Perusahaan Gas Negara Optimalkan Moda Transportasi Gas Bumi untuk Pemerataan Akses

2021-10-15T09:33:55.000Z

Penulis:Redaksi

Editor:Eva Pardiana

IMG-20210503-WA0007.jpg
Ilustrasi. (Dok. PGN)

JAKARTA – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) sebagai Subholding Gas Pertamina terus berupaya menyediakan gas bumi yang merata di seluruh wilayah Indonesia. Oleh karena itu, PGN melakukan utilisasi dan monetisasi Liquid Natural Gas (LNG) melalui regasifikasi pembangkit listrik maupun sektor potensial lainnya yang lokasinya tersebar di berbagai daerah.

Sesuai mandat dari pemerintah melalui Kepmen 13/2020, PGN bekerjasama dengan PLN untuk melaksanakan program regasifikasi pembangkit listrik di 56 lokasi, sebelumnya di 52 lokasi. Terdapat 32 lokasi Tahap 1 (update dari PLN) yang siap untuk dilakukan program gasifikasi, tersebar di Kalimantan Barat, Nusa Tenggara, Papua, Maluku, dan Sulawesi. Demand gas untuk 32 lokasi tersebut sekitar 79 BBTUD dan akan dipenuhi dengan LNG/Gas.

Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN, Heru Setiawan menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi dalam utilisasi LNG terletak pada pemilihan skema logistik dan penggunaan eknologi yang paling kompetitif. Namun tetap mengutamakan keandalan, keamanan, dan harga yang affordable untuk menciptakan efisiensi pada supply chain.

“Untuk menciptakan efisiensi pada supply chain, kita membagi 32 lokasi tersebut menjadi 5 (lima) cluster yakni Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara. Kemudian kita juga mengidentifikasi sumber gas stranded yang akan dipakai. Untuk Papua melalhi LNG Tangguh dan Sorong. Lalu Ambon yang terdekat dari gas Sorong ataupun Ambon itu sendiri. Untuk Kalimantan akan di-supply dari Bontang atau Tangguh,” jelas Heru dalam acara Korea-Indonesia Offshore Congress 2021 (KIOC) pada Rabu, 13 Oktober 2021.

Skema logistik untuk program Kepmen 13 diproyeksikan melalui jalur laut dan/atau jalur darat. Melalui jalur laut, LNG dari LNG Plant/ Storage dipindahkan LNG Transportation untuk dibawa ke Jetty. Dari jetty, LNG akan dipindahkan ke LNG Storage Tank di masing-masing lokasi untuk ditransformasikan oleh unit regasifikasi dan kemudian diukur oleh Gas Metering System ke pembangkit listrik PLN.

“Spirit kami adalah menyalurkan gas bumi dengan tetap mengutamakan keandalan, keamanan, dan efisiensi,” imbuh Heru.

Heru melanjutkan bahwa tidak hanya program gasifikasi pembangkit listrik, Mini LNG Supply Chain dapat menjadi opsi alternatif dalam upaya utilisasi LNG. Dengan cara ini, LNG akan dapat diutilisasi dan didistribusikan ke berbagai daerah melalui berbagai skema sesuai dengan kondisi supply dan demand masing-masing wilayah.

“Salah satunya menggunakan kereta api sebagai moda transportasi distribusi LNG. Sehubungan dengan program Subholding Gas yakni city gas, maka salah satu opsi yang akan dilakukan adalah menggunakan kereta api untuk membawa isotank LNG ke kota-kota besar di Indonesia,” ujar Heru.

Dalam perjalannya, PGN terus bersinergi dengan pemerintah daerah. Sinergi tersebut diharapkan dapat menciptakan multiplier effect yang berkelanjutan bagi daerah dalam memonetisasi gas bumi. Pengembangan Mini LNG Plants dapat mendorong pemerataan infrastruktur gas di daerah setempat. Selain itu, diharapkan dapat meningkatkan pendapatan daerah, penyerapan tenaga kerja, dan transfer knowledge ke SDM lokal, serta potensi peningkatan industri perikanan dengan membangun cold storage di sekitar lokasi LNG storage.

Heru menambahkan, kunci keberhasilan dalam utilisasi LNG ada dua yakni fleksibilitas sumber dan fleksibilitas infrastruktur. Fleksibilitas sumber memanfaatkan sumber LNG terdekat menghasilkan biaya logistik yang paling optimal. Sedangkan fleksibilitas infrastruktur berarti fleksibel dalam pemilihan infrastruktur kilang LNG, rantai pasokan LNG, serta ragasifikasi (on shore atau platform) untuk mendapatkan optimalisasi biaya infrastruktur dan waktu konstruksi.