Bank Indonesia Kembali Tahan Suku Bunga Acuan 3,5 Persen di Juli 2022

Yunike Purnama - Kamis, 21 Juli 2022 18:47
Bank Indonesia Kembali Tahan Suku Bunga Acuan 3,5 Persen di Juli 2022Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers secara virtual, Kamis, 21 Juli 2022. (sumber: Tangkapan layar)

BANDARLAMPUNG - Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) kembali memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5 persen di bulan Juli 2022. Selain itu, BI juga mempertahankan suku bunga deposit facility di level 2,75 persen dan lending facility 4,25 persen.

"Rapat Dewan Gubernur BI pada tanggal 20 dan 21 Juli 2022 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI 7 Day Repo Rate sebesar 3,5 persen," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers secara virtual, Kamis, 21 Juli 2022.

Perry mengatakan, keputusan ini konsisten dengan perkiraan inflasi inti yang masih terjaga di tengah risiko dampak perlambatan ekonomi global terhadap pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Bank Indonesia terus mewaspadai risiko kenaikan ekspektasi inflasi, dan inflasi inti ke depan. "Serta memperkuat kebijakan bauran moneter yang diperlukan baik melalui stabilisasi nilai tukar rupiah, penguatan operasi moneter, dan suku bunga," sambung Perry.

The Fed Sudah 2 Kali Naikkan Suku Bunga Acuan

Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), sudah dua kali menaikkan suku bunga acuan atau Fed Fund Rate (FFR) di tahun ini. Sementara Bank Indonesia (BI) hingga saat ini masih menahan suku bunga acuan atau BI 7 Day Reverse Repo Rate 3,5 persen.

Tak hanya itu, BI juga mempertahankan suku bunga deposit facility di level 2,75 persen dan lending facility 4,25 persen.

"Rapat Dewan Gubernur Juli 2022 memutuskan mempertahankan (BI) 7-Day Reverse Repo rate (BI-7DRR) pada level 3,5 persen," ungkap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Kamis, 21 Juli 2022.

Perry mengungkapkan, alasan Bank Indonesia masih menahan suku bunga lantaran kondisi inflasi di Indonesia yang masih tergolong rendah. Khususnya inflasi inti pada Juni 2022 masih di bawah 3 persen.

"Bank Indonesia membuat keputusan suku bunga berdasarkan assessment dan perkiraan inflasi ke depan dengan mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi," tutur Perry.

Lebih lanjut, menurut dia, kenaikan suku bunga The Fed tak bisa disamakan dengan kondisi ekonomi Indonesia. "Jadi mohon jangan dipersepsikan kalau Fed Fund Rate naik, BI Rate naik. Karena pengaruhnya, melalui kenaikan US treasury yield dan perbandingannya dengan yield SBN rupiah," pungkas dia. (*)

Editor: Yunike Purnama
Yunike Purnama

Yunike Purnama

Lihat semua artikel

RELATED NEWS