Musrenbang Lampung 2026 Bahas Strategi Pertumbuhan Berkualitas

2026-04-13T20:09:11.000Z

Penulis:Eva Pardiana

musrenbang prov lampung.jpeg
Talk show bertema “Akselerasi Pertumbuhan Berkualitas melalui Produktivitas, Investasi, dan Industri Berbasis Potensi Daerah” dalam rangkaian Musrenbang Provinsi Lampung 2026, pada Senin (13/4/2026).

BANDAR LAMPUNG — Dalam rangkaian Musrenbang Provinsi Lampung 2026, digelar talk show bertema “Akselerasi Pertumbuhan Berkualitas melalui Produktivitas, Investasi, dan Industri Berbasis Potensi Daerah” pada Senin (13/4/2026). Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS), serta akademisi Universitas Lampung.

Perwakilan Bank Indonesia, Bimo Epyanto, menyampaikan bahwa kinerja ekonomi Lampung saat ini menunjukkan tren positif.

“Kita bisa memiliki optimisme terhadap kondisi perekonomian Provinsi Lampung karena pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen, didukung oleh sektor pertanian yang tumbuh mendekati 6 persen,” ujarnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan ke depan tidak ringan. Menurutnya, untuk menjaga pertumbuhan tetap di atas 5 persen dengan basis ekonomi yang sudah tinggi, dibutuhkan upaya ekstra, terutama dalam peningkatan produktivitas dan penguatan sektor utama.

Bimo juga menyoroti potensi risiko eksternal yang perlu diantisipasi, seperti gangguan rantai pasok global dan kenaikan harga komoditas yang dapat memicu tekanan inflasi serta kelangkaan barang tertentu di dalam negeri.

Sementara itu, Kepala BPS Provinsi Lampung, Ahmadriswan Nasution, menekankan pentingnya peran data dalam pembangunan. Ia menegaskan bahwa seluruh tahapan pembangunan harus berbasis data, mulai dari perencanaan hingga evaluasi.

Menurutnya, data tidak hanya berfungsi sebagai pencatatan, tetapi juga sebagai panduan dalam perumusan kebijakan agar pembangunan tepat sasaran, akseleratif, dan berdampak.

Ahmadriswan juga menyoroti tantangan inklusivitas pembangunan di Lampung. Ia menyebut masih terdapat daerah dengan pertumbuhan ekonomi tinggi, namun tingkat kemiskinan atau pengangguran juga tinggi, yang menunjukkan pertumbuhan belum sepenuhnya inklusif.

Pada kesempatan tersebut, ia turut menyampaikan rencana pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 oleh BPS yang akan berlangsung pada Mei hingga Agustus. Ia mengajak seluruh pelaku usaha untuk berpartisipasi aktif dan memberikan data yang akurat.

Ia menegaskan bahwa partisipasi masyarakat sangat penting untuk menghasilkan data berkualitas yang menjadi dasar penyusunan kebijakan ekonomi yang tepat sasaran dan berdampak luas.

Dari sisi akademisi, Intan Fitri Meutia dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung menekankan pentingnya pendekatan strategis dalam kebijakan pembangunan. Ia menyampaikan bahwa kebijakan harus selaras dengan data, birokrasi harus lincah, dan pembangunan harus berkelanjutan.

Menurutnya, kebijakan juga harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat, terutama dalam penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan.

Diskusi ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan berkualitas. Melalui forum ini, diharapkan arah kebijakan pembangunan Provinsi Lampung semakin terarah, inklusif, dan berkelanjutan. (*)