LPS
Penulis:Yunike Purnama

BANDAR LAMPUNG – Ribuan peserta yang didominasi generasi muda memadati venue Lampung Financial Festival (LFF) 2026 di Ballroom Novotel Lampung, Sabtu (5/9). Antusiasme peserta bahkan terlihat sejak pagi, sekitar pukul 07.00 WIB, meski rangkaian acara baru dimulai pada pukul 09.00 WIB.
Peserta datang dari berbagai SMA, SMK, hingga perguruan tinggi di Lampung. Mereka mengikuti festival yang mengusung misi memperkuat literasi dan inklusi keuangan, khususnya di kalangan generasi muda.
LFF 2026 menjadi penyelenggaraan keempat festival literasi keuangan yang digelar Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Sebelumnya, kegiatan serupa digelar di Medan, Surabaya, dan Yogyakarta.
Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS Farid Azhar Nasution mengatakan, Lampung Financial Festival bukanlah kegiatan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari upaya memperluas literasi dan inklusi keuangan di berbagai daerah.
“Lampung Financial Festival bukan kegiatan yang berdiri sendiri. Tahun ini, semangat yang sama telah hadir di Yogyakarta melalui Yogyakarta Financial Festival di bulan Mei-2026, dan kini kita membawanya ke Lampung.”
Menurut Farid, tujuan utama kegiatan tersebut adalah membumikan literasi dan inklusi keuangan dari satu provinsi ke provinsi lainnya. Pendekatan yang digunakan juga disesuaikan dengan karakter masing-masing daerah, mulai dari kampus, sekolah, desa, hingga pesantren.
Farid menjelaskan, Lampung dipilih bukan hanya karena provinsi tersebut merupakan pintu gerbang Pulau Sumatera. Data juga menunjukkan masih terdapat ruang untuk memperkuat pemanfaatan layanan keuangan secara aman dan produktif.
Berdasarkan SNLIK 2026 yang baru dirilis OJK, LPS, dan BPS, indeks inklusi keuangan Lampung berada di angka 90,9 persen, masih di bawah rata-rata nasional sebesar 93,6 persen.
Sementara itu, tingkat literasi keuangan Lampung justru mencapai 72,3 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang berada di angka 69,6 persen.
“Kalau disederhanakan, masyarakat Lampung sudah cukup tahu, tetapi belum sepenuhnya menggunakan,” kata Farid.
Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi salah satu alasan penting mengapa edukasi mengenai pemanfaatan layanan keuangan perlu terus diperkuat.
Di hadapan ribuan peserta yang mayoritas merupakan generasi muda, Farid juga menyampaikan sejumlah pesan mengenai pentingnya membangun kebiasaan finansial sejak dini.
Pertama, generasi muda diminta membiasakan diri menyisihkan uang, bukan menyisakan uang.
“Prioritaskan menabung sejak kita terima uang,” pesannya.
Kedua, Farid mengingatkan agar generasi muda membedakan kebutuhan dan keinginan dalam berbelanja.
Menurut dia, perkembangan teknologi, termasuk algoritma dan artificial intelligence (AI), membuat seseorang semakin mudah terdorong untuk membeli sesuatu berdasarkan apa yang disukai.
“Jangan biarkan teknologi mengendalikan keputusan keuangan kita. Kita yang harus tetap memegang kendali,” tegasnya.
Pesan ketiga, kata Farid, adalah membangun “tabungan” yang tidak berwujud, yakni karakter, ilmu, dan relasi.
Ia menyebut karakter sebagai bagian dari spiritual capital, ilmu sebagai human capital, dan relasi yang sehat sebagai social capital.
“Ketiganya adalah aset yang nilainya akan terus mengikuti kita sepanjang hidup,” ujarnya.
Farid optimistis Indonesia memiliki masa depan selama generasi mudanya mampu berpikir cerdas, menjaga integritas, memanfaatkan teknologi untuk kebaikan, dan tetap menghargai budaya bangsa.
Apresiasi terhadap pelaksanaan LFF 2026 juga disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, yang turut hadir dalam pembukaan festival.
Zulkifli menilai kegiatan tersebut penting untuk memberikan pengetahuan sekaligus motivasi kepada generasi muda mengenai pengelolaan keuangan.
“Saya kira acara ini bagus sekali sehingga bisa memberikan motivasi dan pengetahuan kepada anak-anak muda kita, kalau bisa tiap provinsi bikin ya,” kata Zulkifli.
Menurutnya, pemahaman mengenai keuangan merupakan salah satu bekal penting bagi generasi muda untuk meraih kesuksesan.
“Finansial itu harus direncanakan. Tanpa bisa menghitung, tanpa bisa merencanakan itu sulit untuk sukses,” ujarnya.
Lampung Financial Festival 2026 berlangsung selama dua hari, yakni Sabtu (5/9) hingga Minggu (6/9).
Sejumlah tokoh nasional turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya COO BPI Danantara Dony Oskaria, Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni Rafi Ahmad, Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu, Chairman CT Corp Chaerul Tanjung, Gubernur Lampung Rahmat Marzuni, serta Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha.
Festival juga diramaikan berbagai pelaku industri keuangan melalui booth edukatif dan interaktif. Perbankan, pasar modal, asuransi, fintech, hingga sektor jasa keuangan lainnya hadir memberikan pengalaman langsung kepada masyarakat untuk mengenal produk dan layanan keuangan.
Selain industri keuangan, pelaku UMKM juga ambil bagian dalam festival. Kehadiran mereka menjadi representasi kekuatan ekonomi masyarakat sekaligus ruang untuk memperkenalkan potensi usaha lokal Lampung.
Tak hanya edukasi, LFF 2026 juga menawarkan hiburan bagi para pengunjung. Sejumlah artis dan figur publik dijadwalkan meramaikan festival, di antaranya komika Marshel Widianto, penyanyi Nassar, dan Charly Setia Band.
Dengan memadukan edukasi, industri keuangan, UMKM, serta hiburan, LFF 2026 diharapkan menjadi ruang interaktif bagi masyarakat, terutama generasi muda, untuk semakin memahami pentingnya mengelola keuangan secara bijak sekaligus memanfaatkan layanan keuangan secara aman dan produktif.(*)