina Raisha Anfal dari Universitas Udayana yang menekuni digital reconstruction and modeling.
Melalui wawancara dan observasi langsung, para peserta mempelajari berbagai proses penelitian modern, mulai dari survei terestrial, pemantauan udara menggunakan drone, ekskavasi, identifikasi fauna, dan analisis fosil, hingga pendekatan arkeometri yang menggunakan pengukuran dan analisis laboratorium secara kuantitatif. Para peneliti menjelaskan bahwa fokus penelitian di Bumiayu bukan sekadar membahas peradaban masa lalu, tetapi juga mencakup penelitian mengenai Homo erectus dan kemungkinan keberadaan manusia purba di Pulau Jawa pada rentang waktu yang sangat tua.
“Bumiayu berpotensi memberikan pembaruan terhadap penelitian sebelumnya. Bisa jadi ada temuan yang lebih tua dibanding temuan yang selama ini dikenal masyarakat,” ujar Fakhri, peneliti arkeologi prasejarah. Menurut para peneliti, kawasan Bumiayu bahkan disebut sebagai salah satu daratan awal yang terangkat di Pulau Jawa, dengan rentang usia sekitar 2,4 juta hingga 1,8 juta tahun lalu. Selain membahas penelitian ilmiah, para peserta juga diajak memahami tantangan nyata penelitian lapangan di Bumiayu — mulai dari cuaca ekstrem, medan berbukit, dan akses jalan yang terbatas, hingga proses pengiriman sampel penelitian ke luar negeri yang membutuhkan kolaborasi lintas lembaga dan lintas negara.
Para peneliti juga menekankan pentingnya diseminasi ilmu pengetahuan kepada masyarakat luas melalui media populer, dokumentasi visual, media sosial, dan narasi digital, agar penelitian arkeologi tidak berhenti hanya di lingkungan akademik.
Hari keempat menjadi bagian paling reflektif dalam perjalanan ini. Para peserta mengunjungi Candi Poh dan kawasan “laut purba” Bumiayu untuk melakukan observasi, pencarian fosil, serta wawancara dengan masyarakat lokal mengenai sejarah lisan, tradisi, dan pelestarian situs budaya. "Masyarakat lokal menjelaskan bahwa Bumiayu bukan hanya tentang fosil, tetapi wilayah yang menyimpan lapisan sejarah, budaya, dan tradisi yang masih hidup hingga kini. Candi Poh, salah satu lokasi yang menarik perhatian kami karena hingga kini masih dianggap sakral oleh masyarakat sekitar. Di kawasan ini, tradisi sedekah bumi dan ritual budaya setiap tahun baru Jawa masih dijalankan, dan masyarakat memandang kawasan sekitar situs sebagai ruang ekologis penting yang menjaga mata air dan habitat satwa liar," papar Tara.
Namun di balik kekayaan itu, tantangan pelestarian masih nyata. “Masyarakat sebenarnya sadar situs ini berharga, tetapi belum semua memiliki kemampuan dan keberlanjutan untuk merawatnya,” ujar Alfan Muhyar Faza dan Rafiq Aji Prayogo, warga lokal yang turut mendampingi peserta saat observasi di kawasan Candi Poh. Selain aktif dalam komunitas pelestari budaya, keduanya juga terlibat dalam upaya menjaga dan mengembangkan Museum Purbakala Bumiayu bersama masyarakat setempat.
Selain riset dan wawancara, para peserta juga menyusun dokumentasi visual dengan pendekatan dokumenter lapangan yang terinspirasi dari metode visual storytelling dan dokumentasi ilmiah profesional — mempelajari bagaimana sejarah dapat dikomunikasikan kembali kepada publik melalui foto, video, narasi populer, dan media digital.
- 5 Rekomendasi Resto Makan Sehat di Jakarta, Enak & Tetap Clean
- April 2026 Inflasi Lampung Masih Terkendali
- Catat Tanggalnya! LaSEF 2026 Hadirkan Fabio Asher dan Tokoh Inspiratif
Malam terakhir di Bumiayu diisi dengan suasana kebersamaan sederhana bersama mahasiswa dan tim lapangan. Percakapan santai, permainan Uno, dan cerita perjalanan penelitian menjadi penutup hangat sebelum para peserta meninggalkan Bumiayu.
“Habitat para ilmuwan akan membentuk anak-anak menjadi pribadi intelektual. Semoga mereka menemukan jalannya masing-masing,” ujar salah satu orang tua murid, Bonifasius Bayu Brathara, S.H., praktisi HSE dan pendamping lapangan yang selama kegiatan turut mendukung perjalanan serta mobilitas para peserta.
Para peneliti menilai keterlibatan pelajar dalam studi lapangan seperti ini penting untuk membangun regenerasi peneliti dan memperluas narasi Bumiayu kepada generasi muda Indonesia.
"Hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi selama kegiatan selanjutnya akan dikembangkan menjadi esai ilmiah, buku perjalanan, serta buku cerita rakyat berbasis penelitian lapangan dan wawancara masyarakat lokal. Sebagian karya tersebut direncanakan untuk dipublikasikan melalui platform akademik dan publikasi populer sebagai bagian dari penguatan literasi, dokumentasi budaya, dan portofolio pendidikan peserta," terang Shane
"Melalui kegiatan ini, para peserta berharap Situs Bumiayu dan Museum Purbakala Bumiayu semakin dikenal generasi muda Indonesia — sebuah bukti bahwa pendidikan bermakna tidak selalu lahir dari ruang kelas, tetapi dari pengalaman langsung di lapangan," pungkas Bayu. (*)

